RADARSEMARANG.ID, Semarang – Masyarakat Jawa Tengah diminta tidak panik menyikapi kabar abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah memasuki wilayah Jateng. Hingga 7 September 2026, belum terdapat indikasi deposisi abu vulkanik gunung tersebut di wilayah Jawa Tengah.
Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang Harits Syahid Hakim mengatakan, hasil pengamatan langsung menggunakan paper test menunjukkan hasil negatif. Pengujian dilakukan di Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Stasiun Meteorologi Kelas II Tunggul Wulung Cilacap, serta Stasiun Meteorologi Maritim Kelas III Tegal.
"Sampai 7 September, belum terindikasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memasuki wilayah Jawa Tengah," katanya.
Menurutnya, munculnya debu di sejumlah kabupaten/kota di Jateng tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sebab, saat ini Jawa Tengah tengah menghadapi musim kemarau yang relatif kering.
Baca Juga: Kemarau Semarang Bisa Berlanjut hingga Oktober, Suhu Tembus 35 Derajat Celsius, BMKG Bilang Begini
Bahkan, sekitar 24 wilayah berada dalam status awas dengan hari tanpa hujan lebih dari 61 hari. Kondisi permukaan tanah yang kering membuat material debu lebih mudah terangkat oleh angin maupun aktivitas manusia.
"Jadi debu yang ditemukan di lingkungan masyarakat lebih memungkinkan berasal dari kondisi permukaan yang kering dan tidak serta-merta merupakan abu vulkanik," jelasnya.
Indikasi tidak masuknya abu vulkanik juga diperkuat hasil pemantauan kualitas udara di wilayah Semarang. Parameter partikulat SPM (Suspended Particulate Matter) dan PM2.5 tidak menunjukkan perubahan signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator pendukung bahwa belum terdapat indikasi kuat masuknya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke wilayah Semarang.
Berdasarkan Peta Satelit Himawari-9 VA dan Peta Trajektori Sebaran Abu Vulkanik dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin pada 7 September, abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat daya menuju Samudera Hindia.
Arah pergerakan tersebut justru menjauhi wilayah Jawa Tengah. Analisis prakiraan angin pada lapisan sekitar 3.000 feet juga menunjukkan angin secara umum bergerak dari sektor timur menuju barat.
Dengan kondisi tersebut, material yang berada di lapisan atmosfer cenderung terbawa ke arah barat dan tidak mengarah menuju Jawa Tengah. Meski demikian, BMKG tetap melakukan pemantauan karena kondisi atmosfer bersifat dinamis dan arah maupun kecepatan angin dapat berubah.
Harits juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan interpretasi sendiri terhadap informasi sebaran abu vulkanik berdasarkan peta angin dari aplikasi pihak ketiga.
Baca Juga: Sepanjang 2026 Jateng Catat 600 Kejadian Kebakaran, Mayoritas Disebabkan Human Error
Peta angin, kata dia, hanya menunjukkan pola arah dan kecepatan angin. Informasi tersebut tidak secara langsung menunjukkan keberadaan, konsentrasi, maupun jalur sebaran abu vulkanik.
Untuk mengetahui sebaran abu vulkanik diperlukan analisis berbagai parameter atmosfer serta data pendukung lainnya. Karena itu, masyarakat diminta merujuk informasi dari saluran resmi pemerintah, terutama BMKG, PVMBG/Badan Geologi, serta instansi terkait.
"Jangan langsung melakukan interpretasi sendiri dari peta angin. Informasi sebaran abu vulkanik membutuhkan analisis berbagai parameter atmosfer," tegasnya.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi atmosfer akan terus dilakukan.
Hingga 7 September 2026, berdasarkan hasil pengamatan lapangan, pemantauan kualitas udara, analisis kondisi atmosfer, dan trajektori abu vulkanik, belum terindikasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memasuki wilayah Jawa Tengah. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi