Putus Rantai Kemiskinan Lewat Sekolah Kemitraan, Luthfi Raih Anugerah Jawa Pos Radar Semarang

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 05:30 WIB
Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi (kiri) memberikan penghargaan kepada Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dalam acara Puncak Anugerah Jawa Pos Radar Semarang.
Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi (kiri) memberikan penghargaan kepada Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dalam acara Puncak Anugerah Jawa Pos Radar Semarang.

 

RADARSEMARANG.ID - Pendidikan menjadi salah satu jalan yang ditempuh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem. Salah satunya lewat Program Sekolah Kemitraan yang kini telah menggandeng 139 sekolah swasta di Jawa Tengah.

Dari gagasan tersebut, Luthfi menerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2026 kategori Kepala Daerah Penggagas Program Sekolah Kemitraan. Penghargaan diberikan langsung Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi di Hotel Patra Jasa Semarang, Jumat (25/9) malam.

Pihaknya mengatakan, program tersebut digagas untuk mengurangi kemiskinan dari sektor pendidikan. Sasarannya ialah anak dari keluarga kurang mampu. Dengan demikian mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa memikirkan biaya.

"Sekolah kemitraan ini memang kita gagas dan mungkin baru satu-satunya di Indonesia bagaimana kita mereduksi angka kemiskinan dari sekolah," kata Luthfi.

Ia menjelaskan pada 2026, Pemprov Jateng menganggarkan pendidikan bagi sekitar 5.004 anak miskin dan menggandeng 139 sekolah swasta. Setiap siswa akan mendapatkan Rp 2 juta per tahun. Jika seluruh target terepenuhi anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 10 miliar.

"Bagi mereka yang miskin ekstrem, yang putus sekolah, hari ini kita 2026 kita anggarkan 5.000 anak-anak miskin ini kita sekolahkan. Kita tempelkan di 139 sekolah swasta," imbuhnya.

Bantuan yang diberikan tidak sebatas biaya sekolah. Kebutuhan siswa, mulai dari pakaian hingga perlengkapan pendidikan, ikut dipenuhi.

"Di antaranya (bantuan) adalah pakaiannya kita bantu, SPP-nya kita bantu, dari ujung rambut ujung kaki mereka terpenuhi sehingga anak-anak yang miskin ekstrem yang putus sekolah bisa sekolah kembali," ujarnya.

Luthfi ingin anak-anak di Jateng tidak kembali berhenti sekolah setelah lulus SMP. Karena itu, pendidikan vokasi menjadi bagian penting dari program tersebut. Harapannya, setelah lulus mereka memiliki keterampilan dan bisa masuk ke dunia kerja.

"(Sekolah Kemitraan)nUntuk memberikan suatu kebiasaan masyarakat kita, agar jangan sampai lulus SMP tidak sekolah atau (langsung) kerja, apalagi nganggur. Sehingga sekolah vokasi terkait dengan miskin ekstrem menjadi prioritas utama, sehingga diharapkan setelah sekolah dia bisa kerja," jelasnya.

Program Sekolah Kemitraan pun tidak berhenti di 139 sekolah. Luthfi menyebut program tersebut akan diperluas dengan memanfaatkan sekolah-sekolah vokasi yang ada di Jateng.

"Akan kita tambah lagi (sekolah kemitraan). Di tempat kita itu kan banyak sekolah vokasi. Sekolah vokasi ada 1.562, sehingga mereka siap kerja. Kita tempelkan di perusahaan," tegasnya.

Saat menerima penghargaan, Luthfi mengatakan piagam dan piala bukanlah tujuan akhir. Menurutnya, penghargaan justru harus menjadi pemacu pemerintah untuk terus membuat program yang dirasakan masyarakat.

"Piagam piala yang diberikan oleh Jawa Pos atau Radar Semarang ini adalah bagaimana kita bisa merubah dan bermanfaat bagi piala itu untuk masyarakat," ungkapnya.

Luthfi menegaskan, pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menekan kemiskinan ekstrem. Menurutnya, kemiskinan tidak cukup ditangani hanya dengan bantuan sesaat. Kebutuhan dasar masyarakat harus dipenuhi secara bersama-sama, termasuk pendidikan dan kesehatan.

"Sehingga mereka tidak miskin ekstrem. Jadi karakter miskin ekstrem itu adalah bagaimana landasan hidupnya sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan harus terpenuhi lima hal ini yang menjadi konsen kita (Pemprov Jateng)," pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
GUBERNUR JATENG sekolah kemitraan Ahmad Luthfi sekolah swasta JAWA TENGAH