Masih Ada 25 Hektare Lahan, Kawasan Mangkang Semarang Berpotensi Tambah Hutan Mangrove

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 13:17 WIB
Penanaman 250 bibit Mangrove oleh Amdatara dan DLHK Jateng di Kawasan Pesisir Mangkang Kota Semarang.
Penanaman 250 bibit Mangrove oleh Amdatara dan DLHK Jateng di Kawasan Pesisir Mangkang Kota Semarang.

 

RADARSEMARANG.ID - Kawasan Mangkang, Kota Semarang, masih menyimpan sekitar 25 hektare lahan yang berpotensi dikembangkan untuk penanaman mangrove. Wilayah tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat rehabilitasi kawasan pesisir sekaligus mendukung program Mageri Segoro yang diusung Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Jawa Tengah sendiri memiliki garis pantai sepanjang sekitar 971 kilometer yang membentang di 17 kabupaten/kota dan 426 desa pesisir. Luas hutan mangrove saat ini mencapai 16.102 hektare. Namun, ekosistem tersebut masih menghadapi ancaman abrasi dan penurunan muka tanah di sejumlah wilayah.

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Alam DLHK Jawa Tengah, Puji Harini, mengatakan rehabilitasi mangrove harus dilakukan secara kolaboratif karena memiliki peran penting melindungi kawasan pesisir.

"Fungsi mangrove sangat penting untuk mengurangi abrasi dan mencegah intrusi air laut sehingga kualitas air tetap terjaga," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/7).

Baca Juga: Honda Vario EVO 160 2026 Resmi Hadir dengan Desain Futuristis dan Performa Lebih Bertenaga

Menurut Puji, penanganan kawasan pesisir tidak bisa dilakukan secara terpisah. Rehabilitasi harus dilakukan mulai dari wilayah hulu, tengah, hingga hilir agar pengelolaan daerah aliran sungai berjalan optimal.

"Tidak mungkin hanya hilir yang ditangani, sementara bagian hulu dan tengah diabaikan. Pengelolaan DAS harus menjadi satu kesatuan agar hasilnya optimal," tegasnya.

Direktur Utama IKAMaT Ganis Riyan Efendi menambahkan, berdasarkan data citra, kawasan mangrove di Mangkang masih memiliki lebih dari 25 hektare area yang merupakan kombinasi mangrove hasil penanaman dan yang tumbuh secara alami.

"Area mangrove di Mangkang ini lebih dari 25 hektare. Itu merupakan kombinasi antara mangrove hasil penanaman dan yang tumbuh secara alami," jelasnya.

Meski demikian, dia mengakui luasan yang benar-benar tersedia untuk penanaman baru tidak terlalu banyak. Namun, kawasan itu masih mampu menampung kegiatan rehabilitasi yang dilakukan komunitas, perusahaan, hingga masyarakat.

"Masih cukup potensial untuk dilakukan tambahan kegiatan penanaman. Meskipun tidak terlalu banyak, setidaknya masih bisa memfasilitasi berbagai kegiatan penanaman mangrove seperti yang dilakukan berbagai komunitas, lembaga, maupun masyarakat," katanya.

Salah satu kegiatan rehabilitasi dilakukan Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA). Organisasi tersebut menanam 250 bibit mangrove di pesisir Mangkang bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah. Penanaman itu menjadi rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) I AMDATARA DPD Jawa Tengah-DIY.

Ketua Umum AMDATARA Karyanto Wibowo mengatakan penanaman mangrove merupakan bagian dari komitmen industri air minum dalam kemasan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air.

"AMDATARA bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah melaksanakan program penanaman mangrove sebagai upaya membantu pelestarian alam, khususnya restorasi wilayah pesisir," katanya.

Ia menjelaskan, 250 bibit yang ditanam menjadi tahap awal. AMDATARA akan mengevaluasi tingkat keberhasilan penanaman sebelum memperluas program tersebut.

"Kami memulai dengan 250 bibit sebagai langkah awal. Setelah melihat perkembangan dan tingkat keberhasilannya, kami berharap jumlah penanaman dapat terus ditingkatkan," ungkapnya.

Karyanto menjelaskan, pelestarian mangrove menjadi bagian dari strategi keberlanjutan AMDATARA dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dari hulu hingga hilir. Di kawasan pesisir, mangrove dinilai penting untuk mengurangi abrasi sekaligus mencegah intrusi air laut yang dapat menurunkan kualitas air tanah (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
kawasan pesisir air minum penanaman mangrove KOTA SEMARANG JAWA TENGAH