Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Nyumet Dung, Tradisi Sambut Waktu Berbuka dengan Arak-arakkan dan Kembang Api di Masjid Agung Kauman Semarang

Radar Semarang • Selasa, 26 Maret 2024 | 22:53 WIB
NGABUBURIT: Para pemuda sekitar Masjid Agung Kauman menggelar tradisi nyumet dung dengan arak-arakkan dan menyalakan kembang api. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NGABUBURIT: Para pemuda sekitar Masjid Agung Kauman menggelar tradisi nyumet dung dengan arak-arakkan dan menyalakan kembang api. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, MASJID Agung Kauman Semarang memiliki cara unik menghibur warga saat Ramadan.

Yakni menggelar arak-arakkan dan menyulut kembang api setiap jelang waktu berbuka puasa.

Kegiatan tersebut sebagai upaya warga sekitar Masjid Kauman menghidupkan tradisi Nyumet Dung yang pernah tenar di era 1890 an silam.

Baca Juga: Mimbar Masjid Kauman Jadi Tempat Pertama Siarkan Proklamasi Kemerdakaan RI di Semarang

Dimana setiap jelang berbuka puasa membunyikan dung yang berasal dari letusan bubuk mesiu petasan.

Ketua panitia Nyumet Dung, Muhaimin menyebut, pihaknya mengganti suara dung dengan menyalakan sirine dan kembang api. Hal itu lantaran, bubuk mesiu petasan dilarang pemerintah dan kepolisian.

Muhaimin menceritakan, setiap sore ada pasukan arak-arakan. Mereka beranggotakan tim pembawa tombak, pembawa kembang api, bedug, Warak Ngendok dan tim rebana.

Mereka berangkat dari depan masjid tengah ke Alun-alun Kauman Semarang.

Adapun penyalaan kembang api dilakukan di sisi barat alun-alun Kauman. Yakni setelah sirine buka puasa dari masjid dibunyikan.

“Prosesi dimulai 15 menit sebelum maghrib, iringan sudah berjalan ke arah alun-alun. Baru kemudian saat sirine bunyi, kembang api dinyalakan sebelum azan maghrib," tuturnya.

Ketua Yayasan Masjid Agung Semarang, Khammad Ma'sum menjelaskan, kegiatan ini menjadi bagian untuk melestarikan tradisi yang telah lama hilang.

Meskipun tidak ada suara dung, tapi kembang api bisa menggantikan kemeriahan jelang waktu berbuka puasa.

“Sebab kalau meniru aslinya memakai bubuk mesiu untuk bom udara, sangat repot. Karena harus izin Densus 88, Mabes Polri dan masih banyak lagi," katanya. (fgr/bud)

Editor : Tasropi
#Densus 88 #Masjid Kauman #Nyumet Dung