RADARSEMARANG.ID, BOYOLALI - Terjadi fenomena alam yang cukup langka yaitu embun membeku Gunung Merbabu.
Penampakan yang terlihat ini merupakan kali pertama terjadi setelah kurang lebih 7 tahun atau sejak 2016 silam.
Embun-embun yang menempel di dedaunan pada rerumputan membeku menjadi kristal es.
Fenomena tersebut diabadikan oleh salah satu akun media sosial.
Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) menyebut, embun beku tersebut terjadi karena cuaca dingin dengan suhu di bawah 5 derajat celcius.
Fenomena langka itu diunggah oleh akun instagram @merbabuviasuwanting sekira 1 Agustus.
Ada dua gambar foto dan satu video yang memperlihatkan embun beku menempel di rerumputan.
Foto dan video embun beku tersebut lantas diunggah kembali oleh akun resmi Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, btn_gn_merbabu Rabu (2/4/2023) pagi.
"Fenomena langka terjadi di pos 3 merbabu via suwanting. Embun pagi di dedaunan berubah menjadi kristal es, semua itu diakibatkan karena cuaca suhu yang ekstrem."
"Ini biasanya terjadi di puncaknya musim kemarau sekitar bulan agustus. Gimana guys ada yang pernah ngalami?" tulis BTNGMb dalam unggahan tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BTNGMb, Nurpana Sulaksono, mengatakan, embun beku itu baru terpantau terjadi di Pos 3 Jalur Suwanting, di Kabupaten Magelang.
Embun yang membeku merupakan fenomena alam yang dianggap lumrah di gunung.
Namun, untuk Merbabu, fenomena embun beku tahun ini menjadi kali pertama sejak lebih dari lima tahun terakhir. Embun beku tersebut pernah terjadi di Merbabu pada 2014-2016 silam.
"Itu fenomena alam, kadang terjadi kadang tidak. Jadi memang wilayah Selo, Suwanting itu memang karena iklim, kondisi cuaca, kondisi geogragisnya, lokasinya berpengaruh," terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (2/8/2023).
"Kalau seperti itu (rmbun beku) sudah di bawah 5 derajat celcius, seperti 3 atau 4 derajat celcius," sambungnya.
Embun beku pagi hari di Gunung Merbabu tersebut terjadi pada dua hari lalu, atau 31 Juli. Suhu cuaca dan kondisi Merbabu memang cukup dingin.
Sejak 2016 silam, fenomena itu, kembali terulang lagi tahun ini. Dia berpesan, dicuaca yang cukup dingin ini, pendaki diminta menyiapkan sedini mungkin. Terkait peralatan yang dibawa.
"Fenomena ini pertama setelah lebih dari lima tahun. Kemungkinan terakhir 2014-2016. Untuk para pendaki imbauanya tetap selalu mematuhi standar operasional prosedur (SOP)."
"Membawa baju hangat, jaket speeping bag, tenda, dan memakai sepatu, dan juga tidak melakukan aktivitas yang dilarang seperti membuat api unggun, menebang pohon," pesannya. (rgl)
Editor : Agus AP