RADARSEMARANG.ID, Semarang – Aksi tawuran antar kelompok gangster di Jalan Pantura Mangkang Kota Semarang sengaja direkam dan diupload di media sosial pelaku. Tujuan pelaku hanya untuk mencari eksistensi.
Kombes Pol M Anwar Nasir menyebut, aksi tawuran di Pantura Mangkang sengaja direkam dan diunggah ke media sosial oleh admin pelaku. Tujuannya demi memperoleh pengakuan dari kelompok lain.
"Jadi anak-anak melakukan itu dengan media sosial. Jadi tujuan mereka itu memang untuk mempublik, untuk menunjukkan jati diri, untuk adanya pengakuan," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang Jumat (7/8/2026).
"Kalau mereka sampai level bisa membawa sajam itu sehingga itu akan menarik perhatian buat anak-anak yang lain untuk bisa bergabung dengan kelompoknya mereka," bebernya.
Menurutnya, hal tersebut merupakan pemahaman eksistensi yang negatif dan sangat keliru. Sehingga tersebut perlu di luruskan.
"Jadi itu maksud dari mereka untuk bagian yang merekam tadi untuk upload ke medsos. Eksistensi mereka sampai tahap bisa membawa sajam, itu dianggap geng itu adalah geng yang yang terbaik. Ini sangat keliru," tegasnya.
Sekarang ini, kepolisian masih memburu 17 pelaku yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus tawuran bersenjata tajam di Pantura Mangkang. Penyidik memastikan pengejaran akan terus dilakukan, termasuk menelusuri pemilik senjata tajam yang telah ditemukan.
"DPO ada 7 orang dari pihak kelompok Semarang dan kelompok Kendal ada 10 orang, total 17. Nah, 17 DPO ini pasti terus kita lakukan pencarian, termasuk admin ini jadi DPO kita juga yang sedang kita buru," tegasnya.
Diketahui, aksi tawuran antar kelompok remaja menggunakan senjata tajam (sajam) terjadi di Jalan Raya Pantura, Kota Semarang. Aksi tawuran tersebut juga diduga menggunakan bom molotov.
Aksi tawuran tersebut juga direkam yang diduga dari salah satu pihak gerombolan pelakunya. Namun, wajah mereka tak dikenali lantaran menggunakan helm dan penutup wajah.
Namun, aksinya sangat meresahkan, dua kelompok yang bertikai saling menggunakan senjata tajam. Bahkan gerombolan ini juga mengacung-acungkan Sajam yang dibawa ke arah kelompok lawannya.
Sementara dua kelompok tersebut saling ejek dari kejauhan dan kemudian saling mendekat melakukan serangan. Kemudian, ada kobaran api ditengah jalan setelah salah satu kelompok melemparkan benda yang diduga bom molotov.
Kobaran api menyala di tengah jalan. Nampak, ada pengendara motor maupun kendaraan truk yang melintas. Namun, dari salah satu kelompok, mundur menjauhi kelompok lawan.
Selain itu, kelompok yang diduga membuat video ini juga ada yang freestyle di tepi jalan sembari memegang senjata tajam.
Kapolsek Ngaliyan, Kompol Aliet Alphard mengakui aksi tawuran tersebut terjadi di wilayah hukum Polsek Ngaliyan. Lokasi persisnya berada di jalan raya pantura turut Plumbon, Wonosari Ngaliyan.
"Untuk lokasi itu di Plumbon Wonosari Kelurahan Wonosari Ngaliyan. Tempatnya dari arah Semarang ke Kendal, Jalan Pantura," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (6/8/2026).
Pihak kepolisian juga telah mendatangi lokasi untuk melakukan penyelidikan terkait kejadian tersebut. Sejumlah warga telah dimintai keterangan sebagai bahan penyelidikan awal.
Pihaknya menyebut, berdasarkan keterangan warga, tawuran terjadi pada Jumat (1/8) sekitar pukul 03.30. Namun demikian, pihaknya mengaku minimnya saksi mata menjadi kendala dalam proses penyelidikan karena warga memilih tidak keluar rumah saat kejadian berlangsung.
"Menurut keterangan masyarakat, kejadiannya sekitar pukul 03.30. Tawuran berlangsung cepat, sekitar 10 sampai 15 menit. Warga tidak berani keluar rumah, hanya mendengar keributan," ujarnya.
Terkait video yang beredar di media sosial, terlihat adanya kobaran api di lokasi yang diduga berasal dari lemparan bom molotov. Meski demikian, polisi masih mendalami asal-usul dan pihak yang terlibat dalam aksi tersebut.
"Kalau dari video memang terlihat ada api yang diduga bom molotov. Namun semuanya masih dalam proses penyelidikan," katanya.
Polisi juga belum dapat memastikan identitas maupun asal kelompok remaja yang terlibat, termasuk apakah mereka merupakan pelajar SMA. Saat ini petugas masih menelusuri rekaman CCTV dan video yang beredar di media sosial.
"Belum diketahui apakah mereka pelajar atau bukan. Masih kami lidik, kami telusuri CCTV dan media sosial. Penyelidikan juga dibantu Polda Jawa Tengah dan Polrestabes Semarang," jelasnya.
Menurutnya, tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam insiden tersebut. Tawuran diduga bubar setelah sejumlah warga mendatangi lokasi.
"Yang jelas tidak ada korban, baik luka maupun meninggal dunia. Berdasarkan keterangan warga, saat masyarakat datang mereka langsung membubarkan diri," jelasnya.
Hingga kini belum ada pelaku yang diamankan. Polisi menegaskan apabila nantinya terbukti membawa atau menggunakan senjata tajam maupun bahan peledak rakitan seperti molotov, para pelaku dapat dijerat dengan ketentuan dalam Undang-Undang Darurat.
Menanggapi para pelaku tawuran tersebut dilakukan kalangan pelajar, Kapolsek belum bisa memastikan hal tersebut. Sekarang ini, masih dalam proses penyelidikan untuk mengungkap para pelakunya.
"Kepastiannya kita belum tahu, masih proses lidik masih kita cari-cari kita runut cari CCTV medsosnya gitu. Yang jelas kita juga di-backup sama Polda. Dari Polda turun dari Polrestabes juga turun," jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, kepolisian meningkatkan patroli di wilayah perbatasan Semarang-Kendal, memperkuat pengawasan media sosial, serta menggencarkan pembinaan di sekolah-sekolah melalui Bhabinkamtibmas dan personel kepolisian setiap pekan.
"Kami rutin memberikan imbauan kamtibmas di sekolah-sekolah dan mengajak para guru serta orang tua agar lebih mengawasi anak-anaknya, terutama jika hingga malam belum pulang. Kami juga memantau media sosial untuk mengantisipasi ajakan maupun video yang berkaitan dengan tawuran," pungkasnya. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi