Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Optimasi Produksi Biogas dari Sekam Padi melalui Liquid Anaerobic Digestion

Miftahul A’la • Jumat, 26 Juni 2026 | 17:44 WIB
Ayudya Izzati Dyah Lantasi saat ujian doktor Ilmu Lingkungan Undip.
Ayudya Izzati Dyah Lantasi saat ujian doktor Ilmu Lingkungan Undip.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Penumpukan limbah sekam padi di berbagai daerah lumbung pangan Indonesia kini berpotensi menjadi solusi mandiri energi. Inovasi ini lahir dari riset mendalam Ayudya Izzati Dyah Lantasi, yang berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Lingkungan dari Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang. 

Melalui disertasinya "Optimasi Model Kinetika L-AD Produksi Biogas Dari Sekam Padi", Ayudya menawarkan formula ilmiah untuk mengubah sisa panen tak bernilai menjadi sumber bioenergi yang stabil. Ia berhasil mempertahankan penelitiannya di hadapan penguji, di Ruang Sidang Utama, TTB.A-lt 1, Gedung Sekolah Pascasarjana, Undip Kamis, (25/6). Sidang dipimpin oleh Dr. Tri Laksmi Indreswari, S.H., M.H (Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan) dan Sekretaris Sidang Dr. Eng. Maryono, S.T., M.T (Ketua Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan)

Ayudya Izzati melakukan penelitian dengan empat tujuan. Pertama, menganalisis pengaruh kadar padatan dan ukuran partikel sekam terhadap jumlah biogas yang dihasilkan. Kedua, memodelkan laju produksi biogas dari waktu ke waktu. Ketiga, menentukan kondisi pengolahan yang paling optimal. Keempat, menilai dampak lingkungan serta kelayakan ekonomi sistem ini.

Peneliti mengatur dua hal utama, yaitu seberapa pekat campuran bahan di dalam reaktor dan seberapa halus sekam digiling sebelum diolah. Jumlah biogas tertinggi diperoleh pada kadar padatan sekitar 10,5 persen dengan ukuran partikel sekam sekitar 2,1 milimeter. Hasil pemodelan menunjukkan kondisi optimal berada pada kadar padatan sekitar 11 persen dan ukuran partikel sekitar 2,3 milimeter.

”Salah satu temuan menunjukkan bahwa menggiling sekam hingga terlalu halus tidak membuat biogas yang dihasilkan menjadi lebih banyak. Terdapat ukuran partikel tertentu yang memberikan hasil terbaik,” ujarnya.

Dari sisi lingkungan, penilaian daur hidup menunjukkan bahwa kondisi pengolahan yang optimal memberikan dampak lingkungan paling rendah. Pada kondisi tersebut, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan sekitar separuh dari kondisi pengolahan yang kurang tepat. Dengan demikian, peningkatan jumlah biogas dapat berjalan seiring dengan penurunan dampak lingkungan.

”Sementara kebiasaan membakar sekam di ruang terbuka tidak hanya melepaskan karbon dioksida, tetapi juga gas metana, dinitrogen oksida, gas karbon monoksida, dan partikel debu halus yang dikenal sebagai PM2,5. Asap dan partikel halus inilah yang mengotori udara dan dapat memicu gangguan pernapasan bagi masyarakat di sekitarnya, sementara metana dan dinitrogen oksida termasuk gas rumah kaca yang ikut memperparah pemanasan global,” tambahnya.

Dari sisi ekonomi, analisis kelayakan untuk reaktor skala komunitas menunjukkan bahwa sistem ini layak diterapkan. Penelitian ini menemukan bahwa hampir seluruh nilai ekonomi sistem berasal dari pemanfaatan ampas cair sisa proses, yang disebut digestate, sebagai pupuk organik cair. Adapun energi biogas hanya menyumbang bagian yang sangat kecil dari total pemasukan.

Dalam penerapannya di lapangan, sistem ini dapat dijalankan di tingkat komunitas, misalnya pada kelompok tani atau unit penggilingan padi. Unit penggilingan padi dapat menjadi tempat pengumpulan sekam, sementara kotoran sapi dari peternak di sekitarnya digunakan untuk menyeimbangkan komposisi bahan. Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memasak, penerangan, atau menyalakan generator kecil, sedangkan ampas cairnya dikembalikan ke lahan pertanian sebagai pupuk.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan sekaligus sebagai bagian dari pengelolaan limbah pertanian. Pemanfaatan limbah menjadi energi dan pupuk ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu menjadikan limbah sebagai sumber daya yang bernilai.

Sebagian hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam prosiding internasional terindeks Scopus, serta diterima untuk diterbitkan pada dua jurnal terindeks Scopus.

Penelitian ini diselesaikan di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Syafrudin, CES., M.T., IPU., ASEAN Eng. sebagai promotor dan Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si. sebagai ko-promotor. Tim penguji disertasi terdiri dari Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati dan Dr.Ling. Ir. Sri Sumiyati, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng., serta Dr. Hashfi Hawali Abdul Matin, S.T., M.Ling. dari Universitas Sebelas Maret sebagai penguji eksternal.

Ujian Disertasi dilaksanakan pada hari Kamis, 25 Juni 2026 di Ruang Sidang Utama, TTB.A-lt 1, Gedung Sekolah Pascasarjana,  Universitas Diponegoro. Sidang dipimpin oleh Dr. Tri Laksmi Indreswari, S.H., M.H (Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan) dan Sekretaris Sidang Dr. Eng. Maryono, S.T., M.T (Ketua Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan)

Editor : Miftahul A’la
#UNDIP #Ilmu lingkungan