RADARSEMARANG.ID - Anggaran pengadaan koleksi buku Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Jawa Tengah pada 2026 dipangkas Rp 115,98 juta. Padahal semula, jumlahnya Rp501,58 juta pada 2025. Namun, turun menjadi Rp385,6 juta tahun ini.
Pemangkasan tersebut seiring adanya kebijakan efisiensi anggaran, termasuk di Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Dampaknya, penambahan koleksi buku di perpustakaan daerah ikut berkurang.
"Dampaknya (efisiensi) penambahan koleksi (buku) berkurang," kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Jawa Tengah Rahmah Nur Hayati, Selasa (21/7).
Baca Juga: Terus Makan Korban, Jalur Padat Truk di Pasar Mangkang Bakal Dipasang Pita Kejut
Meski anggaran menyusut, dia memastikan koleksi perpustakaan tetap dipenuhi berdasarkan skala prioritas. Menurutnya, pengadaan buku masih dilakukan agar memenuhi standar layanan perpustakaan.
"Koleksi tetap kami jaga sesuai standar," imbuhnya.
Rahmah mengatakan efisiensi anggaran tidak membuat program literasi berhenti. Dinas Arpus Jateng kata dia tetap menjalankan berbagai kegiatan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, perpustakaan desa, taman baca, hingga komunitas literasi.
Pihaknya menyebut pendekatan itu membuat gerakan literasi tetap berjalan meski anggaran terbatas. Bahkan, jumlah kunjungan ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah masih stabil.
Baca Juga: Dispora Belum Maksimal Optimalkan Aset Olahraga, Target PAD Terancam Meleset
"Minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan itu justru tidak pernah surut. Sehingga kunjungan ini rata-rata setiap bulan 3.000-an," ujarnya.
Menurut Rahmah, perpustakaan kini tidak lagi hanya menjadi tempat meminjam buku. Berbagai kegiatan literasi terus dikembangkan agar menarik minat masyarakat.
"Perpustakaan itu tuh tidak hanya sekedar pinjam buku, tapi banyak gerakan-gerakan literasi yang ada di perpustakaan. Jadi perpustakaan tetap akan menjadi magnetik ya, magnetik pusat pembelajaran, pusat pemberdayaan, pusat kolaborasi, koordinasi," katanya.
Selain itu, layanan perpustakaan keliling juga dipastikan tetap beroperasi. Program tersebut dinilai penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap koleksi buku, terutama bagi sekolah yang membutuhkan.
"(Perpustakaan keliling) tetap jalan, agar lebih bisa mengakses masyarakat," bebernya.
Baca Juga: Fasilitas Sudah Dibangun, PAD Tak Maksimal, DPRD Semprot Dispora Kurang Kreatif
Melalui perpustakaan keliling, koleksi buku dipinjamkan secara bergilir ke sekolah-sekolah sesuai kebutuhan. Setelah masa peminjaman selesai, koleksi akan dipindahkan ke sekolah lain.
Di sisi lain, Rahmah berharap tidak ada lagi efisiensi anggaran pada 2027. Sebab, pengelolaan perpustakaan membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari sumber daya manusia, koleksi, regulasi, hingga infrastruktur teknologi.
"Tentu kamu berharap alokasi anggaran yang ada itu memadai, agar kami bisa bergerak lebih baik untuk literasi masyarakat Jawa Tengah," pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi