RADARSEMARANG.ID - KH Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab disapa Gus Rozin tumbuh dari lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan dan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU). Putra KH Mochammad Djamaluddin Ahmad itu juga merupakan cicit KH Bisri Syansuri, salah satu ulama pendiri NU.
Gus Rozin kini dikenal sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah. Ia juga meneruskan tradisi keilmuan Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati. Dari lingkungan pesantren tersebut, karakter keilmuan dan kepemimpinannya ditempa sejak kecil.
Latar belakang itu pula yang mengantarkannya pada kontestasi kepemimpinan PBNU. Gus Rozin menyatakan siap maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan para Ketua PCNU se-Jawa Tengah dalam kegiatan silaturahmi di Salatiga, Rabu (15/7/2026) lalu.
Sementara Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung 27-31 Agustus 2026 di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tersebut akan menentukan kepemimpinan PBNU untuk periode berikutnya.
Gus Rozin memiliki akar keluarga dari sejumlah pesantren besar di Jawa. Dari garis ayah, ia mewarisi tradisi Pesantren Tambakberas, Jombang. Sementara dari garis ibu, ia memiliki hubungan dengan Pesantren Denanyar, Jombang.
Ayahnya, KH Mochammad Djamaluddin Ahmad, merupakan pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Tambakberas. Ulama kelahiran 1943 itu wafat pada 24 Februari 2022.
Semasa hidupnya, KH Mochammad Djamaluddin Ahmad dikenal istiqamah membina santri dan membimbing masyarakat melalui pendekatan spiritual. Ia juga dikenal sebagai pakar tasawuf dan mendapat julukan “tasawuf berjalan”.
Dari sang ibu, Nyai Hj Khuriyah Abdul Fattah, mengalir garis keturunan Pesantren Denanyar. Nyai Khuriyah merupakan putri KH Abdul Fattah Hasyim dan Nyai Hj Musyarofah.
Nyai Musyarofah merupakan putri kandung KH Bisri Syansuri. Karena itu, Gus Rozin merupakan cicit KH Bisri Syansuri, tokoh penting dalam sejarah berdirinya NU.
Tradisi Tambakberas dan Denanyar kemudian berpadu dengan pendidikan Gus Rozin di Pesantren Maslakul Huda, Kajen. Sejak kecil, ia ditempa langsung KH MA Sahal Mahfudh bersama istrinya, Nyai Hj Nafisah Sahal yang merupakan bibi Gus Rozin.
Dari Mbah Sahal, Gus Rozin belajar memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan pemikiran sosial yang menyesuaikan perkembangan zaman.
KH MA Sahal Mahfudh merupakan ulama yang pernah menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2000-2014. Sebelumnya, ia juga dipercaya sebagai Rais Aam Syuriah PBNU selama dua periode, 1999–2014.
Mbah Sahal dikenal memiliki kedalaman ilmu, khususnya dalam bidang fikih. Ia juga dikenal sebagai pemikir yang aktif menulis serta memiliki perhatian terhadap persoalan masyarakat kecil.
Tiga lingkungan pesantren tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk sosok Gus Rozin. Tradisi Tambakberas, Denanyar, dan Kajen memberikan warna berbeda dalam perjalanan keilmuan dan kepemimpinannya.
Dari sang ayah, ia mendapat warisan tradisi tasawuf. Dari KH Bisri Syansuri, mengalir tradisi keteguhan dalam menjaga perjuangan NU. Sedangkan dari Mbah Sahal, ia mendapat corak pemikiran fikih sosial yang dekat dengan persoalan masyarakat.
Bagi Gus Rozin, warisan nasab tersebut bukan sekadar kebanggaan keluarga. Namun menjadi tanggung jawab untuk meneruskan pengabdian dan perjuangan para ulama.
Kini, bekal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Gus Rozin menuju Muktamar ke-35 NU. Sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, ia menyatakan siap ikut dalam kontestasi untuk memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU.
Muktamar yang digelar di Pesantren Tambakberas, Jombang, itu nantinya menjadi penentu siapa yang akan memimpin PBNU pada periode berikutnya.
Editor : Baskoro Septiadi