SEMARANG, Radar Semarang-Nuansa religiusitas di SMP Islam Terpadu (IT) PAPB Semarang saat ramadan cukup kental.
Seluruh siswa suka cita dan antusias mengikuti pesantren ramadan. Mereka banyak belajar tentang kepemimpinan, keteladanan, fiqih, tajwid, hingga sastra arab pegon.
Kamis sore (4/4) suasana halaman sekolah SMP IT PAPB terasa sejuk. Para siswa disibukkan dengan kegiatan keagamaan sembari menunggu berbuka puasa.
Baca Juga: SMP Islam Terpadu PAPB Semarang, Melek Teknologi Tanpa Meninggalkan Sikap Islami
Baca Juga: Lima Siswa SMP IT PAPB Raih Medali Emas dan Perak di Kompetisi Science Internasional
Mereka mengisi waktu tersebut dengan mengaji dan kultum. Ini merupakan hari terakhir mereka menyelesaikan kegiatan pesantren Ramadan.
Ketua Panitia Pesantren Ramadan Zuli Zutiono mengungkapkan, kegiatan tersebut merupakan rutinitas tahunan siswa SMP IT PAPB Semarang.
Hal itu dilakukan untuk memuliakan dan mengisi bulan suci ramadan. Sekaligus, membekali para siswa dengan ketrampilan khusus.
"Yang laki-laki latihan jadi imam, bilal, adzan, memimpin dzikir, doa, dan sebagainya. Tak terkecuali juga perempuan agar mereka selalu menjadi teladan terhadap sesama," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Baca Juga: Sejahterakan Guru Madin, TPQ dan Pondok Pesantren
Pesantren ramadan dilaksanakan mulai 30 Maret hingga 5 April 2024. Dibagi menjadi dua gelombang dengan dipisah antara laki-laki dan perempuan.
Mereka berkesempatan mabit di sekolah selama empat hari tiga malam.
"Di sisi lain, kita juga berikan pemahaman tentang zakat karena kita juga ada program penghimpunan zakat, infaq, dan sedekah yang akan dibagikan di 12 pesantren dan panti asuhan," jelas Zuli.
Sementara itu, Seksi Kegiatan Miftahudin mengungkapkan, setidaknya ada 145 santri putra dan 180 santri putri.
Mereka terbagi dalam kelas Ula, Wustho, dan Ulya. Menariknya kelas yang paling atas (Ulya) punya kewajiban memberi pendampingan terhadap kelas dibawahnya (Ula dan Wustho).
Mulai dari kultum, menjadi imam, pendampingan belajar, dan seluruh kegiatan saat pesantren ramadan.
Baca Juga: Contoh Kultum Akhir Ramadhan dengan Tema Keutamaan Ibadah Sunah di 10 Hari Terakhir Berpuasa
"Mereka belajar tentang fiqih dan tajwid sementara kelas Ulya kita bekali belajar sastra arab pegon. Kita ingin tanamkan budaya pesantren itu adalah mengaji kitab kuning," jelas Miftahudin.
Setelah selesai melaksanakan pesantren ramadan, akan diakhiri dengan uji kompetensi. Yakni menguji pelajaran yang sudah diajarkan saat pesantren ramadan.
Gunanya, untuk mengukur seberapa keberhasilan tutor sebaya dalam mentransfer ilmu kepada kelas dibawahnya.(mia)