Desainer Jateng-DIY Adu Kreativitas Kebaya di Kota Lama Semarang

Muhammad Hariyanto • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 06:02 WIB
Kobarkan Semangat Perjuangan Perempuan Lewat Ajang Fatmawati Trophy
Kobarkan Semangat Perjuangan Perempuan Lewat Ajang Fatmawati Trophy

 

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Desainer Jawa Tengah dan DI Yogyakarta adu kreativitas busana kebaya di Kota Semarang. Selain menjaga dan melestarikan budaya, kompetisi ini juga mengenalkan kembali sosok Fatmawati kepada generasi muda.

Adu kreativitas tersebut, para desainer menampilkan karya terbaik dalam kompetisi Grand Final Fatmawati Trophy 2026 Regional VII, Semarang di Gedung Odetrap, Kota Lama, Jumat (14/8/2026) malam. 

Panitia Nasional Fatmawati Trophy, Bintang Puspayoga mengatakan, Fatmawati Trophy bukan hanya sekedar adu kreativitas busana, tetapi juga sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan kembali sosok Fatmawati, dan meneladani semangat nasionalisme, ketangguhan serta kesederhanaannya.

"Kita ingin menghadirkan sosok perempuan yang terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kita menginginkan khususnya perempuan-perempuan Indonesia bisa mewarisi api semangat perjuangan beliau, ketangguhan dan kesederhanaannya," ungkapnya.

Fatmawati merupakan salah satu sosok perempuan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan isteri salah satu Proklamator Kemerdekaan Indonesia sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno. 

Tangan perempuan ini juga yang menjahit Bendera Pusaka Merah Putih yang kemudian dikibarkan dalam upacara Proklamasi di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. 

 

"Beliau adalah penjahit bendera pusaka, ibu negara pertama," kata Bintang, perempuan politikus yang juga mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Perlindungan dan Anak. 

 

Sosok Fatmawati juga lekat dengan busana kebaya yang menjadi bagian dari identitas perempuan Indonesia pada zamannya. Kebaya, kain panjang, serta penutup kepala yang dikenakannya mencerminkan kesederhanaan sekaligus keanggunan. 

Melalui Fatmawati Trophy, nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam karya para desainer. Kompetisi tersebut, Para desainer juga ditantang mengembangkan kebaya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa Indonesia.

"Inovasi kebaya-kebaya yang disesuaikan dengan kekinian tapi menampilkan jati diri bangsa Indonesia, itu yang kita harapkan melalui Fatmawati Trophy ini," tegasnya.

Bintang menyebut, Fatmawati Trophy diinisiasi DPP PDI Perjuangan. Sedangkan dalam Grand Final tersebut mempertemukan enam peserta terbaik, terdiri atas tiga peserta dari Provinsi Jawa Tengah dan tiga peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Ini kegiatan pertama yang kita selenggarakan, saya melihat antusias teman-teman daerah itu luar biasa. Inovasi dan kreativitasnya luar biasa," katanya. 

Bintang juga memberikan apresiasi terhadap kreativitas para peserta. Menurutnya, karya yang ditampilkan dalam Regional VII memiliki kualitas dan inovasi yang sangat baik.

"Saya melihat luar biasa inovasi dan kreativitas kepada para desainer dengan karya-karyanya dari beberapa daerah, termasuk di Regional VII ini. Karya-karyanya top banget," ujarnya.

 

Menurutnya, Fatmawati Trophy digelar secara berjenjang. Tingkat provinsi, para peserta terlebih dahulu mengikuti seleksi melalui karya dalam bentuk sketsa, kemudian dipilih tiga karya terbaik untuk dikembangkan menjadi busana lengkap berupa kebaya dan kerudung.

 

"Untuk Jawa Tengah, kompetisi tingkat provinsi diikuti sebanyak 38 peserta. Setelah melalui proses seleksi, tiga peserta terbaik kemudian tampil mewakili Jawa Tengah di tingkat Regional VII bersama tiga peserta dari Yogyakarta," jelasnya. 

Pihaknya menilai, sistem berjenjang tersebut menjadi salah satu cara agar semangat Fatmawati tidak hanya dikenal di tingkat elite atau perkotaan, tetapi dapat diperkenalkan hingga akar rumput.

"Melalui Fatmawati Trophy ini kita harapkan dan mengingatkan bahwa kita punya sosok perempuan yang harus kita warisi semangat perjuangannya," pungkasnya. 

Editor : Miftahul A’la
kebaya Fatmawati