RADARSEMARANG.ID, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri UAE serta Penguasa Dubai, mendukung visi agar tidak ada seorang pun di UAE yang tidur dalam keadaan lapar.
Visi ini diwujudkan melalui inisiatif "Bread for All" (Khobz Al-Sabeel atau Roti untuk Semua) yang diluncurkan pada September 2022 oleh Mohammed bin Rashid Global Centre for Endowment Consultancy (MBRGCEC) di bawah Awqaf and Minors Affairs Foundation (AMAF).
Baca Juga: Program Magang Kerja Jepang Jadi Investasi SDM Jateng
Detail Program yang Dapat Diverifikasi
- Mesin pintar otomatis:
Mesin ini memanggang roti segar (seperti roti Arab dan finger rolls) dalam waktu sekitar 1 menit setelah tombol "order" ditekan. Roti kemudian didispense secara otomatis. Mesin diisi ulang dua kali sehari untuk menjamin ketersediaan.
- Lokasi:
Awalnya ditempatkan di gerai Aswaaq (supermarket) seperti Al Mizhar, Al Warqa’a, Mirdif, Nad Al Sheba, Nadd Al Hamar, Al Qouz, dan Al Bada’a. Program ini kemudian diperluas dengan mesin di dekat masjid dan lokasi lain, serta evolusi ke mesin yang menyediakan makanan panas lengkap 24 jam.
- Privasi dan martabat:
Penerima cukup menekan tombol tanpa perlu identifikasi awal (meski fase baru menggunakan smart ID untuk pembatasan satu porsi/hari agar adil). Tidak ada antrean panjang, stigma, atau pengawasan seperti CCTV yang invasif — mirip ATM. Ini mendukung prinsip sedekah yang menjaga kehormatan penerima.
Inisiatif ini menggabungkan teknologi modern dengan semangat waqf (endowment) dan filantropi, sehingga sedekah menjadi berkelanjutan.
Masyarakat juga bisa berdonasi langsung melalui mesin, aplikasi Dubai Now, SMS, atau situs resmi MBRGCEC.
Konteks Lebih LuasProgram ini selaras dengan semangat Sheikh Mohammed yang konsisten, termasuk kampanye "10 Juta Makanan", "100 Juta Makanan", hingga "1 Miliar Makanan" yang sukses mendistribusikan bantuan global.
Ini bagian dari upaya membangun masyarakat peduli, inklusif, dan berbasis inovasi.
Perbandingan dengan tradisi nenek moyang yang menaruh kendi air di pagar rumah sangat pas.
Dulu, kebaikan dilakukan secara sederhana, terbuka, dan tanpa pamrih. Sekarang, teknologi seperti mesin roti ini menghidupkan kembali semangat itu di era modern: mudah diakses, menjaga privasi, dan mengajak partisipasi kolektif tanpa harus "mencari cuan" semata.
Ini pengingat bahwa filantropi bukan hanya soal uang, tapi juga pola pikir masyarakat yang lebih humanis.
Inisiatif seperti ini menunjukkan bagaimana kepemimpinan visioner dapat mengintegrasikan tradisi kebaikan dengan kemajuan teknologi, sehingga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup di tengah kota metropolitan yang sibuk. Semoga menginspirasi daerah lain untuk adaptasi serupa yang sesuai konteks lokal. (tas)
Editor : Tasropi