RADARSEMARANG.ID - Dengan citarasa yang khas, Kopi berhasil menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang digemari hampir seluruh orang.
Sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia, Indonesia tentunya kaya akan berbagai jenis kopi-kopian yang sudah dikembangkan sejak dahulu kala.
Salah satu yang menarik perhatian adalah jenis kopi Jawa Tengah bernama Kopi Nangka. Asalnya kopi jenis ini dari Boyolali dan juga kerap disebut masyarakat lokal sebagai Barendro.
Selain kopi, wilayah Banyuanyar ini juga terkenal dengan hasil komoditas warga lainnya seperti jahe dan susu sapi lokal.
Keunikan Citarasa Kopi Nangka Banyuanyar
Kopi Nangka ini merupakan varietas jenis kopi Robusta/Liberika yang tumbuh subur di sekitaran lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.
Kondisi geografis yang berada di kaki gunung Merbabu dengan ketinggian 420 MDPL membuat wilayah ini secara agroklimat cocok sesuai dalam bidang pertanian dan perkebunan bagi berbagai jenis tanaman.
Meskipun Boyolali lebih dikenal masyarakat sebagai kota penghasil susu sapi, namun justru potensi lain yang sangat besar lahir dari bidang kopi.
Di Banyuanyar sendiri, dari total 333,9 hektare lahan pertanian, 44,33 hektare merupakan kebun kopi. Kopi yang ditanam di wilayah ini sangat beragam yakni Kopi Robusta, Arabika dan Kopi Nangka.
Sejak masa kolonial, daerah ini memang sudah digunakan oleh pemerintah sebagai daerah pertanian. Bahkan konon, kopi nangka adalah salah satu peninggalan Belanda yang kini menjadi ciri khas Boyolali.
Awalnya, kopi jenis ini diperkenalkan ke masyarakat Boyolali oleh Belanda pada tahun 1810. Keunikan yang membedakan varietas Liberika (Kopi Nangka) dari kopi-kopi lainnya adalah biji dari kopi nangka dapat dijadikan minuman.
Penggunaan kata nangka dalam kopi nangka dikarenakan saat diseduh, kopi jenis ini mengeluarkan aroma yang sangat mirip dengan buah nangka.
Baca Juga: Apakah Aman Minum Kopi Setiap Hari? Simak Penjelasannya
Sedangkan masyarakat lokal lebih mengenal kopi ini dengan nama Barendro yang merupakan singkatan dari kata "Lebare Londo" atau berarti selepas Belanda, merujuk dari awal kopi ini yang dibawa oleh orang-orang Belanda.
Citarasa yang manis dan asam menurut masyarakat sekitar tercipta secara alami. Bahkan, tanpa tambahan gula sekalipun, Kopi Nangka disebut lebih manis dari kopi jenis lainnya.
Karena keunikan inilah masyarakat Banyuanyar menciptakan sebuah wadah yang menaungi para petani kopi lokal dalam KAMPUS (Kampung Kopi dan Susu) Banyuanyar yakni sentra ekonomi mandiri berbentuk desa wisata.
Para petani yang awalnya hanya menjual kopi-kopi mereka ke pasar sekitar dengan harga murah kini merasakan peningkatan ekonomi karena harga kopi nangka yang lebih layak dari sebelumnya.
Source: Provinsi Jawa Tengah, Universitas Diponegoro, Kampus (Kampung Kopi dan Susu) Banyuanyar.
Editor : Baskoro Septiadi