RADARSEMARANG.ID - Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini menimpa 777 siswa dan tenaga pendidik SMAN 1 Lasem, Rembang. Mereka mengalami mual, muntah, dan pusing setelah menerima MBG sehari sebelumnya.
Ketua PGRI Jateng Muhdi menyesalkan kejadian tersebut. Terlebih, kasus keracunan MBG juga terjadi di sejumlah daerah, termasuk Sidoarjo dan Semarang.
“Saya sangat prihatin dan menyesalkan masih terus terjadinya musibah keracunan masal yang diduga karena MBG dan yang baru saja terjadi kemaren Kamis 3 September, terhadap 752 Siswa dan 25 guru setelah sebelumnya baeu saja juga terjadi di Sidoarjo, Semarang, dan lain-lain,” kata Muhdi, Jumat (4/9).
Baca Juga: Kasus Orang Hilang di Bergas Terungkap, Kerangka Ditemukan di Lereng Tol Jangli
Anggota Komite III DPD RI Dapil Jateng itu mengatakan berdasarkan informasi kepala sekolah, SMAN 1 Lasem menerima MBG pada Rabu (2/9) pukul 12.00.
Menu yang diberikan berupa nasi, ayam bakar, sambal teri, dan lalapan. Sehari setelahnya, sebanyak 752 siswa dan 25 tenaga pendidik mengalami gejala keracunan hingga harus mendapat penanganan di Puskesmas Lasem.
Lalu hingga Jumat (4/9), sembilan siswa masih dirawat di Puskesmas Lasem. Sementara 209 siswa belum masuk sekolah dengan surat izin sakit.
Muhdi mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya menghentikan sementara atau penuh operasional SPPG yang diduga bermasalah.
Menurutnya, harus ada investigasi menyeluruh untuk memastikan kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Kepala BGN tidak cukup melakukan perbaikan kebijakan dengan terus terjadi kasus keracunan, menghentikan (sementara/penuh) SPPG yang bersangkuta, tetapi memastikan tidak terjadi keracunan dengan langkah-langkah yang pasti,” tegasnya.
Ia meminta investigasi mencakup waktu distribusi, bahan masakan, tempat atau dapur, hingga kemungkinan adanya pihak yang sengaja menyebabkan kejadian tersebut.
“Kalau perlu pendekatan hukum, saatnya dilakukan agar tidak terus terjadi korban. Yang pasti jangan ada lagi korban keracunan MBG kalau progam MBG akan terus dilakukan. Cukup sudah korban keracunan MBG bagi siswa dan guru,” ujarnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi