RADARSEMARANG.ID, Seorang perempuan yang baru kehilangan orang tuanya justru menuai hujatan netizen setelah video tangisannya viral di media sosial.
Banyak yang menilai tangisannya terlihat “kemarau” dan kesannya lebih seperti pembuatan konten daripada ungkapan duka yang tulus.
Fenomena ini kembali menyulut perdebatan panas soal etika grief content di era TikTok dan X.
Kritik Pedas yang Viral di X
Akun @alexandernotif memicu badai komentar dengan postingannya:
“Orang tua meninggal malah bikin konten. Mana nangisnya kemarau banget. Pake dibolak-balik lagi kameranya tetep ga keluar air matanya mbak-mbak hadeuh.”
Video yang beredar menunjukkan perempuan tersebut berada di samping jenazah orang tuanya.
Namun, yang menjadi sorotan utama adalah:
-
Air mata yang sulit keluar meski kamera sudah dibolak-balik
-
Ekspresi duka yang dianggap dibuat-buat
-
Kesan bahwa momen sakral sedang dijadikan bahan konten
Baca Juga: Isu Teror Pocong Begal Bersajam di Jawa Tengah Hoax, Polisi Buru Akun Penyebar Konten
Postingan tersebut langsung menuai hujatan netizen massal. Ribuan komentar datang dengan nada tidak puas, menyebut perilaku tersebut tidak pantas dan kurang menghormati orang tua yang telah tiada.
Mengapa Konten seperti Ini Sering Menuai Hujatan Netizen?
Fenomena “grief content” memang sering menuai hujatan netizen di Indonesia. Berikut beberapa alasan utamanya:
-
Momen Paling Pribadi Dijadikan Hiburan Publik
Kehilangan orang tua adalah luka terdalam. Banyak netizen merasa terganggu ketika momen itu diabadikan, diatur kameranya, lalu diunggah untuk mencari like dan komentar. -
Nangis Kemarau yang Terlihat Dipaksakan
Netizen sangat peka terhadap ekspresi palsu. Saat air mata tak kunjung jatuh meski kamera diputar ulang-ulang, kesan “acting” langsung muncul dan memicu hujatan. -
Algoritma yang Menghargai Konten Emosional
Konten duka cenderung cepat viral karena mendapat banyak interaksi. Sayangnya, hal ini membuat sebagian orang tergoda menjadikan kesedihan sebagai strategi konten. -
Nilai Budaya Indonesia
Di Indonesia, menghormati orang tua dan menjaga kesakralan duka masih sangat kuat. Oleh karena itu, video semacam ini mudah sekali menuai hujatan netizen.
Baca Juga: Viral! Rumah Denny Caknan Disulap Jadi Titik COD, Netizen Usul WiFi
Ada yang Membela, Ada yang Menghujat
Tidak semua netizen menyalahkan. Sebagian membela dengan alasan:
-
Mungkin itu cara pelaku duka untuk mengolah kesedihan (catharsis)
-
Berbagi cerita bisa mendapat dukungan dari orang lain
-
Setiap orang punya cara berduka yang berbeda
Namun, mayoritas komentar tetap keras:
“Ada waktu dan tempatnya. Jangan semuanya dijadikan konten.”
Pelajaran Penting dari Kasus Ini
Sebelum mengambil ponsel dan merekam di saat duka, ada baiknya bertanya pada diri sendiri:
-
Apakah ini benar-benar untuk melepas kesedihan, atau untuk engagement?
-
Apakah orang tua yang telah tiada akan senang jika momen ini jadi tontonan publik?
Media sosial memang memberi ruang untuk berbagi, tapi ada batas antara berbagi dan mempertontonkan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua momen harus diabadikan untuk publik. (tas)