Sekitar 30 kg beras yang setara denga 350 porsi bubur diolah dengan tungku kayu bakar. Adonan bubur itu terus diaduk secara teratur dan merata. Ia berkejar waktu antara nyala api dari kayu serta waktu yang mendekati berbuka puasa.
"Masaknya harus pakai kayu bakar karena tingkat kematangan lebih merata dan citarasanya tidak cepat hilang," kata Ali Baharun kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Bubur India ini sedikit berbeda dari bubur biasanya, teksturnya lebih encer namun kaya akan rempah-rempah. Ada kayu manis, jahe, laos, serai dan ditambah potongan sayuran seperti seledri dan wortel. Menu kuliner ini merupakan warisan tradisi moyang Ali yang berasal dari Suku Koja di Wilayah Gujarat, India.
Setelah bubur matang, cara penyajiannya pun unik. Ada sekitar 200-300 mangkuk plastik berwarna-warni diisi dengan bubur India. Sore kemarin, bubur India ditambah sayur jipan dan telur rebus.
Mangkuk-mangkuk plastik itu lalu ditata sejajar di serambi masjid. Menjelang waktu berbuka, para jamaah, warga sekitar, para musafir dan kaum dhuafa, akan berkumpul menjadi satu. Saling menghadap pada mangkuk bubur yang telah ditata itu.
Ada juga warga yang minta bubur India untuk dibawa pulang sebelum dibagi ke dalam mangkuk-mangkuk. Meski pandemi Covid-19, antusiasme warga untuk datang ke Masjid Pekojan menikmati bubur India tidak turun. (mim/aro)
Editor : Nur Chamim