Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kultum Ramadan: Toleransi dalam Menghargai Perbedaan Jumlah Rakaat Tarawih

Uswatun Khasanah • Sabtu, 16 Maret 2024 | 02:15 WIB

Ilustrasi penasaran jumlah rakaat tarawih
Ilustrasi penasaran jumlah rakaat tarawih

RADARSEMARANG.ID – Berikut contoh kultum Ramadan tentang toleransi dalam menyikapi perbedaan.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Innal hamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh, wana’udzu billahi min syururi anfusina, wamin sayyiaati a’maalinaa, mayyahdihillahu falaa mudhilla lah, wamayyudhlil falaa haadiya lah.

Asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, wa asyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh.

Allahumma shalli wasallim wabarik ’ala sayyidina muhammadin wa’ala alihi washahbihi ajm’in. amma ba’du.

Baca Juga: 30 Tema Kultum dan Ceramah Ramadan yang Menarik dan Cocok Disampaikan Kepada Jamaah Tarawih

Hadirin jamaah tarawih yang dirahmati Allah.

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan kultum toleransi dalam menyikapi perbedaan.

Perbedaan adalah hal wajar yang sering kita jumpai, berbeda jumlah rakaat tarawih, contohnya.

Jika kita bertemu tetangga, lalu ada yang nanya, “Jumlah rakaat di masjidmu berapa?” Kemudian ada yang jawab 8 rakaat dan sebagiannya lagi jawab 20 rakaat.

Nah, dari sini muncul ejekan satu sama lain. Contohnya begini, “Lah, tarawih kok sukanya diskonan!” Kemudian yang biasanya salat 8 rakaat jawab balik, “Lah daripada antum salat tarawih 20 rakaat tapi kilatan, wlee!”

Yang ngga tarawih gimana? Diam aja, hanya nontonin mereka.

Alhasil, keduanya tak sadar saling ejek-mengejek. Wah, jangan sampai yang begini terjadi di antara kita.

Padahal, berapa pun jumlah tarawih yang kita kerjakan, baik 8 maupun 10, bukankah keduanya tidak ada yang salah?

Jawabannya, benar.

Baca Juga: Kultum Ramadan: Salat Tarawih Penting Nggak Sih?

Berdasarkan pendapat 4 Imam madzhab, Imam Hanafi, Imam Syafii, dan Imam Hambali berpendapat bahwa tarawih dilakukan 20 rakaat. Sedangkan, Imam Malik membolehkan salat tarawih 8 rakaat.

Meskipun berbeda, masing-masing mereka memiliki rasionalisasi dan alasan yang berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sesama muslim sudah semestinya kita saling toleran terhadap perbedaan jumlah rakaat tarawih.

Yang biasanya tarawih 8 rakaat ya tidak apa. Yang 20 rakaat ya syukur alhamdulillah.

Nah, yang terakhir, yang malam ini tidak atau belum bisa berangkat tarawih kita doakan semoga besok lekas tarawihan. Aamiin.

Hadirin jamaah tarawih yang dirahmati Allah.

Demikian kultum tentang toleransi dalam menyikapi perbedaan. Semoga keberkahan, keselamatam, dan kedamaian meyertai kita semua.

Ramadan bulan kamulyan. Monggo kita hidup rukun seduluran.

Sekian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kesalahan.

Billahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Editor : Baskoro Septiadi
#Kultum #rakaat salat tarawih #kultum ramadan