RADARSEMARANG.ID - Muhammad Choiron, 31, warga Tanggungrejo, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang memiliki kisah yang cukup kelam dalam hidupnya.
Sempat terjerembab ke dalam Lembah hitam, ia akhirnya mendapat hidayah. Bertaubat lalu mendirikan pengajian untuk Kaum Marjinal di kampungnya.
Hidup memang tidak bisa ditebak. Itulah yang dialami Mohammad Choiron. Ia dulu merupakan anak pesantren di di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Asy-Syifaa' Kajen, Pekalongan tahun 2008.
Kemudian 2013, Choiron ia memilih untuk boyong dari pondok.
Namun, gurunya KH Kholil Ridwan menegurnya, "nopo kesusu balik, iseh akeh perkara sing durung bar (mengapa terburu-buru pulang, masih banyak perkara yang harus diselesaikan, red).
Tetapi karena masih usia remaja, Choiron tetap ndablek pulang. Namun ia dibekali ilmu, yakni setiap setelah salat lima waktu harus membaca ayat kursi tiga kali.
Setelah pulang, hanya beberapa bulan, Choiron terjerumus pergaulan bebas dengan teman-temannya. Selama empat tahun atau 2013 sampai 2016.
Tawuran, nongkrong tidak jelas dan bahkan sempat terjebak dengan minuman keras. Bersama teman-temannya ia hidup tanpa tujuan, tanpa aturan.
Pada 2016, hati Choiron bergejolak, karena kesepian. Lantas, ia bilang ke ibunya untuk pulang lagi ke ponpesnya.
"Saya pulang ke ponpes lagi, karena sudah dimpeni guru selama tiga hari berturut-turut, ditemui kyai. Hari Selasa siang waktu itu saya berangkat ke Pekalongan, saya ternganga setelah sampai Kiyai saya tidak kaget, bahkan menegur saya, lha ngono, dikandani gurune manut," jelasnya.
Dari situlah, dimulai pembelajaran lagi. Choiron berniat menggali ilmu lebih dalam lagi, berjalan pada 2017 - 2019. "Lebaran pulang 10 hari, kyai dawuh disuruh pulang, ada yang menunggu," jelasnya.
Choiron pulang ke rumah. Tak disangka, setahun kemudian, banyak yang mau mengaji ke Choiron.
Awalnya, Choiron bingung mau mengajari yang bagaimana. Karena pernah bergaul bersama. Bahkan, takut jika tidak kondusif.
"Banyak yang marjinal, komplet, bau alkohol juga ada, setengah sadar banyak, bismillah, kok ndilalah manut. Sehingga, saya menemukan jawaban oh ini yang ditunggu," jelasnya.
Tak lama berselang, Choiron sowan ke ponpes lagi. Dirinya menerima nasihat untuk ditambah istighosah dan salawat.
"Karena istighosah ini untuk melunakkan hati, apalagi lingkungannya seperti itu, sehingga mereka nyaman dengan Tuhan," jelasnya.
Diputuskan setiap malam Senin digelar istighosah keliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Setiap malam Jumat di rumah Choiron.
"Hampir dua tahun istighosah, Gus Rosy datang ditambah mengaji kitab sampai sekarang," jelasnya.
Dengan proses berbeda-beda, para kaum marjinal ini diterima dan dirangkul untuk berhijrah. "Saat ini kurang lebih 20 jamaah, rata-rata dari kalangan yang hitam, Alhamdulillah, ada perubahan di kampung ini," ujarnya. (fgr/bas)
Editor : Baskoro Septiadi