RADARSEMARANG.ID - Lima dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) Jawa Tengah (Jetang) masih menganggur.
Totalnya sudah delapan bulan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) itu belum beroperasional. Padahal bangunan sudah rampung sejak 8 Desember 2025 lalu.
Selama itu pula, sebanyak 2.514 calon penerima manfaat di Karimunjawa, Jepara, dan wilayah pesisir Demak belum menikmati program MBG.
Baca Juga: Perpus Jateng Kena Efisiensi, Anggaran Pengadaan Buku Dipangkas Rp115,98 Juta
Investor SPPG 3T Jateng Rendra Bayu mengatakan hingga kini belum ada kepastian dari Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, pembahasan di tingkat pusat masih terus berlangsung tanpa keputusan final.
"Belum final, BGN rapat-rapat terus nggak ada hasil, yang aglomerasi sudah jalan tapi miris 3T belum dieksekusi," ujarnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang.
Rendra menyebut pembayaran pembangunan dapur juga belum berubah. Hingga kini investor baru menerima pencairan sebesar 60 persen. Sisanya belum dibayarkan.
"Dananya (belum cair) masih sama kemarin, 60 persen," katanya.
Di sisi lain, para investor tetap harus menanggung biaya operasional setiap bulan. Pengeluaran itu meliputi listrik, air, hingga tenaga yang bertugas membersihkan bangunan agar tetap siap digunakan sewaktu-waktu. Menurutnya, biaya operasional setiap SPPG mencapai sekitar Rp 2 juta per bulan.
Pihaknya berharap pemerintah segera memberikan kepastian operasional. Sebab, tujuan utama pembangunan SPPG ialah melayani masyarakat yang membutuhkan asupan gizi.
"Harapan besar bagi kita itu sebenernya umum, segera beroperasional. Masyarakat atau penerima manfaat bisa segera menerima program MBG," ungkapnya.
Pihaknya mengaku tidak mempermasalahkan evaluasi yang dilakukan BGN. Namun, proses tersebut dinilai berlangsung terlalu lama sehingga membuatnya merasa diabaikan.
Baca Juga: Terus Makan Korban, Jalur Padat Truk di Pasar Mangkang Bakal Dipasang Pita Kejut
"Evaluasi, evaluasi, dan evaluasi dapur kita masing-masing gimana caranya supaya penerima manfaat itu benar-benar mendapatkan gizi yang di atasnya standar kelayakan. Tapi BGN ini evaluasinya sangat lama, meskipun mereka sedang evaluasi tapi ini tuh kita merasa seperti diabaikan, padahal bukan kita yang bikin program tapi program dari Presiden," tegasnya.
Sementara sebelumnya Ketua Satgas MBG Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan operasional SPPG di wilayah khusus, termasuk Karimunjawa, masih menunggu kebijakan pemerintah pusat. Menurutnya pemerintah pusat sedang meninjau kembali kebutuhan jumlah SPPG di setiap daerah.
"Kalau SPPG kemarin sudah jelas ya, dari pemerintah pusat bahwa untuk kawasan-kawasan khusus itu akan ditinjau jumlahnya. Jawa Tengah sendiri juga akan ditinjau," katanya.
Ia menjelaskan sebelumnya sempat muncul wacana setiap kecamatan memiliki maksimal tujuh SPPG. Karena itu, pemerintah pusat masih melakukan penyesuaian kebutuhan di masing-masing wilayah.
Taj Yasin juga mendorong dan akan terus mengawal agar SPPG di wilayah 3T Jateng segera beroperasi. Sebab banyak penerima manfaat yang sudah membutuhkan.
"Karena yang bisa memutuskan itu dari pusat, kita hanya melaporkan saja. Untuk yang daerah-daerah seperti Karimunjawa yang memang dibutuhkan, kita kawal karena di sana membutuhkan," pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi