Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Wujudkan Pengasuhan Setara, Aris Sugiyono, Kepala Desa yang Memilih Tetap Hadir untuk Keluarga

Khafifah Arini Putri • Senin, 29 Juni 2026 | 09:56 WIB
Kepala Desa Pasinggangan, Aris Sugiyono.
Kepala Desa Pasinggangan, Aris Sugiyono.

 

RADARSEMARANG.ID, Banyumas - Tawa kecil terdengar dari aula Balai Desa Pasinggangan, Kecamatan Banyumas. Pagi itu, sejumlah pasangan suami istri sedang mengikuti Kelas Bapake Mamake, program edukasi dari Pemerintah Kabupaten Banyumas yang berfokus pada pendampingan ibu hamil oleh keluarga, terutama suami.

Di antara mereka, terlihat seorang pria mengenakan baju dinas berwarna khaki. Ia tampak santai berbincang dengan peserta. Sesekali ia tersenyum, lalu mendengarkan cerita para orang tua muda yang sedang belajar tentang pengasuhan anak.

Pria itu adalah Aris Sugiyono, Kepala Desa Pasinggangan. Tak banyak yang tahu, tujuh tahun lalu Aris bukanlah seorang birokrat. Ia hanya pedagang ayam dan telur yang sehari-hari berkeliling mengantar dagangan ke warung-warung. Pengalamannya di pemerintahan nyaris tidak ada.

"Dulu jualan. Nggak ada basic dari politik maupun pemerintahan. Pertama ya jadi ketua RT," kata Aris.

Keputusannya maju sebagai kepala desa berawal dari dorongan warga sekitar. Tak pernah ada dalam cita-citanya menjadi orang nomor satu di Desa Pasinggangan.

Karena itu, ketika warga mendorongnya maju menjadi kepala desa, Aris sempat tidak percaya. Namun, dorongan itu terus datang. Meski sempat ditolak oleh istri dan ibunya karena merasa belum siap, Aris akhirnya menerima amanah tersebut. Pada usia 39 tahun, tepatnya pada 2019, ia resmi menjadi kepala desa.

"Jadi kepala desa karena didorong oleh warga. Sebenarnya istri dan ibu awalnya tidak mengizinkan, tapi akhirnya mereka mendukung," ungkapnya.

Namun, bagi Aris, jabatan kepala desa bukanlah pencapaian terbesar dalam hidupnya. Ia justru lebih bangga menjalani perannya sebagai ayah.

Tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, "Ayah Wajib Hadir", terasa sangat dekat dengan keseharian Aris. Jauh sebelum tema itu digaungkan, ia telah mempraktikkannya dalam keluarga.

Kepala Desa Pasinggangan Aris Sugiyono beserta Ketua TP PKK Desa Pasinggangan Kartikawati menyapa peserta Kelas Bapake Mamake di Balai Desa Pasinggangan.
Kepala Desa Pasinggangan Aris Sugiyono beserta Ketua TP PKK Desa Pasinggangan Kartikawati menyapa peserta Kelas Bapake Mamake di Balai Desa Pasinggangan.

Aris memiliki dua anak, seorang putra yang kini duduk di kelas 1 SMA dan seorang putri yang baru menyelesaikan pendidikan SD. Di tengah kesibukannya memimpin desa dengan lebih dari 13 ribu penduduk, keluarga tetap menjadi prioritas utama. Prinsip itu bahkan sudah dipegangnya sejak awal membangun rumah tangga.

Saat istrinya, Kartikawati, mengandung anak pertama dan kedua, Aris selalu hadir mendampingi. Mulai dari memeriksakan kehamilan hingga proses persalinan.

Bahkan, ketika sang istri hamil, Aris mengambil keputusan besar. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya di luar kota. Alasannya sederhana, ingin dekat dengan keluarga. Ia ingin mendampingi istri selama hamil dan selalu hadir dalam tumbuh kembang anaknya.

Keputusan itu sempat membuat keluarga khawatir. Namun, Aris memiliki prinsip yang dipegang teguh hingga sekarang.

"Saya menomorsatukan keluarga. Rezeki pasti datang dari mana pun selama kita berusaha," katanya.

Sejak saat itu, ia fokus mengembangkan usaha sendiri, mulai dari berjualan telur hingga ayam potong. Meski harus jatuh bangun membangun usaha, Aris tetap berusaha hadir untuk keluarga.

Kehadiran itulah yang menurut Aris menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga sehat. Ia percaya pencegahan stunting tidak dimulai saat anak sudah lahir, melainkan sejak masa kehamilan. Karena itu, ia selalu memastikan istrinya merasa aman, nyaman, dan memperoleh asupan yang cukup selama mengandung.

"Prinsipnya saya memberikan kenyamanan dan keamanan untuk istri. Saya selalu berusaha semaksimal mungkin. Yang dipikirkan bagaimana caranya istri merasa aman dan nyaman, bisa melahirkan tanpa waswas," bebernya.

Perhatian terhadap gizi keluarga juga menjadi hal yang sangat ia jaga. Latar belakangnya sebagai pedagang telur dan ayam membuat Aris memahami pentingnya protein bagi tumbuh kembang anak.

Pria berusia 46 tahun ini sadar betul bahwa stunting bisa mengincar siapa pun, termasuk anak-anaknya jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara seimbang. Karena itu, selain hadir secara emosional, ia juga memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak-anaknya.

"Karena dagang telur dan ayam, jadi masalah protein aman," ujarnya.

Ia bercerita, saat anak-anak masih kecil, telur dan ayam hampir selalu tersedia di rumah. Menurutnya, kebutuhan protein tidak boleh diabaikan jika ingin anak tumbuh sehat. Hasilnya kini bisa ia lihat sendiri. Anak sulungnya yang masih duduk di kelas 1 SMA bahkan sudah lebih tinggi darinya.

Meski demikian, Aris memiliki pandangan tersendiri mengenai persoalan stunting yang banyak dibicarakan saat ini. Sebagai kepala desa yang memimpin wilayah dengan sekitar 13 ribu penduduk, ia kerap berhadapan langsung dengan data stunting di lapangan. Menurutnya, persoalan stunting tidak bisa dilihat hanya dari tinggi badan anak semata.

"Padahal di tempat kita kan ada yang ayahnya kecil, ibunya kecil, otomatis anaknya kecil. Padahal, dari sisi kecerdasan, dia cerdas," ujarnya.

Karena itu, ia menilai penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada pengukuran tinggi badan, tetapi juga memastikan anak memperoleh gizi yang cukup, pola asuh yang baik, serta stimulasi yang mendukung perkembangan kognitif anak.

Pandangan tersebut kemudian diterapkan dalam berbagai program desa. Salah satunya melalui kelas ibu hamil, kelas ibu balita, posyandu, hingga Kelas Bapake Mamake.

Program itu tidak hanya membahas makanan bergizi, tetapi juga mengajarkan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Sebab, berdasarkan pengalamannya, stunting bukan hanya persoalan makanan, melainkan juga soal pola asuh dan kondisi keluarga.

"Kalau ayah hadir, ibu lebih tenang. Kalau ibu lebih tenang, proses kehamilan dan pengasuhan juga lebih baik," jelasnya.

Karena itu, Pemerintah Desa Pasinggangan terus mendorong keterlibatan ayah dalam setiap program pengasuhan. Bahkan, dalam beberapa kegiatan, para ayah diajak praktik langsung memandikan bayi, memahami kebutuhan gizi anak, hingga belajar mendampingi istri selama masa kehamilan.

Ketua TP PKK Desa Pasinggangan Kartikawati memberikan telur untuk tambahan asupan gizi pada peserta Kelas Bapake Mamake di Balai Desa Pasinggangan.
Ketua TP PKK Desa Pasinggangan Kartikawati memberikan telur untuk tambahan asupan gizi pada peserta Kelas Bapake Mamake di Balai Desa Pasinggangan.

 

Ia mencontohkan Kelas Bapake Mamake yang menjadi wadah bagi keluarga, terutama suami, agar lebih peduli dan memperhatikan kebutuhan ibu hamil. Selain membahas kesehatan ibu dan anak, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai gizi, pentingnya konsumsi tablet tambah darah, stimulasi dini, hingga pola pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Materi itu sejalan dengan Program Stunting 2.0 dari Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) yang berkolaborasi dengan Tanoto Foundation untuk mempercepat penurunan stunting di tingkat daerah. Program ini berfokus pada Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP), penguatan kapasitas pendampingan keluarga, dan integrasi data lintas sektor.

Bagi Aris, upaya menurunkan angka stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau tenaga kesehatan. Keluarga harus menjadi garda terdepan. Di dalam keluarga, ayah memiliki peran yang sama pentingnya dengan ibu.

Di tengah kesibukannya memimpin desa, Aris tetap berusaha menjaga kebiasaan yang sudah ia bangun sejak anak-anak masih kecil. Sebagai orang nomor satu di Pasinggangan, ia ingin memberikan teladan langsung bagi warganya.

Setiap malam, setelah pulang bertugas, ia selalu menyisihkan waktu berkualitas bersama keluarga. Mendengarkan cerita anak, belajar bersama, mengobrol, bermain, hingga sekadar makan malam bersama menjadi cara sederhana untuk tetap hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Sebab, kata dia, hadiah terbaik untuk anak bukanlah barang atau uang, melainkan waktu.

"Yang paling penting itu waktu untuk anak dengan selalu hadir," jawabnya.

Karena itu, ia membiasakan diri hadir dalam berbagai momen anak-anak, seperti bermain bola, berkotor-kotor di lumpur, hingga sekadar menemani mereka menghadapi masalah sehari-hari.

"Anak-anak kita libatkan dalam proses apa pun. Saya mau seru-seruan pokoknya sama anak," tuturnya.

Aris mengaku bukan tipe ayah yang otoriter. Ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Namun, kebebasan itu dibarengi dengan pelajaran tentang kesabaran.

"Kalau anak minta langsung dikasih, saya enggak. Justru menunda dulu. Biar apa? Biar mereka merasa kecewa dulu, biar enggak seterusnya minta langsung ada," ujarnya.

Menurutnya, anak-anak perlu belajar bahwa dunia tidak serta-merta memberikan semua keinginan. Ia melatih mereka untuk sabar dan menabung.

"Biar anak-anak memahami konsep dunia. Jadi belajar rasa kecewa. Saya melatih kalau minta sesuatu harus sabar dulu, misalnya dengan menabung dulu," imbuhnya.

Kini anak-anaknya memang sudah beranjak remaja. Waktu berkumpul tidak sebanyak dulu. Namun, kedekatan itu tetap terjaga. Saat ditanya apa rahasia menjadi ayah yang dekat dengan anak, Aris hanya tersenyum. Tak ada rasa lelah ikut mengurus anak. Baginya, menjadi ayah adalah anugerah yang membahagiakan.

"Bareng anak itu asyik. Saya menikmati mengurus anak," ujarnya.

Sementara itu, istri Aris yang juga Ketua TP PKK Desa Pasinggangan, Kartikawati, mengaku suaminya selalu siap siaga sejak masa kehamilan. Bahkan, suaminya rela mengundurkan diri dari pekerjaan demi menjaganya dan lebih dekat dengan keluarga.

"Iya, semenjak hamil juga didampingi suami. Kita periksa kehamilan juga didampingi oleh suami, alhamdulillah. Sampai lahiran juga ditungguin, didampingi penuh," kata Kartika.

Ia sangat bersyukur memiliki suami yang mau diajak bekerja sama dalam mengurus anak dan rumah tangga. Kartika bercerita, kehadiran Aris tidak berhenti sampai di ruang persalinan. Di rumah, ia ikut berbagi peran mengurus anak dan pekerjaan domestik, mulai dari memasak, mencuci, hingga menjaga anak saat malam hari.

Kartikawati masih mengingat masa-masa setelah melahirkan ketika mereka tinggal jauh dari keluarga besar. Saat itu, suaminya selalu sigap menggantikan tugasnya.

"Jadi semua pekerjaan seperti masak, mencuci itu memang dari suami," ungkapnya.

Bahkan, Aris berani melanggar pantangan makan pascamelahirkan yang umum di masyarakat. Biasanya, ibu setelah melahirkan dilarang makan bawang, kubis, dan rempah-rempah tertentu. Namun, karena Aris yang memasak, ia menyiapkan makanan apa saja.

"Jadi kalau Bapak itu apa pun dimasak. Jadi sayur semua yang dilarang dimakan setelah melahirkan itu tetap dimasak. Waktu itu harusnya, kalau kata mbah-mbah, tidak boleh makan kobis setelah melahirkan. Tapi suami masak sayur sop pakai kobis biar segar. Saya makan, ya aman-aman saja," kenang Kartikawati.

Ia mengakui, masakan suaminya justru terasa lebih enak karena bumbunya lebih banyak. Sementara itu, hal terpenting yang ia rasakan adalah kedekatan emosional antara ayah dan anak. Putri bungsunya bahkan lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya.

"Anak yang perempuan itu lebih dekat ke ayahnya. Jadi apa-apa itu ayahnya. Ibaratnya malah ibunya nomor dua," bebernya.

Menurut Kartikawati, ada perbedaan signifikan antara anak yang diasuh kedua orang tua dan anak yang hanya diasuh ibu atau nenek. Perbedaan itu terutama terlihat pada manajemen emosi.

"Emosi anaknya biasanya berbeda. Kalau pertumbuhan fisik, insya Allah aman. Tapi biasanya untuk emosi, anak yang juga diasuh ayah berbeda. Mereka lebih bisa akrab dengan orang lain," ujarnya.

Kalimat-kalimat sederhana dari Aris dan Kartikawati seolah merangkum perjalanan hidup keluarga mereka. Dari pedagang ayam yang didorong warga menjadi kepala desa, Aris tumbuh menjadi sosok ayah yang percaya bahwa mencegah stunting bukan hanya soal memberi makanan bergizi, tetapi juga menghadirkan kasih sayang, perhatian, dan waktu bagi keluarga. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#hari keluarga nasional #pengasuhan setara #desa pasinggangan #stunting #tanoto foundation