RADARSEMARANG.ID, Boyolali —Pusat Penelitian Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Joyo Tentrem Kabupaten Boyolali menerapkan sistem pertanian organik tanpa sampah (zero waste organic farm). Sistem ini menjadi solusi nyata mengingat besarnya produksi sampah di Indonesia yang mencapai 144.562 ton perhari, diantaranya sampah bersumber dari rumah tangga dan pertanian.
“Jadi sampah dari pertanian dan rumah tangga seperti sisa sayuran atau buah, kotoran ternak, sisa panen dan jerami, itu kita olah menjadi kompos organik untuk menyuburkan tanah, vermikompos sebagai pupuk alami berkualitas dan kita produksi biogas sebagai energi bersih untuk memasak di rumah tangga,” papar Ketua P4S Joyo Tentrem Wisnu Wijaya Adi Putra.
Untuk sampah plastik, lanjut Wisnu, P4S Joyo Tentrem mengolahnya menggunakan mesin pirolisis hingga menjadi aneka material bermanfaat, seperti bahan bakar minyak, bensin dan solar. “Dengan teknologi tepat guna, sampah pun menjadi sumber daya yang multiguna. Kita berharap para petani pun bisa makin sejahtera,” ungkapnya.
Konsep pertanian tanpa sampah ini juga disampaikan Wisnu Wijaya dalam diskusi daring Selayang Pandang P4S Indonesia, Selasa (3/11/2026), bertema “P4S sebagai penggerak pertanian presisi dan regeneratif menuju kedaulatan pangan dan keberlanjutan ekosistem”. Zoom meeting yang diinisiasi oleh Pusat Pelatihan Pertanian milik Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian itu juga menghadirkan narasumber lain Ketua P4S Bara Hidro Farm Kota Bandung Jawa Barat Kartib Bayu serta Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares.
Wisnu mencontohkan manfaat ekonomis pengolahan vermikompos bagi kesejahteraan petani. Vermikompos adalah pupuk alami berkualitas tinggi yang dihasilkan dari kotoran cacing yang mengonsumsi kotoran hewan. Kotoran cacing inilah yang disebut vermikompos.
Jika dalam sehari seekor sapi mengeluarkan kotoran hewan (kohe) ± 20 kilogram maka sebulan terkumpul 600 kg dan setahun 7,2 ton. “Dengan asumsi penyusutan kohe 30% dan harga vermikompos Rp 1.000/kg, maka setahun bisa diperoleh Rp 7,2 juta per ekor sapi atau setiap bulan Rp 600 ribu per ekor sapi. Ini baru industri vermikomposnya, belum cacingnya,” tuturnya.
Dia menerangkan, perkembangan cacing yang dihasilkan dari satu ekor sapi dalam kurun waktu satu bulan itu mencapai 100 kg cacing, dari indukan cacing ditebar di 40 kg per hamparan. Jika harga cacing Rp 20 ribu/kg maka potensi usaha cacing sekitar Rp 2 juta/bulan atau Rp 24 juta/tahun.
“Jadi total potensi pendapatan dari vermikompos dan cacing sebesar Rp 2,6 juta per bulan atau Rp 30 juta per tahun per ekor sapi. Jika dikelola dengan manajemen cash flow yang baik maka bisa buat menutup upah tenaga dan pakan sapi,” jelas mantan anggota DPR RI periode 2019-2024 itu.
Dengan demikian, terang Wisnu, penerapan zero waste organic farms akan bermanfaat nyata dalam mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir, menyuburkan tanah dengan pupuk organik, menjaga lingkungan lebih hijau, menghasilkan produk bernilai ekonomi dan mendukung pertanian berkelanjutan.
“Sebagai pengelola P4S, kami berharap P4S bisa menginisiasi tumbuhnya pertanian presisi berbasis teknologi dan pertanian regeneratif serta restorasi ekosistem. Harapannya bisa meningkatkan produktivitas dan nilai tambah bagi petani, menciptakan kedaulatan pangan serta keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang,” harapnya.[]
Editor : Miftahul A’la