RADARSEMARANG.ID, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi secara resmi memasuki ibu kota administratif baru negara itu, yang dikenal sebagai New Administrative Capital (NAC) atau kini disebut The New Capital.
Iring-iringan presiden dikawal ketat dengan helikopter Apache, tank Abrams, dan sistem rudal HIMARS, menandai langkah simbolis pemindahan pusat pemerintahan dari Kairo yang padat.
NAC terletak sekitar 45 kilometer di sebelah timur Kairo, di kawasan padang pasir yang sebelumnya tidak berkembang. Proyek mega ini dirancang sebagai pusat pemerintahan, zona diplomatik, pusat keuangan, dan kota pintar berteknologi tinggi untuk mengatasi masalah kepadatan dan over-kapasitas di ibu kota lama.
Proyek Ambisius Sejak 2015
Proyek NAC diumumkan oleh Presiden el-Sisi pada tahun 2015 sebagai bagian dari visi pembangunan Mesir.
Kota ini dibangun dari nol dengan luas mencapai sekitar 700-714 km² (setara dengan luas Singapura), dan berpotensi berkembang hingga 900 km² lebih. Rencananya, NAC akan menjadi rumah bagi sekitar 6-6,5 juta penduduk dan menghasilkan jutaan lapangan kerja.
Biaya keseluruhan proyek diperkirakan mencapai sekitar 58 miliar dolar AS (sekitar Rp900 triliun hingga 1.000 triliun rupiah, tergantung kurs), meskipun tahap awal infrastruktur dan bangunan pemerintahan saja telah menelan ratusan miliar pound Mesir.
Baca Juga: Bikin Kaget Mesir Bisa Lolos Cek Lawannya, Berikut Jadwal Piala Dunia 2026 Babak 16 Besar Live
Pembangunan dilakukan secara bertahap, dengan fase pertama yang mencakup distrik pemerintahan, gedung parlemen, dan kawasan bisnis pusat (CBD) sudah sebagian besar rampung.
Hingga saat ini, puluhan kementerian dan lembaga pemerintah telah pindah ke NAC sejak 2023-2024. Pada 2 April 2024, Presiden Sisi bahkan mengambil sumpah jabatan untuk periode ketiganya di gedung parlemen baru di ibu kota ini, menandai inaugurasi resmi sebagai pusat pemerintahan de facto.
Langkah Terbaru: Markas Komando Strategis
Baru-baru ini pada 5 Juli 2026, Presiden Sisi meresmikan markas komando strategis negara (Strategic Command Headquarters atau "The Octagon") di NAC. Fasilitas ini menjadi simbol integrasi militer dan pemerintahan di lokasi baru, sekaligus memperkuat keamanan nasional.
Tujuan utama pemindahan ibu kota adalah meredakan kemacetan dan tekanan pada Kairo (yang berpenduduk hampir 20 juta jiwa di wilayah metropolitan), serta menciptakan kota modern yang efisien.
Kritikus sempat mempertanyakan biaya besar proyek ini di tengah tantangan ekonomi Mesir, tetapi pemerintah melihatnya sebagai investasi jangka panjang untuk pertumbuhan dan transformasi digital.
Dengan pemindahan ini, Mesir melangkah maju menuju visi "Egypt Vision 2030", di mana NAC diharapkan menjadi ikon perkotaan modern di Afrika dan Timur Tengah. Proses relokasi masih berlanjut, termasuk rencana ekspansi fase berikutnya yang akan menambah kapasitas hunian dan fasilitas.
Kota baru ini tidak hanya menjadi pusat administrasi, tetapi juga diharapkan menarik investasi asing dan menjadi simbol kebangkitan Mesir di era modern. (tas)
Editor : Tasropi