RADARSEMARANG.ID, Mantan Mufti Agung Suriah era rezim Bashar al-Assad, Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun, muncul untuk pertama kalinya di persidangan pidana pada Jumat (26 Juni 2026) di Mahkamah Pidana Keempat, Istana Kehakiman Damaskus.
Hassoun hadir dengan pengawalan ketat, tangan diborgol, dan wajah ditutup. Sidang perdana ini menjadi sorotan besar sebagai bagian dari proses peradilan transisi pasca-jatuhnya rezim Assad akhir 2024.
Latar Belakang Hassoun
Ahmad Badruddin Hassoun lahir tahun 1949 di Aleppo. Ia menjabat sebagai Mufti Agung Suriah sejak Juli 2005 hingga 2021, ketika Bashar al-Assad menghapus jabatan tersebut melalui dekrit presiden.
Sebagai ulama Sunni, ia juga aktif di dunia politik dan pernah menjadi anggota parlemen.
Selama konflik Suriah yang pecah sejak 2011, Hassoun dikenal sebagai pendukung paling vokal rezim Assad.
Ia sering memberikan pernyataan dan fatwa yang mendukung operasi militer pemerintah, termasuk serangan terhadap wilayah oposisi.
Julukan “Mufti Bom Barel” (Mufti of the Barrel Bombs) melekat padanya karena dianggap memberikan legitimasi agama atas penggunaan bom barel yang membabi buta terhadap warga sipil, khususnya di Aleppo, kota kelahirannya.
Ribuan warga sipil dilaporkan tewas akibat senjata tersebut.Ia juga dituduh terlibat dalam memberikan persetujuan eksekusi massal terhadap tahanan politik di penjara seperti Saydnaya.
Penangkapan
Hassoun ditangkap pada Maret 2025 saat mencoba melarikan diri dari Suriah. Ia ditahan di Bandara Internasional Damaskus ketika hendak terbang ke Yordania (dalam perjalanan menuju pengobatan di Oman).
Penangkapannya dilakukan berdasarkan surat perintah jaksa umum setelah ia sempat ditahan dan dibebaskan sesaat pasca-jatuhnya rezim.
Baca Juga: Bupati Pati Non Aktif Sudewo Kembali Disidang, Dakwaan Korupsi dan Pemerasan Masuki Babak Krusial
Dakwaan dan Sidang
Dalam sidang perdana, jaksa membacakan dakwaan yang mencakup:
-
Kejahatan perang
-
Kejahatan terhadap kemanusiaan
-
Hasutan pembunuhan massal
-
Penyalahgunaan jabatan untuk mendukung represi rezim
Sidang sempat dibuka untuk umum sebelum dilanjutkan secara tertutup. Hakim menunda sidang berikutnya ke pertengahan Juli 2026.
Proses hukum ini menjadi simbol penting upaya akuntabilitas terhadap tokoh-tokoh senior rezim Assad.
Banyak korban dan aktivis Suriah melihat persidangan Hassoun sebagai langkah awal menuju keadilan setelah lebih dari satu dekade konflik yang menewaskan ratusan ribu orang dan menyebabkan jutaan pengungsi.Proses persidangan masih berlanjut, dan Hassoun belum menyampaikan pembelaan secara rinci.(tas)