Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Video Duka Orang Tua Meninggal Menuai Hujatan Netizen: Nangis Kemarau Bikin Heboh!

Tasropi • Jumat, 26 Juni 2026 | 11:46 WIB
Momen kematian orangtua divideo dan dijadikan konten menuai hujatan di media sosial X.
Momen kematian orangtua divideo dan dijadikan konten menuai hujatan di media sosial X.

 

RADARSEMARANG.ID, Seorang perempuan yang baru kehilangan orang tuanya justru menuai hujatan netizen setelah video tangisannya viral di media sosial.

Banyak yang menilai tangisannya terlihat “kemarau” dan kesannya lebih seperti pembuatan konten daripada ungkapan duka yang tulus.

Fenomena ini kembali menyulut perdebatan panas soal etika grief content di era TikTok dan X.

Baca Juga: Dulu Pimpin Aksi Kritik Sudewo, Kini Husein Menangis Histeris dan Minta Sang Mantan Bupati Dibebaskan

Kritik Pedas yang Viral di X

Akun @alexandernotif memicu badai komentar dengan postingannya:

“Orang tua meninggal malah bikin konten. Mana nangisnya kemarau banget. Pake dibolak-balik lagi kameranya tetep ga keluar air matanya mbak-mbak hadeuh.”

Video yang beredar menunjukkan perempuan tersebut berada di samping jenazah orang tuanya.

Namun, yang menjadi sorotan utama adalah:

Baca Juga: Isu Teror Pocong Begal Bersajam di Jawa Tengah Hoax, Polisi Buru Akun Penyebar Konten

Postingan tersebut langsung menuai hujatan netizen massal. Ribuan komentar datang dengan nada tidak puas, menyebut perilaku tersebut tidak pantas dan kurang menghormati orang tua yang telah tiada.

Mengapa Konten seperti Ini Sering Menuai Hujatan Netizen?

Fenomena “grief content” memang sering menuai hujatan netizen di Indonesia. Berikut beberapa alasan utamanya:

  1. Momen Paling Pribadi Dijadikan Hiburan Publik
    Kehilangan orang tua adalah luka terdalam. Banyak netizen merasa terganggu ketika momen itu diabadikan, diatur kameranya, lalu diunggah untuk mencari like dan komentar.

  2. Nangis Kemarau yang Terlihat Dipaksakan
    Netizen sangat peka terhadap ekspresi palsu. Saat air mata tak kunjung jatuh meski kamera diputar ulang-ulang, kesan “acting” langsung muncul dan memicu hujatan.

  3. Algoritma yang Menghargai Konten Emosional
    Konten duka cenderung cepat viral karena mendapat banyak interaksi. Sayangnya, hal ini membuat sebagian orang tergoda menjadikan kesedihan sebagai strategi konten.

  4. Nilai Budaya Indonesia
    Di Indonesia, menghormati orang tua dan menjaga kesakralan duka masih sangat kuat. Oleh karena itu, video semacam ini mudah sekali menuai hujatan netizen.

Baca Juga: Viral! Rumah Denny Caknan Disulap Jadi Titik COD, Netizen Usul WiFi

Ada yang Membela, Ada yang Menghujat

Tidak semua netizen menyalahkan. Sebagian membela dengan alasan:

Namun, mayoritas komentar tetap keras:

“Ada waktu dan tempatnya. Jangan semuanya dijadikan konten.”

Baca Juga: Sena Kritis Disiram Air Keras, Davina Resmi Laporkan Dipa ke Polres Cakrabumi Kasus Dana CSR! Terikat Janji Episode 84

Pelajaran Penting dari Kasus Ini

Sebelum mengambil ponsel dan merekam di saat duka, ada baiknya bertanya pada diri sendiri:

Media sosial memang memberi ruang untuk berbagi, tapi ada batas antara berbagi dan mempertontonkan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua momen harus diabadikan untuk publik. (tas)

Editor : Tasropi
#bahan konten #hujatan netizen #tontonan publik #viral di media sosial