Grebeg Subali Krapyak, Gunungan Gemblong Bakar Jadi Simbol Perekat Warga

Adennyar Wicaksono • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 18:43 WIB
Gunungan Gemblong Bakar, diperebutkan warga usai dikirab dalam acara Grebek Subali, Minggu (27/9)
Gunungan Gemblong Bakar, diperebutkan warga usai dikirab dalam acara Grebek Subali, Minggu (27/9)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Lima gunungan diarak dalam acara kirab budaya Grebeg Subali di Kelurahan Krapyak, Minggu (27/9) petang. Tiga gunungan merupakan hasil bumi, lalu dua gunungan merupakan gemblong bakar atau biasa disebut jadah.

Adapun gunung hasil bumi sebagai simbol warga Kelurahan Krapyak yang sejahtera, sementara Gemblong Bakar memiliki simbol kerekatan antar warga ditengah perubahan jaman.

Kirab dibuka dengan sesosok kera berwana merah yakni Subali, yang memimpin empat wanita dengan membawa batik yang sudah dijamas. Lalu disusul gunungan sayur hingga gunungan gemblong bakar yang diarak bersama warga.

Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab Pertandingan Persiku Kudus vs PSIS Semarang Batal Digelar

"Yang unik ditahun ini adalah adanya dua Gunungan Gemblong Bakar yang punya simbol khusus dari acara ini," kata sesepuh RW 4 Kelurahan Krapyak, Tri Subsekso, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (27/9).

Dia menerangkan, Gunungan Gemblong Bakar memiliki simbol tersendiri. Gemblong yang dibuat dari ketan memiliki sifat lengket dan dimaknai sebagai harapan agar warga Krapyak tetap melekat sebagai satu keluarga.

"Kenapa gemblong? Gemblong itu jadah, terbuat dari ketan. Ketan itu lengket. Ini melambangkan bahwa kita ingin tetap lengket sebagai bagian dari keluarga besar Kelurahan Krapyak," jelasnya.

Sementara itu, proses pembakaran pada gemblong dimaknai sebagai gambaran tempaan yang harus dilalui warga. Tantangan kehidupan diharapkan justru membuat masyarakat semakin matang dan mampu menjaga persaudaraan.

"Tantangannya jaman kita ibaratkan pembakaran, ini yang membuat warga lebih matang dan lebih mengeratkan persaudaraan sebagai warga Krapyak," ujarnya.

Dia menerangkan, jika tokoh Subali dalam kirab tahun ini masih menjadi bagian dari konsep utama, yakni respons kebudayaan terhadap wilayah tempat sebagian warga Kelurahan Krapyak dan sejarah kampung yang ada.

Sebelumnya Grebek Subali, diinisiasi pada 2012 di Kampung Subali. Kemudian dilanjutkan pada 2016 dan terakhir sebelum Covid, pada 2019, terlaksana. 

"Ini sebagai bagian dari kesadaran sejarah kami akan wilayah kami yang bernama Jalan Subali, baik Subali Raya maupun yang lainnya," bebernya.

Dari sejarah yang ada, Kelurahan Krapyak memiliki sejumlah nama wilayah yang berkaitan dengan tokoh wanara atau kera dalam cerita pewayangan. 

Selain Subali, terdapat nama Hanoman, Sugriwa, dan Hanilo. Ada pula nama-nama wilayah yang mengambil penamaan berdasarkan pawukon atau tempat singgah seperti Jalan Mandasia, Watugunung, Kurantil, Julungwangi, dan Galungan.

"Karena itu, Grebeg Subali menjadi ruang bagi warga untuk kembali mendalami asal-usul penamaan wilayah sekaligus menyadari keberadaan mereka sebagai satu keluarga besar di Kelurahan Krapyak," tambah dia.

Selain itu, Kampung Subali di RT 2/RW 4 merupakan salah satu kawasan perkampungan tertua di Krapyak. Bahkan, sejak sekitar 1800-an pada masa Perang Diponegoro, kawasan tersebut disebut telah dihuni dan terdapat rumah-rumah yang hingga kini berada di wilayah tersebut.

Jejak kampung itu juga terlihat dalam peta 1908. Saat itu, sejumlah deretan rumah telah berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Siliwangi atau jalur yang dahulu merupakan bagian dari Jalan Daendels.

"Sejarahnya cukup panjang sebagai satu kampung. Kita belajar bagaimana tetap mempertahankan kita sebagai bagian dari kampung kota yang ada di Semarang untuk menghadapi segala tantangan yang ada," pungkas dia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan pelaksanaan Grebeg Subali 2026 berlangsung meriah dengan dukungan masyarakat. Rangkaian kegiatan selama tiga hari itu tidak hanya berupa kirab, tetapi juga workshop dan pertunjukan wayang. 

"Pastinya Disbudpar ingin kebudayaan itu tumbuh tidak hanya di tingkat pemerintah kota, tetapi masyarakat," jelasnya.

Iin sapaannya, berharap kegiatan tersebut dapat terus dilestarikan dan kembali digelar pada 2027 dengan kegiatan yang lebih beragam.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena tradisi yang tumbuh dari warga memiliki peluang untuk terus bertahan, terlebih dalam kegiatan tahun ini peserta berasal dari berbagai generasi.

"Nilai-nilai tradisi yang dilestarikan harapannya tidak hanya dari kami, tetapi masyarakatnya ikut bergerak, terutama generasi muda. Kalau kita lihat bersama, mulai dari generasi muda sampai senior pun ada semua," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
grebeg Subali Semarang Barat Krapyak Kirab Budaya