Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ratusan Anak Kurang Mampu di Jateng Gagal Lolos Sekolah Gratis karena Masalah Ini

Khafifah Arini Putri • Jumat, 26 Juni 2026 | 14:09 WIB
Sekretaris Komisi E DPRD Jateng Zainuddin.
Sekretaris Komisi E DPRD Jateng Zainuddin.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Tengah 2026 menyisakan catatan kritis. Sebanyak 597 calon murid baru (CMB) dari program sekolah kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinyatakan gagal lolos seleksi.

Kondisi ini langsung memicu sorotan tajam dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah. Pasalnya, ratusan siswa yang tersingkir tersebut seluruhnya berasal dari keluarga kurang mampu yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk mendapatkan akses pendidikan gratis.

Ironisnya, kegagalan ratusan siswa ini terjadi di tengah kondisi kuota sekolah mitra yang sebenarnya masih longgar dan belum terpenuhi sepenuhnya.

Baca Juga: Bursa Transfer Super League 2026/2027, Rekrutan Baru Shin Tae-yong, Persija Jakarta Dikabarkan Sepakat Boyong Kerim Memija

Kuota Sisa 1.342 Kursi, DPRD Desak Solusi Cepat

Sekretaris Komisi E DPRD Jateng, Zainuddin, meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Jateng tidak tinggal diam dan segera mencari jalan keluar konkret agar ratusan anak tersebut tidak putus sekolah.

"Tentu kita masih carikan langkah-langkah strategis untuk (CMB) bisa ditampung di sekolah-sekolah swasta yang masih belum terpenuhi," ujar Zainuddin saat ditemui di kawasan Tembalang, Kota Semarang, Jumat (26/6).

Berdasarkan data SPMB 2026, program sekolah mitra Jateng sebenarnya menyediakan total 5.004 kursi. Namun, jumlah siswa yang terserap baru mencapai 3.662 orang atau sekitar 73 persen saja. Artinya, masih ada daya tampung sisa sebanyak 1.342 kursi yang bisa dimanfaatkan.

Zainuddin menilai, jika kegagalan ratusan siswa tersebut hanya dipicu oleh kendala administrasi, maka Disdik harus bergerak cepat untuk mengupayakan mereka masuk ke sisa kuota yang tersedia.

Jarak Rumah Terlalu Jauh Jadi "Momok" Penghambat

Memasuki tahun kedua berjalan, program sekolah kemitraan yang digagas untuk menekan angka putus sekolah di tingkat SMA/SMK ini dinilai memerlukan evaluasi total. DPRD Jateng mengendus sejumlah hambatan yang membuat program ini belum mampu menyerap target sasaran hingga 100 persen.

Salah satu kendala klasik namun fatal yang ditemukan di lapangan adalah masalah zonasi dan penempatan siswa.

Baca Juga: Video Duka Orang Tua Meninggal Menuai Hujatan Netizen: Nangis Kemarau Bikin Heboh!

Komunikasi Disdik dan Sekolah Swasta Harus Dievaluasi

DPRD Jateng mendesak agar komunikasi antara Disdik Jateng dan pihak sekolah swasta mitra diperkuat sejak awal proses pemetaan rombongan belajar (rombel).

Zainuddin menegaskan bahwa masalah penempatan dan daya tampung seharusnya sudah bisa diantisipasi jika koordinasi dilakukan secara intensif sejak dini.

"Karena tahun kemarin sudah dijalankan, tahun ini juga dijalankan, tapi nyatanya juga belum bisa 100 persen. Ini harus dicari problemnya antara pihak sekolah swasta sebagai penerima rombel dengan dinas," pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#calon murid baru #DPRD JATENG #Komisi E DPRD Jateng #Sistem Penerimaan Murid Baru #JAWA TENGAH