Salah satunya melalui permainan Ular Tangga Pintar yang diterapkan di SDN Sarwadadi 03 Cilacap. Permainan tersebut menjadi salah satu praktik baik yang dikembangkan sekolah untuk memperkuat literasi dan numerasi siswa.
Laila yang kini menjabat sebagai Kepala SDN Sarwadadi 03 Cilacap, merupakan fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation sejak 2019. Pengalaman selama bertahun-tahun mendampingi dan mendapatkan pelatihan dari Tanoto Foundation kemudian banyak diterapkannya dalam pengelolaan pembelajaran di sekolah.
"Banyak banget manfaat menjadi fasiliator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation, saya berkesempatan belajar bersama dari pembelajaran aktif, lalu menggunakan metode MIKiR. Jadi apapun kurikulumnya menuurt saya jika kita menerapkan MIKiR, kita bisa menjadikan pembelajaran mendalam dan bermakna," kata Laila.
Hasil dari proses tersebut adalah lahirnya berbagai media pembelajaran yang membuat siswa lebih aktif. Salah satunya ular Tangga Pintar. Bentuknya memang seperti permainan ular tangga pada umumnya. Ada papan permainan, dadu, pion, serta sejumlah kotak yang harus dilalui. Bedanya, setiap permainan disisipi pertanyaan yang disesuaikan dengan materi pembelajaran.
"Untuk memberikan fasilitas pada murid-murid dalam pembelajaran akif, akmi membuat media-media pembelajaran. Salah satunya ada ular tangga pintar," bebenrya.
Selain ular tangga pintar, sekolah juga mengembangkan media lain seperti Bus Kantor yakni bus kelipatan dan faktor. Pembelajaran juga diperkuat dengan berbagai proyek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Seperti market day hingga proyek tanaman nonpestisida menggunakan pupuk organik yang dibuat sendiri.
Laila menjelaskan ular tangga pintar menjadi salah satu media yang cukup efektif membuat anak-anak menantikan pembelajaran. Cara bermainnya sederhana. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Guru menyiapkan dadu, pion, papan ular tangga, serta kartu pertanyaan. Kelompok kemudian menentukan pemain pertama melalui hompimpa.
Dadu dilempar. Pion berjalan sesuai angka yang muncul. Setelah itu kelompok mendapatkan pertanyaan. Jika berhasil menjawab, mereka mendapat kesempatan melempar dadu kembali. Sebaliknya, jika tidak mampu menjawab, permainan berhenti dan giliran berpindah ke kelompok berikutnya.
"Ketika dadu dilempar, nanti kelompok itu akan maju ke depan dan mendapatkan pertanyaan. Kalau bisa menjawab mereka akan lempar lagi, tapi kalau tidak menjawab maka stop di situ, gantian kelompok berikutnya, seperti itu sampai selesai yang menang adalah yang mencapai angka paling banyak," ungkapnya.
Pertanyaan yang diberikan pun tidak sekadar hafalan. Guru dapat memasukkan soal isian singkat, penjelasan, hingga pertanyaan yang mengharuskan siswa mempraktikkan atau menjelaskan sebuah prosedur. Dengan pola tersebut, permainan bukan sekadar hiburan. Anak-anak tetap dituntut berpikir, menjelaskan ide, sekaligus memahami materi yang telah dipelajari.
Menariknya, Ular Tangga Pintar dapat digunakan untuk siswa kelas 1 hingga kelas 6. Materi pertanyaan tinggal disesuaikan dengan kemampuan masing-masing jenjang dan mata pelajaran.
“Jadi permainan ular tangga ini kita laksanakan setiap akhir lingkup materi misal kan mata pelajaran IPA untuk lingkup materi Tata Surya ya. Nah, sudah akhir lingkup materi, semuanya sudah selesai anak-anak memahami tentang Tata Surya. Nanti kita adakan tadi permainan ular tangga,” jelasnya.
Bahkan, media tersebut kini dikembangkan dalam ukuran yang lebih besar. Jika sebelumnya dibuat menggunakan banner berukuran sekitar 2 x 2 meter sehingga anak hanya menjalankan pion, kini pola ular tangga dibuat di halaman sekolah.
“Kalau sekarang kami membuat pola ular tangganya itu di di halaman, kita cat lantai di halaman sekolah, jadi lebar dan besar. Anak-anak pun bisa main sendiri sebagai pionnya," akunya.
Cara tersebut membuat permainan semakin interaktif. Anak tidak hanya menggerakkan pion, tetapi ikut bergerak dan melompat mengikuti angka dadu yang diperoleh.
Praktik baik pembelajaran tersebut berjalan beriringan dengan program literasi dan numerasi yang dibangun secara bertahap.
Ketika Laila mulai menjabat kepala sekolah pada Oktober 2021, penguatan pembelajaran menjadi salah satu perhatian utama. Ia kemudian memperkenalkan pembelajaran aktif kepada para guru.
“Guru-guru saya sudah saya latih dan saya dampingi pelaksanaannya itu dari 2021, saya datang langsung saya perkenalkan konsep pembelajaran aktif dengan pendekatan MIKiR,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setahun berikutnya, sekolah mulai fokus membangun budaya baca. Program tersebut tidak hanya mengandalkan perpustakaan sekolah, tetapi melibatkan berbagai unsur, mulai dari guru, komite, paguyuban wali murid hingga alumni.
“Budaya baca itu saya rancang sedemikian rupa di tahun 2022. Saya kan masuk 2021. Jadi 2021 saya penguatan di pembelajarannya kepada guru-guru. Kemudian 2022 saya mulai tentang memprogramkan budaya baca,” kata Laila.
Salah satu langkahnya adalah membentuk tim penguatan literasi dan numerasi. Tim tersebut ikut membantu pengadaan buku nonteks yang saat itu masih sangat terbatas.
Kondisi perpustakaan sekolah yang saat itu hampir roboh membuat program literasi tidak bisa sepenuhnya bergantung pada perpustakaan. Sekolah kemudian membuat pojok baca di setiap kelas.
Buku-buku diperoleh melalui bantuan berbagai pihak, termasuk alumni. Rak buku juga dibuat untuk mendukung keberadaan pojok baca. Setelah sarana tersedia, kegiatan membaca dilakukan setiap hari selama 10 menit sebelum pembelajaran dimulai.
“Setiap hari 10 menit sebelum pembelajaran membaca buku. Bukunya kita sediakan sesuai jenjang dan sesuai minat mereka. Anak-anak milih sendiri bukunya. Buku tidak harus selesai dibaca, ya kalau sudah selesai dilanjutkan hari berikutnya karena itu harian. Tapi target satu minggu menyelesaikan satu buku,” jelasnya.
Kegiatan literasi juga dikembangkan melalui storytelling mingguan yang melibatkan siswa sesuai fase pembelajaran. Fase A untuk kelas 1 dan 2, fase B kelas 3 dan 4, serta fase C kelas 5 dan 6.
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara outdoor, baik di taman maupun sudut sekolah yang membuat siswa nyaman. Cerita tidak selalu disampaikan guru. Siswa yang telah siap juga diberi kesempatan tampil. Program tersebut dikenal dengan nama Sapa Mentari, yakni kegiatan membaca cerita dan membahas materi setiap Selasa pagi.
Penguatan literasi dan numerasi juga dilakukan melalui komunitas belajar sekolah. Setiap bulan, guru melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses pembelajaran.
"Jadi setiap satu bulan sekali kita mengadadakan evaluasi dan refleksi penguatan literasi serta numerasi di kelas masing-masing. Kita saling bertukar ide dan gagasan. Bukan hanya ide, tapi lebih ke tracking permasalahan yang kita temui (di lapangan), kemudian mencari ide solusinya," imbuhnya.
Dari proses refleksi tersebut kemudian muncul berbagai inovasi pembelajaran, termasuk media-media yang membuat siswa lebih aktif dalam belajar. Dampaknya mulai terlihat pada rapor pendidikan sekolah.
Jika pada 2022 kemampuan literasi dan numerasi masih berada pada kategori merah, perlahan kondisinya membaik. Pada 2023 mulai meningkat dan pada 2024 seluruh indikator tersebut sudah berada pada kategori hijau.
"Awalnya merah berarti warning ya, tidak memenuhi kompetensi.
Kemudian tahun 2023 mulai naik, 2024 sudah hijau semua ,dan masuk pada peringkat 1 sampai 20 tingkat nasional sehingga sekolah kami mendapatkan bos kinerja. Karena rapor pendidikannya yang bagus itu,” jelasnya.
Laila menmabahkan SDN Sarwadadi 03 pun bisa mendapatkan BOS Kinerja pada 2024 dan kembali mendapatkannya pada 2025.
Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa program yang dijalankan sekolah tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ada proses yang dilakukan secara konsisten, dievaluasi, kemudian diperbaiki.
Konsistensi tersebut juga mengantarkan SDN Sarwadadi 03 Cilacap meraih penghargaan di tingkat nasional. Pada 2024, sekolah tersebut mendapat penghargaan kategori Sekolah Sadar Literasi Numerasi dalam ajang gelar aksi nyata pemulihan pembelajaran yang diselenggarakan Direktorat terkait.
Kemudian pada 2025, sekolah kembali memperoleh penghargaan tingkat nasional sebagai Sahabat Sekolah Dasar 2025 dari Direktorat Sekolah Dasar.
"(Penghargaan) Tahun 2024 untuk literasi numerasi, kategori sekolah sadar literasi numerasi. Kemudian tahun 2025 sebagai sahabat sekolah dasar dari Direktorat Sekolah Dasar,” tambahnya.
Bagi Laila, penghargaan tersebut bukan hasil program yang dibuat mendadak demi mengikuti perlombaan. Berbagai praktik baik yang didokumentasikan memang telah berjalan dalam keseharian sekolah.
“Kita memberanikan diri untuk mengikutinya karena memang kita sudah konsisten dan continue melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut. Jadi bukan bukan hal yang diada-adakan, bukan hal yang instan, saat mau lomba aja itu diadakan tidak,” tegasnya.
Dari permainan sederhana hingga perubahan rapor pendidikan, Laila menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus mahal dan rumit. Yang terpenting adalah bagaimana guru dan sekolah mampu membaca kebutuhan anak, membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan mereka, serta menjalankannya secara konsisten.
Di SDN Sarwadadi 03 Cilacap, proses itu diawali dari hal-hal sederhana, mulai dari membaca 10 menit, berbagi cerita, berdiskusi antarguru, membuat pojok baca, hingga bermain ular tangga sambil menjawab soal.
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah perubahan perlahan terlihat. Rapor pendidikan yang semula merah berubah hijau. Prestasi nasional pun mengikuti. Dan yang paling penting, anak-anak semakin menunggu datangnya waktu untuk belajar. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi