RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sekitar 60 persen truk di Indonesia sudah tua, usianya lebih dari 20 tahun. Kondisi tersebut membuat biaya perawatan kendaraan membengkak. Selain itu juga meningkatkan risiko keselamatan di jalan, mulai dari rem blong hingga bahaya lainnya.
Hal yang sama juga terjadi di Tanjung Emas. Dari total 1000 truk, 60 persennya juga perlu peremajaan. Artinya ada sekitar 600 truk di Tanjung Emas yang seharusnya sudah tak layak jalan, karena usianya lebih dari 20 tahun. Sebab itu Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mendorong agar pengusaha segera melakukan peremajaan.
"Yang jelas 60 persen disampaikan tadi truknya sudah istilahnya di atas 20 tahun. Otomatis dengan kondisi yang sudah tua tentunya resiko keselamatan dan juga biaya maintenance-nya itu menjadi tinggi," ujar Ketua DPC Tanjung Emas Supriyono, saat ditemui dalam Musda III DPD Aptrindo Jateng serta Rakercab DPC Aptrindo Tanjung Emas di Hotel Patra, Rabu (14/10) malam.
Menurutnya kondisi tersebut mendorong para pengusaha untuk memperbarui armada. Salah satunya melalui kegiatan Truk Expo 2026 yang mempertemukan pengusaha dengan produsen kendaraan niaga.
"Sehingga kita mendorong untuk para pengusaha juga bisa memperbaharui ataupun meremajakan armadanya. Salah satunya dengan kita mengadakan Truk Expo," katanya.
Supriyono menyebut, truk tua juga kerap mengalami penurunan performa. Bahkan, kendaraan harus bekerja lebih keras ketika melintas di jalan menanjak.
"Sehingga seperti tadi disampaikan bahwa kondisi truk (tua) di jalan-jalan itu selama ini kan istilahnya jalannya aja ngos-ngosan, apalagi di tanjakan," ungkapnya.
Sementara Ketua Umum DPP Aptrindo, Gemilang Tarigan, mengatakan kondisi armada tua tidak hanya terjadi di Tanjung Emas. Secara nasional, sekitar 60 persen truk juga telah berusia tua.
"Di tahun 2026 ini data truk yang ada di Indonesia, 60 persen itu sudah tua. Jadi ini sebetulnya dalam rangka peremajaan," katanya.
Menurutnya usia truk bahkan ada yang mencapai 40 tahun. Padahal, masa operasional ideal truk maksimal 20 tahun. Kendati demikian, biaya menjadi kendala utama pengusaha. Harga kepala truk baru berkisar Rp800 juta hingga Rp1,2 miliar. Pembelian secara tunai dinilai sulit, sedangkan cicilan juga cukup berat.
"Jadi kesulitannya itu untuk membayar, membeli kalau cash sudah pasti enggak punya duit. Kalau ngutang ya cicilannya itu yang berat," kata Gemilang.
Ketua DPD Aptrindo Jawa Tengah dan DIY, Bambang Widjanarko, mengatakan peremajaan menjadi salah satu perhatian organisasi. Aptrindo mendorong pengusaha memanfaatkan kegiatan pameran untuk mengenal armada baru yang tersedia. Seperti yang ada pada kegiatan Aptrindo Truk Expo 2026.
"Lima tahun kami mengadakan acara musda untuk mengadakan pemilihan ketua, dalam acara kali ini kami selenggarakan dengan judul jawTruk Expo 2026 karena banyak sponsor dari truk-truk yang berminat," ujarnya.
Disisi lain kini Jawa Tengah menjadi salah satu pasar potensial bagi produsen kendaraan niaga. Besarnya kontribusi pasar di wilayah ini mendorong sejumlah produsen memperluas pemasaran, terutama untuk memenuhi kebutuhan sektor logistik dan angkutan barang. Mereka pun hadir dalam Aptrindo Truk Expo 2026.
Marketing Lancarjaya Nusantara Enjinering, Denny Liyadi, menilai Jawa Tengah memiliki porsi besar dalam pasar truk di Pulau Jawa.
“Kalau untuk market di Indonesia, Pulau Jawa sendiri, Jawa Tengah itu mungkin memakan market-nya 40 persen. Kontribusinya besar sekali,” kata Denny.
Peluang tersebut juga dimanfaatkan MC Group Semarang dengan memperkenalkan Shacman H3000S 4x2 untuk kebutuhan angkutan jalan raya. Marketing MC Group Semarang, Arifin, mengatakan kendaraan tersebut dirancang untuk mendukung operasional logistik, termasuk di wilayah dengan medan beragam dan jalur menanjak seperti Jawa Tengah.
Perusahaan juga menyediakan layanan purnajual berupa servis dan suku cadang. Dukungan teknis disiapkan untuk membantu pelanggan ketika kendaraan mengalami kendala operasional.
Sementara itu, Direktur Bisnis Suku Cadang PT Mas Automobil Sejahtera (PT MAS), Tandri Sutarno, mengatakan perusahaan yang menjadi dealer dan distributor resmi kendaraan komersial Sinotruk tersebut mulai berfokus pada pasar kargo dan logistik dalam dua tahun terakhir.
Editor : Miftahul A’la