PLN Peduli Menyalakan Harapan Penyandang Disabilitas dengan Batik Ciprat Karya Barokah

Tri Waluyoningsih • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 20:37 WIB
Kegiatan membatik dengan teknik batik ciprat oleh penyandang disabilitas anggota Batik Ciprat Karya Barokah
Kegiatan membatik dengan teknik batik ciprat oleh penyandang disabilitas anggota Batik Ciprat Karya Barokah

RADARSEMARANG.ID, WONOGIRI - Kemerdekaan Indonesia hadir melalui PLN Peduli dan menyalakan harapan dari tempat yang mungkin tak banyak dilihat orang, yakni di atas bentangan kain putih, tempat para penyandang disabilitas di Desa Pucung, Wonogiri, mencipratkan warna dan perlahan menuliskan kembali kisah hidup mereka.

Berawal dari selembar kain putih, warna-warna jatuh tanpa banyak aturan. Ada yang melebar, berbelok, bahkan tampak tak beraturan. Namun dari cipratan itu, perlahan lahir keindahan.

Begitulah kehidupan para penyandang disabilitas di Desa Pucung, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri. Melalui Batik Ciprat Karya Barokah, mereka mengubah keterbatasan menjadi karya, sekaligus membuktikan bahwa mereka bukan beban, melainkan manusia yang mampu dan berdaya.

Kisah itu bermula pada 2017. Saat itu, lebih dari 60 penyandang disabilitas di Pucung belum memiliki ruang untuk berkembang. Sebagian bahkan dipandang sebelah mata oleh masyarakat maupun keluarga.

“Kepala Desa Pucung melihat ada 60 lebih penyandang disabilitas yang pada waktu itu masih belum diberdayakan, masih dianggap beban,” tutur Yoyok Ernowo, Ketua Yayasan Batik Ciprat Karya Barokah.

Mereka kemudian mulai belajar membatik. Pada 2018, enam penyandang disabilitas mengikuti pelatihan selama dua hari dengan pendampingan guru SLB di Wonogiri. Dari sana, mereka belajar perlahan, bukan hanya tentang menciptakan motif, tetapi juga tentang percaya pada kemampuan diri sendiri.

Perjalanannya tidak mudah. Para pendamping pun harus belajar berkomunikasi dengan mereka. Sebagian anggota tidak bersekolah dan menggunakan bahasa isyarat yang berbeda.

“Kita belajar komunikasinya otodidak, apa adanya. Kita membaca apa yang disampaikan lewat isyarat tangan, kemudian ekspresi, dan sebagainya,” kata Yoyok.

Mereka belajar memahami satu sama lain, hari demi hari.

Dari enam orang, kelompok berkembang menjadi 23 anggota pada 2019. Kini, 10 orang masih aktif berkarya. Di tengah perjalanan, mereka juga pernah menghadapi keraguan dan tudingan dari masyarakat.

Namun mereka memilih tidak menyerah.

“Harus kita jawab dengan karya-karya, dengan kegiatan-kegiatan yang bisa membuktikan bahwa kegiatan ini memang sangat bermanfaat bagi teman-teman penyandang disabilitas,” ujar Yoyok.

Dan kain-kain itu akhirnya berbicara.

Perlahan, karya Batik Ciprat Karya Barokah dikenal lebih luas, membawa para anggotanya bertemu berbagai tokoh dan meraih sejumlah penghargaan di antaranya _Platinum Category_ pada _Indonesian CSR Award_ (ICA) 2024, _Gold Category Award_ pada _Indonesian SDGs Awards_ (ISDA) 2023 dan di Agustus 2026 berhasil menembus sebagai finalis penghargaan Padma Mitra Award.

Dalam proses perjalanan tersebut, PLN Peduli melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) senantiasa berkomitmen hadir memperkuat ruang tumbuh Batik Ciprat Karya Barokah sejak tahun 2022. Dukungan diberikan untuk sarana dan prasarana, workshop, ruang display, serta alat dan bahan produksi.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah, Bramantyo Anggun Pambudi, mengatakan pemberdayaan tidak cukup hanya dengan niat baik. Dibutuhkan ruang, fasilitas, pendampingan, akses, dan kesempatan.

“Untuk itulah PLN hadir memperkuat perjuangan Batik Ciprat Karya Barokah,” tuturnya.

Bagi para penyandang disabilitas Karya Barokah, dukungan itu bukan sekadar fasilitas melainkan sebuah kepercayaan, bahwa karya mereka layak dilihat, kemampuan mereka layak dihargai, dan masa depan mereka layak diperjuangkan.

Sebab di balik setiap cipratan warna, ada tangan yang mungkin pernah dianggap tak mampu. Ada seseorang yang pernah dipandang sebagai beban. Namun hari ini, tangan yang sama menghasilkan karya.

Tidak semua kehidupan dimulai dengan warna yang sempurna. Tetapi ketika diberi ruang dan kesempatan, bahkan cipratan yang paling sederhana pun dapat berubah menjadi sesuatu yang berarti.

Editor : Baskoro Septiadi
PLN Peduli