Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Diduga Jadi Korban Kekerasan Kakak Kelas, Siswa SMP di Semarang Trauma dan Tak Sekolah Hampir 3 Bulan

Muhammad Hariyanto • Kamis, 25 Juni 2026 | 19:22 WIB
Ibu korban menangis saat menceritakan kejadian anaknya yang mengalami dugaan kasus kekerasan oleh kakak kelas
Ibu korban menangis saat menceritakan kejadian anaknya yang mengalami dugaan kasus kekerasan oleh kakak kelas

RADARSEMARANG, Semarang - Seorang siswa SMP di Kota Semarang babak belur diduga menjadi korban kekerasan oleh Kaka kelas. Kasus ini, korban merasa trauma dan sudah tidak sekolah hampir tiga bulan.

Orang tua perempuan korban, RM, menceritakan dugaan kekerasan yang dialami anaknya dipicu adanya kesalahpahaman antara korban dengan kakak kelasnya, yakni saling ejek di media sosial sejak tanggal 28 Pebruari 2026. Hingga akhirnya berujung terjadi dugaan kekerasan tersebut.

"Taunya setelah libur lebaran, setelah pulang sekolah saya lihat daerah pipinya itu dan hidung biru (memar). Saya menanyakan sama anak saya, "Kenapa kok biru?" Dia tidak mengaku. Dia bilang itu habis kebentur sama pintu lawan sekolah," ungkapnya didampingi kuasa hukumnya, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Diduga Aniaya Adik Kelas di Toilet Sekolah, Dua Siswa SMP di Semarang Dilaporkan ke Polisi

"Namanya anak laki-laki saya pikir wajar. Setelah kedua harinya itu birunya (memar) itu semakin kelihatan. Tapi dia tetap tidak mengaku juga. Hari keempat empat, dia mengeluh di bagian badannya enggak enak. Dia minta izin tidak masuk sekolah," lanjutnya.

Merasa penasaran, sang ibu mendesak menginterogasi K dan akhirnya berterus terang memar tersebut akibat mendapat perlakukan dugaan kekerasan, dilakukan oleh kakak kelas.

"Saya kaget, syok karena kenapa baru sekarang diceritain, kalau dia itu dipukulin sama kakak kelas," bebernya.

Peristiwa ini dialami K dilingkungan sekolahan pada sat Jam istirahat, hari Senin, 30 Maret 2026.

Awalnya K, diajak ke ruangan toilet sekolahan oleh kakak kelasnya tersebut hingga terjadi adanya dugaan kekerasan fisik.

"Terus saya tanya apakah pihak sekolah itu mengetahui?. Pihak sekolah mengetahui tapi tidak memberitahu saya. Karena sudah tahu saya langsung mencoba menghubungi sekolah," katanya.

Konfirmasi terhadap pihak sekolah ini awalnya dilakukan melalui pesan WhatsApp dalam grup orangtua wali murid dan guru.

"Sekolah itu pas saya tanya, "Ini kenapa ya, Bu Anak saya kok biru, tapi ada kejadian Ibu enggak ngelapor ke saya." Itu enggak langsung direspon. Setelah beberapa waktu dia respon. Dia bilang, "Bu, eh nanti balasnya di Japri aja, jangan di grup sekolah." katanya menirukan ucapan.

"Saya bilang, "Saya enggak mau." Biar orang tua ini tahu, biar menjaga anaknya. Seperti ini rupanya lingkungan sekolahnya, saya bilang. itu. Itu juga wali kelasnya enggak langsung hubungi saya," lanjutnya.

Baca Juga: Kejari Kawal Penertiban Penunggak BPJS Rp 13,7 Miliar, Pemkot Semarang Kejar Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Baru 46 Persen

Setelah RM, kemudian, berganti pihak orang tua laki-laki korban yang mengkonfirmasi terhadap pihak sekolahan. Namun belum mendapat jawaban yang dirasa menyelesaikan permalasahan.

"Nah, setelah itu suami saya menghubungi kepala sekolah mengenai itu. Karena saya ngadu sama suami saya ngadu. Saya enggak tahu apa isi chat-nya. Enggak berapa lama suami saya diblokir sama kepala sekolah. Jadi tidak bisa komunikasi. Setelah itu baru komunikasinya ke wali sekolah," bebernya.

Langkah awal yang dilakukan adalah melakukan penyelesaian di lingkungan sekolah. Pihaknya menyebut, sempat mendapat undangan untuk klarifikasi ke sekolah bertemu Kepala Sekolah dan Guru BK, pada Sabtu, 4 April 2026.

Menurutnya, hanya kami bertiga, bukan mediasi bersama para pelaku beserta orang tuanya. Namun belum membuahkan hasil.

"Saya dipanggil sama pihak sekolah, tapi hanya antara saya dan guru BK. Kenapa ini dipanggilnya enggak langsung ada kayak pertemuan wali pelaku dan pelaku. Harapan saya dipanggil itu, ternyata enggak. Kita disuruh nunggu," katanya.

"Akhirnya kita disuruh nunggu tanggal 16 April 2026 yang dipanggil hanya wali satu pelaku dan pelaku. Enggak ada juga hasil yang disepakati," sambungnya.

Menurutnya, pasca kejadian tersebut K mengalami trauma dan tidak berangkat sekolah. Awalnya yang ceria dan percaya diri tinggi, telah berubah banyak mengurung diri dan pendiam. 

"Setelah kejadian ini dia lebih sering kayak sendiri, mengurung diri, suka kayak ngelamun gitu, suka kosong-kosong gitu pikirannya. Saya kalau cerita anak ini kayaknya milu," katanya.

RM juga langsung meneteskan air matanya, tak kuasa mengingat kisah Pilu yang dialami putranya.

Menurutnya juga, sempat tidak sekolah sejak tanggal 3 April 2026 pasca kejadian. Kemudian, sempat kembali masuk sekolah tanggal 31 April hingga 2 Mei 2026.

"Dia sekolah menahan diri untuk berangkat melangkah sekolah. Itu masih ada intimidasi pengancaman," katanya.

Baca Juga: 183 Petugas Sensus Ekonomi Turun ke Lapangan, BPS Salatiga Minta Warga Tak Terpengaruh Hoaks

Pengakuan K, sempat kembali diajak ribut dan berantem oleh kakak kelasnya tersebut di Gor Tri Lomba Juang. Namun K lebih memilih menghindar dan lari menuju ke tempat aman.

"Jadi waktu ke perpustakaan ditarik belum berantem dia enggak mau dia lari ke tempat teman-teman yang ramai," terangnya.

Menurutnya, K merupakan anak laki-laki pertama dari pasangan RM dan H, bertempat tinggal di wilayah Kecamatan Pedurungan.

"Biasanya dia semangat. Ini dia mau main-main keluar takut, apa-apa takut. Ini anak pertama, anak laki-laki pertama. Sayang, enggak ada di dunia ini, yang di mana pun rela anak pertamanya dia membesarkan anak yang penuh dengan kasih sayang dengan doa," katanya.

Pihaknya juga berharap, anaknya bisa kembali percaya diri dan punya hak untuk belajar sekolah, serta main-main sama temannya. Menurutnya sudah hampir tiga bulan tidak sekolah pasca kejadian ini.

"Itu yang saya saya inginkan, dia kembali seperti yang anak-anak yang dulu," bebernya dengan tangisan sesenggukan. 

"Sementara saya pengen anak saya kembali sekolah, karena kan hampir 3 bulan enggak sekolah," harapnya. (mha)

Editor : Baskoro Septiadi
#smp nasima Semarang #kasus kekerasan smp di Semarang #siswa smp di Semarang dilaporkan #kekerasan pelajar smp Semarang #kekerasan Semarang