RADARSEMARANG.ID, Di tengah memanasnya perang AS-Israel vs Iran, 3 negara besar Muslim resmi bersatu.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani "Perjanjian Pencegahan Bersama Mekkah" pada hari Jumat di kota suci Mekkah.
Pakta ini langsung disebut sebagai aliansi baru Timur Tengah yang mempertemukan "Raja Minyak, Raja Militer Eropa, dan Pemilik Senjata Nuklir".
Baca Juga: Pernah Usulkan Bom Nuklir Gaza, Senator AS Lindsey Graham Wafat Mendadak pada Usia 71 Tahun
Berikut kronologi dan 6 fakta lengkapnya.
Kronologi Perjanjian Mekkah
1. Pemicu: Pasca Serangan 7 Oktober 2023
Negosiasi pakta ini dimulai tak lama setelah serangan Hamas ke Israel 7 Oktober 2023 dan dimulainya konflik di Gaza.
Pembahasan makin intens saat perang AS-Israel melawan Iran berlangsung.
2. 19 Maret 2026: Pertemuan Awal di Riyadh
Menteri Luar Negeri Turki, Pakistan, dan Arab Saudi bertemu di KTT Islam Riyadh.
Mereka membahas bentuk kesepakatan keamanan bersama.
Baca Juga: Makin Mesra! Jateng dan Fujian Tiongkok Teken Dua Kesepakatan Strategis
3. September 2025: Pakta Bilateral Saudi-Pakistan
Pakistan dan Arab Saudi lebih dulu menandatangani perjanjian pertahanan bersama. Ini terjadi setelah Israel menyerang ibu kota Qatar, Doha, tanggal 9 September 2025.
4. Jumat, Agustus 2026: Penandatanganan di Mekkah
Puncaknya terjadi di Mekkah. 3 pemimpin tertinggi bertemu:
- Putra Mahkota Arab Saudi: Mohammed bin Salman
- Presiden Turki: Recep Tayyip Erdogan
- PM Pakistan: Shehbaz Sharif
Kesepakatan ditandatangani sehari setelah PM Sharif dan Panglima Militer Asim Munir tiba di Saudi untuk umrah.
Baca Juga: 7 Fakta Menarik yang Jarang Diketahui Banyak Orang Tentang Yamaha Mio
7 Fakta Lengkap Perjanjian Pencegahan Bersama Mekkah
1. Isi Utama: Serangan ke 1 Negara = Serangan ke 3 Negara
Inti pakta ini adalah "pencegahan kolektif". Artinya, serangan bersenjata terhadap salah satu dari 3 negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
Tujuan: Menjaga perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan dan luar kawasan.
Pakta ini disebut berlandaskan ikatan persaudaraan Islam dan kepentingan strategis bersama.
2. Latar Belakang: Ketakutan Terhadap Eskalasi Israel dan Iran
Aliansi ini lahir karena 3 kekhawatiran besar:
- Israel yang makin agresif: Menduduki seperlima Lebanon dan menyerang Gaza, Suriah
- Perang AS-Israel vs Iran: Arab Saudi yang punya aset AS jadi sasaran Houthi dan Iran. Selat Hormuz juga krisis
- Ketidakpercayaan ke jaminan AS: Negara-negara kawasan merasa keamanan mereka tidak bisa lagi bergantung pada rivalitas AS-Israel vs Iran
Baca Juga: Pelaksanaan Ujian Sumatif di Kabupaten Semarang Jadi Otonomi Masing-masing Sekolah
3. Konsep: "Otonomi Keamanan Kawasan"
Menurut Ozgur Unluhisarcikli dari German Marshall Fund, pakta ini cerminan keinginan 3 negara untuk punya otonomi strategis sendiri.
Mereka sepakat bahwa stabilitas datang dari pemerintahan pusat yang kuat dan menolak fragmentasi negara serta aktor non-negara.
4. Kekuatan Gabungan: Minyak + Militer + Nuklir
Ini yang bikin pakta ini disorot. Gabungan 3 kekuatan unik:
- Turki: Kekuatan militer terbesar ke-2 di NATO + industri pertahanan maju
- Arab Saudi: Eksportir minyak terbesar dunia + kekuatan finansial
- Pakistan: Satu-satunya negara Muslim pemilik senjata nuklir + pengalaman militer
Analis menyebut ini bukan NATO versi Timur Tengah, tapi kerangka koordinasi militer, industri, dan strategis yang lebih erat.
5. Reaksi Iran: "Tidak Akan Jamin Keamanan"
Anggota parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengkritik di X.
Ia menyebut pakta di atas kertas ini tidak akan menjamin keamanan Saudi.
"Sama seperti bergantung pada Amerika selama ini," tulisnya.
Baca Juga: Iran Punya Pemimpin Baru! Siapa Mojtaba Khamenei yang Bikin AS-Israel Panik?
6. Reaksi Israel: Bungkam, Tapi Was-was
Hingga berita ini ditulis, PM Netanyahu dan Kemenlu Israel belum berkomentar.
Tapi pejabat Turki ke Reuters menegaskan pakta ini bersifat defensif dan tidak ditujukan ke pihak tertentu. Pakta ini juga terbuka untuk negara lain.
Sebelumnya pejabat Israel menyebut ini sebagai "poros Sunni anti-Israel".
7. Posisi AS dan "Kesepakatan Abraham" Jadi Tertekan
Munculnya pakta ini secara tidak langsung menekan rencana AS untuk mendorong normalisasi Saudi-Israel lewat "Kesepakatan Abraham".
Selama ini AS berharap Saudi ikut berdamai dengan Israel, tapi Saudi bersikeras menolak sampai ada jalan jelas untuk negara Palestina.
Dengan adanya aliansi bersama Turki dan Pakistan, Saudi jadi punya opsi keamanan alternatif tanpa harus bergantung penuh ke AS.
Ini membuat posisi AS di Timur Tengah melemah, karena 3 negara besar ini memilih membangun jaring pengaman sendiri di luar payung keamanan Washington.
Apa Tujuan Sebenarnya Saudi, Turki, Pakistan?
- Saudi: Ingin mengurangi ketergantungan impor senjata dari AS dan membangun industri pertahanan sendiri. Juga mengamankan diri dari ancaman Iran.
- Turki: Ingin jadi penengah dan pemimpin keamanan di kawasan Muslim. Khawatir dengan ekspansionisme Israel.
- Pakistan: Ingin peran mediator agar tidak terjadi perang regional. Juga memperkuat posisi sebagai negara nuklir Muslim.
Presiden Erdogan sebelumnya sudah tegas:
"Israel tidak boleh dibiarkan mengacaukan kesepakatan AS-Iran. Pemerintah Israel yang kecanduan perang tidak boleh menenggelamkan kawasan dalam darah."
Baca Juga: Ahmad Luthfi Gaungkan Kolaborasi dan Aglomerasi Jateng di Serambi Mekkah
"Perjanjian Mekkah" menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Untuk pertama kalinya, 3 kekuatan besar non-Arab bersatu dalam pakta pertahanan formal.
Meski diklaim defensif, lahirnya aliansi ini jelas mengubah peta kekuatan. Dominasi AS dan Israel di kawasan kini dapat penyeimbang baru.(tas)
Editor : Tasropi