RADARSEMARANG.ID – Suasana SD Negeri Sarwadadi 03 Cilacap pagi itu berbeda dari biasanya. Puluhan siswa kelas 1 dan 2 tidak hanya belajar bersama guru, tetapi juga kedatangan tamu istimewa, yakni Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program ConGen Goes to School yang digelar Konsulat Jenderal Australia di Surabaya. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal Australia sekaligus belajar bahasa Inggris melalui cerita, gerakan, dan permainan yang menyenangkan.
Kepala SDN Sarwadadi 03 Cilacap, Lailatul Qodriyah, mengatakan sekolahnya mendapat kesempatan menjadi salah satu lokasi pelaksanaan ConGen Goes to School di Kabupaten Cilacap.
“Kegiatan ConGen Goes to School ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi sekolah kami karena bisa dikunjungi langsung oleh Konsul Jenderal Australia,” kata Laila.
SDN Sarwadadi 03 Cilacap juga memiliki rekam jejak dalam pengembangan praktik baik pembelajaran. Pada 2025, sekolah ini mendapatkan Penghargaan Sahabat Sekolah Dasar dari Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas konsistensi sekolah dalam menerapkan praktik baik pendidikan.
Setelah SDN Sarwadadi 03 ditetapkan sebagai lokasi kegiatan, pihak sekolah dan Konsulat Jenderal Australia melakukan koordinasi secara virtual untuk mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
Pada Rabu, 5 Agustus 2026, kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB. Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, datang bersama rombongan dan disambut di halaman sekolah. Kepala sekolah kemudian memperkenalkan Glen Askew kepada para siswa sebelum kegiatan utama dimulai.
Setelah penyambutan, para siswa memasuki ruangan yang telah disiapkan. Glen Askew kemudian mengajak anak-anak mengenal Australia melalui kegiatan bercerita dengan membacakan buku berjudul Somewhere in Australia.
Menurut Laila, buku tersebut memperkenalkan berbagai hewan khas Australia. Melalui cerita itu, anak-anak sekaligus diajak mengenal kosakata dan berhitung dalam bahasa Inggris.
“Di dalam buku diperkenalkan sepuluh hewan khas Australia. Dari halaman pertama sampai halaman terakhir, anak-anak juga diajak belajar berhitung,” ujarnya.
Metode membaca yang melibatkan interaksi aktif dengan siswa juga telah dikembangkan di SDN Sarwadadi 03. Laila, yang merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) Program PINTAR Tanoto Foundation, sebelumnya mendapatkan pelatihan mengenai kegiatan membaca untuk meningkatkan kemampuan literasi anak.
Pengalaman tersebut kemudian diterapkan dan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
“Sebagai Fasda, saya pernah mendapatkan pelatihan mengenai kegiatan membaca untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Praktik tersebut kemudian kami terapkan dan kembangkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah,” jelasnya.
Dalam sesi bersama Glen Askew, anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan cerita. Setiap kali satu hewan diperkenalkan, mereka diajak menyebutkan namanya dalam bahasa Inggris sekaligus menirukan gerakannya.
Ketika kanguru muncul dalam cerita, misalnya, anak-anak ikut melompat seperti kanguru. Saat burung kookaburra diperkenalkan, mereka pun bergerak menirukan burung tersebut.
“Anak-anak diajak berinteraksi, mengucapkan kosakata dalam bahasa Inggris, kemudian menirukan gerakan hewannya. Saat kanguru muncul, semuanya ikut melompat. Begitu juga ketika ada burung kookaburra atau pekakak asal Australia dan Papua yang dikenalkan, anak-anak ikut bergerak seperti burung. Suasananya sangat meriah,” tutur Laila.
Gelak tawa pun memenuhi ruangan. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap bagian cerita dan gerakan yang diperagakan bersama.
Setelah kegiatan bercerita selesai, Glen Askew memberikan kuis yang masih berkaitan dengan cerita yang baru saja dibacakan. Anak-anak ditantang menjawab pertanyaan menggunakan bahasa Inggris. Siswa yang berhasil menjawab mendapatkan hadiah berupa boneka kanguru.
“Anak-anak yang berhasil menjawab kuis mendapat boneka kanguru. Mereka terlihat sangat senang dan antusias menerima hadiah tersebut,” kata Laila.
Antusiasme anak-anak terlihat sepanjang kegiatan. Mereka menikmati kesempatan untuk belajar melalui cerita, bergerak bersama, dan berinteraksi langsung dengan tamu dari Australia. Pengalaman tersebut menghadirkan suasana belajar yang berbeda dari kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Sekitar pukul 09.30 WIB, seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Glen Askew menyerahkan plakat kepada pihak sekolah sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama dalam pelaksanaan ConGen Goes to School. Sebanyak 41 siswa kelas 1 dan 2 mengikuti kegiatan tersebut dengan aktif.
Bagi anak-anak, pagi itu bukan sekadar kesempatan bertemu dengan tamu dari Australia. Mereka mendapatkan pengalaman belajar bahasa Inggris dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak, yakni melalui cerita, gerakan, permainan, dan interaksi langsung.
Laila mengatakan pengalaman tersebut turut meningkatkan ketertarikan anak-anak untuk belajar bahasa Inggris. Bahkan, setelah kegiatan selesai, sejumlah siswa meminta agar mereka kembali mendapatkan kesempatan belajar bahasa Inggris di sekolah.
“Bagi anak-anak, kegiatan ini menumbuhkan minat mereka untuk belajar bahasa Inggris. Mereka menjadi semakin semangat untuk belajar,” ujarnya.
Menurut Laila, antusiasme tersebut juga terlihat pada siswa kelas 1 yang belum mendapatkan pembelajaran bahasa Inggris secara khusus. Pertemuan dan interaksi dengan Konsul Jenderal Australia membuat rasa ingin tahu mereka terhadap bahasa Inggris semakin tumbuh.
“Mereka bahkan meminta kepada pihak sekolah agar bisa terus belajar bahasa Inggris, baik melalui kegiatan pembiasaan maupun kegiatan kokurikuler,” katanya.
Sekolah pun berencana menindaklanjuti antusiasme tersebut melalui kegiatan pembiasaan bahasa Inggris yang dapat dilakukan secara sederhana dalam keseharian siswa. Dengan demikian, pengalaman belajar bersama Konsul Jenderal Australia tidak berhenti pada satu kali kunjungan, tetapi dapat menjadi pemantik bagi anak-anak untuk terus belajar serta mengenal bahasa dan budaya lain. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi