BMKG Keluarkan Peringatan Hujan Lebat 18–21 September 2026, Wilayah Ini Perlu Waspada

Deka Yusuf Afandi • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:16 WIB
BMKG mengingatkan potensi hujan lebat 18–21 September 2026. Simak daftar wilayah yang perlu waspada terhadap hujan lebat hingga sangat lebat..FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
BMKG mengingatkan potensi hujan lebat 18–21 September 2026. Simak daftar wilayah yang perlu waspada terhadap hujan lebat hingga sangat lebat..FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

 

RADARSEMARANG.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada 18–21 September 2026. Peringatan ini muncul di tengah kondisi sebagian besar wilayah Indonesia yang masih didominasi musim kemarau dan pengaruh El Niño sangat kuat.

Dalam prakiraan cuaca terbaru yang diperbarui pada 17 September 2026 pukul 19.00 WIB, BMKG menyebut hujan masih berpeluang terjadi secara lokal di sejumlah wilayah Indonesia.

Bahkan, pada beberapa daerah terdapat potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang. Untuk periode 18–20 September 2026,  BMKG memperkirakan peningkatan hujan

dengan intensitas sedang di Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Yang perlu mendapat perhatian lebih adalah wilayah yang masuk kategori siaga. BMKG mencatat potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada periode tersebut di Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kondisi hujan tersebut juga berpotensi disertai petir dan angin kencang sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.

Data potensi cuaca ekstrem BMKG untuk 18 September juga menunjukkan Jawa Barat berada dalam kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Sementara itu, Sumatera Utara juga masuk kategori siaga pada 18 September, sedangkan sejumlah provinsi lain berada pada kategori waspada hujan sedang hingga lebat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan terbebas dari hujan. BMKG menjelaskan, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih dapat terjadi secara lokal karena dinamika atmosfer yang aktif di sejumlah wilayah.

Baca Juga: Daftar Lengkap 30 Pemain Persikad Depok di Championship 2026/2027, Minim Nama Besar tapi Memimpin Klasemen

Dalam analisis BMKG, Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di sekitar Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat. Sementara Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di Kalimantan bagian timur,

pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara. Kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah yang terdampak.

Selain gelombang atmosfer, BMKG juga memantau adanya potensi sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan. Kondisi tersebut dapat memicu daerah perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah wilayah.

Jika diperkuat labilitas lokal yang cukup kuat, proses pengangkatan massa udara dapat menjadi lebih optimal sehingga meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.

Untuk periode 21–24 September 2026, BMKG masih memperkirakan peningkatan hujan dengan intensitas sedang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Pada periode 21–24 September, wilayah Papua Tengah menjadi perhatian karena masuk kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Selain itu, potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

Artinya, masyarakat yang berada di wilayah tersebut perlu memperhatikan perubahan cuaca, khususnya ketika awan mulai tumbuh dengan cepat dan kondisi angin berubah.

Hujan lebat dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko genangan, pohon tumbang, gangguan perjalanan, hingga longsor di wilayah dengan kondisi geografis yang rentan.

BMKG juga mengingatkan bahwa potensi hujan pada periode ini berlangsung ketika sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kondisi atmosfer yang relatif kering. Fenomena El Niño kategori sangat kuat masih memberikan pengaruh terhadap kondisi atmosfer Indonesia.

BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, dengan periode lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.

Kondisi tersebut antara lain terjadi di sebagian wilayah Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, serta Papua Selatan.

Di sisi lain, kondisi kering tersebut juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran kabut asap. BMKG mencatat berdasarkan pemantauan satelit pada 7–16 September 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak ditemukan di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua Selatan.

Dengan kondisi cuaca yang bisa berubah cepat, masyarakat tidak disarankan hanya mengandalkan kondisi cuaca pada pagi hari untuk menentukan aktivitas sepanjang hari.

Pemantauan prakiraan terbaru menjadi penting, terutama bagi warga yang hendak bepergian jauh, berkendara menggunakan sepeda motor, bekerja di luar ruangan, atau tinggal di wilayah yang rawan banjir dan longsor.

Baca Juga: Persipura Jayapura di Championship 2026/2027: Jadwal Lengkap Mutiara Hitam, Lawan Persis hingga PSBS

Bagi pengendara, hujan deras yang muncul secara tiba-tiba juga dapat menurunkan jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin. Jika hujan disertai petir dan angin kencang, perjalanan sebaiknya dilakukan dengan lebih berhati-hati dan menghindari lokasi terbuka maupun area yang berdekatan dengan pohon besar atau papan reklame.

Masyarakat di wilayah pegunungan juga perlu memperhatikan potensi longsor ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Sementara warga yang tinggal di kawasan perkotaan perlu mengantisipasi genangan apabila hujan deras terjadi dalam waktu singkat.

BMKG menegaskan bahwa kondisi cuaca yang diprakirakan tersebut bersifat dinamis dan dapat mengalami perubahan. Karena itu, informasi prakiraan cuaca sebaiknya diperbarui secara berkala, terutama ketika akan melakukan perjalanan atau aktivitas penting.

BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial resmi @infobmkg. Langkah tersebut penting agar masyarakat dapat memperoleh informasi terbaru apabila terjadi perubahan potensi cuaca di wilayah masing-masing.

Dengan demikian, periode 18–21 September 2026 bukan berarti seluruh Indonesia akan diguyur hujan lebat secara terus-menerus. Potensi hujan bersifat lokal dan berbeda antardaerah. Namun, beberapa wilayah memiliki tingkat kewaspadaan lebih tinggi, khususnya daerah yang masuk kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat.

Bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Papua Tengah, informasi peringatan dini BMKG patut menjadi perhatian. Sementara wilayah lain yang masuk kategori waspada juga tetap perlu mengantisipasi hujan sedang hingga lebat, petir, angin kencang, genangan, dan dampak turunannya.

Perubahan cuaca di tengah musim kemarau menjadi pengingat bahwa kondisi atmosfer Indonesia tetap dinamis. Karena itu, masyarakat perlu mengutamakan informasi resmi dan terbaru daripada hanya berpatokan pada kondisi cuaca yang terlihat di satu lokasi.(dka)

Editor : Baskoro Septiadi
hujan lebat September 2026 prakiraan cuaca BMKG September 2026 peringatan BMKG 18 September 2026 cuaca 18 September 2026 cuaca 19 September 2026