Belajar 5 Tahun, Erick Candra Si Dalang Cilik Hidupkan Wayang di Panggung PN Semarang

Ida Fadilah • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 15:39 WIB
Dalang Cilik Sanggar Monod Laras, Erick Candra Mahardika tampil dalam perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT Mahkamah Agung ke 81, kemarin. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Dalang Cilik Sanggar Monod Laras, Erick Candra Mahardika tampil dalam perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT Mahkamah Agung ke 81, kemarin. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 RADARSEMARANG.ID, Semarang - Jemari kecil Erick Candra Mahardika lincah memainkan wayang di balik kelir. Sesekali suaranya terdengar melantunkan dialog berbahasa Jawa, mengikuti alur cerita yang telah dipelajarinya di sanggar. Sebagai dalang, ia mengenakan kostum beskap. Penampilan itu turut dilakukan bersama iringan gamelan dari Sanggar Monod Laras.

Usianya baru 10 tahun. Namun, di hadapan penonton Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Erick tampil sebagai seorang dalang dalam perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT Mahkamah Agung ke 81, kemarin.

Didampingi Tantenya Setiani, Erick membawakan pagelaran wayang kulit selama sekitar 35 menit. Bagi Erick, panggung di PN Semarang menjadi pengalaman tersendiri karena untuk pertama kalinya ia tampil mendalang di lingkungan pengadilan.

Tidak terlihat banyak keraguan dari dalang cilik yang merupakan siswa kelas 4 SDN Sarirejo Kartini, Semarang tersebut. Ia menjawab singkat ketika ditanya tentang kesulitan selama mendalang.

"Enggak ada kesulitan," kata Erick.

Jawaban sederhana itu tidak datang begitu saja. Ada lima tahun proses latihan yang telah dilalui Erick sejak mengenal dunia pedalangan.

Erick belajar mendalang di Sanggar Monod Laras. Setiap Minggu, ia mengikuti latihan bersama anak-anak lainnya.

Setiani mengatakan, di sanggar, keponakannya itu dalam mempelajari dunia pedalangan dikenalkan secara bertahap. Anak-anak tidak langsung diminta tampil. Mereka terlebih dahulu belajar membaca naskah, memahami notasi dan iringan, berlatih sabetan atau gerakan wayang, hingga mengenal tembang.

Erick kini sudah berada pada tahap yang lebih lanjut. Ia mulai mampu menghafalkan dialog dan memahami karakter tokoh yang dimainkan.

Salah satu tokoh yang disukainya adalah Prabu Tugu Wasesa adalah salah satu gelar atau nama lain dari tokoh pewayangan Werkudara.

Kecintaannya terhadap wayang juga membuat Erick terbiasa dengan bahasa Jawa. Pasalnya ketika ia belajar di sanggar, diwajibkan menggunakan Bahasa Jawa Kromo. Bahkan, kemampuan tersebut menjadi bekal ketika mengikuti pelajaran bahasa Jawa di sekolah. 

"Kalau di sekolah justru jadi nilai plus. Bahasa Jawanya sudah punya bekal, termasuk aksara Jawa," ujar Setiani.

Panggung PN Semarang bukan satu-satunya tempat Erick menunjukkan kemampuannya.

Selama belajar mendalang, ia sudah beberapa kali mengikuti pertunjukan dan festival. Pengalamannya bahkan sampai ke luar Kota Semarang, salah satunya Solo.

Dalam waktu dekat, Erick juga telah memiliki agenda pertunjukan di Boyolali. Jadwal tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya mengenal dunia pedalangan.

Pengalaman tampil di depan publik perlahan membentuk keberaniannya. Rasa gugup tentu masih ada, tetapi panggung bukan lagi sesuatu yang asing bagi Erick.

Ia bahkan pernah mengikuti audisi pertunjukan hingga tingkat yang lebih luas. Meski belum berhasil menjadi pemenang, pengalaman itu justru menjadi bagian dari proses belajarnya.

Bagi Setiani, keputusan mendukung Erick belajar mendalang bukan semata soal mengejar prestasi. Ada hal lain yang ingin ditanamkan, yakni kecintaan terhadap budaya sekaligus pengalaman yang bisa menjadi bekal bagi anak ketika dewasa.

Di tengah anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, seni tradisional menjadi pilihan yang tidak selalu mudah. Karena itu, lanjutnya, ketika seorang anak memiliki ketertarikan terhadap kesenian, dukungan orang tua menjadi penting baginya. Bukan dengan memaksa, melainkan memberi ruang agar anak bisa menemukan minatnya sendiri.

"Selain menggali potensi, kami ingin dia punya pengalaman dan bekal budaya nanti ketika dewasa karena tidak semua anak memilih kesenian," kata Setiani.

Erick mengaku hanya berlatih pada hari Minggu. Dengan begitu, aktivitas mendalang tetap bisa berjalan tanpa mengganggu sekolah. Ia berkomitmen, menjadi dalang tidak membuat Erick meninggalkan dunia belajarnya.

Ia tetap mengikuti pelajaran di sekolah, mengerjakan tugas dan masih memiliki waktu bermain bersama teman-temannya.

Kemampuan Erick dalam bahasa Jawa menjadi salah satu bukti bahwa kegiatan mendalang justru bisa berjalan beriringan dengan pendidikan formal.

Di usianya yang masih 10 tahun, Erick kini berada di antara dua dunia. Pagi hingga siang ia menjadi siswa sekolah dasar. Di waktu lain, ia belajar menjadi dalang, mempelajari bahasa Jawa, karakter wayang, sabetan, tembang dan cerita-cerita pewayangan. (*)

Editor : Baskoro Septiadi
Wayang Kulit dalang Cilik dalang Sanggar Monod Laras