RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sejumlah langkah pemulihan psikologis langsung dilakukan pascainsiden penusukan yang terjadi saat kegiatan pengambilan rapor di SDN Kalipancur 2, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Penusukan dilakukan oleh wali murid, yakni suami pada istrinya sewaktu mengambil rapor.
Peristiwa yang disaksikan sejumlah siswa itu menimbulkan dampak emosional yang cukup kuat, terutama bagi anak-anak yang berada di lokasi kejadian.
Kepala DP3A Kota Semarang, Eko Krisnarto menyatakan paparan kekerasan secara langsung pada anak dapat memicu respons trauma.
Di antaranya seperti rasa takut berlebih, cemas, hingga terganggunya rasa aman di lingkungan sekolah.
“Anak-anak yang menyaksikan langsung kejadian tersebut berpotensi mengalami shock psikologis, sehingga perlu segera diberikan pendampingan,” ujarnya.
Ia menyebut pendampingan awal difokuskan pada sekitar 10 siswa yang berada di lokasi saat kejadian, Jumat lalu. Pendekatan yang digunakan dibuat ringan dan ramah anak, dengan aktivitas seperti bernyanyi, menggambar, mewarnai, serta permainan sederhana untuk membantu menurunkan ketegangan emosional.
Selain itu, anak-anak juga diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka. Cara ini menurutnya menjadi salah satu metode untuk membantu mereka memproses pengalaman yang mengejutkan tanpa tekanan.
Proses pemulihan tersebut melibatkan satu psikolog klinis dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak serta empat konselor dari Universitas Katolik Soegijapranata.
Ia menyebut pendampingan dilakukan untuk memastikan kondisi psikologis anak kembali stabil dan rasa aman di lingkungan sekolah dapat pulih secara bertahap.
Dari hasil pendampingan itu, sejumlah anak dilaporkan mulai menunjukkan perubahan suasana hati yang lebih baik setelah kegiatan berlangsung. Kendati demikian, tanda-tanda ketakutan dan kewaspadaan masih perlu diperhatikan dalam beberapa waktu ke depan.
“Secara umum mereka mulai lebih tenang, tetapi pemulihan psikologis tetap harus dilakukan secara bertahap,” kata Eko.
Pendampingan juga direncanakan menyasar para guru yang turut menyaksikan peristiwa tersebut. Mereka dinilai memiliki potensi mengalami dampak psikologis lanjutan akibat pengalaman traumatis di lingkungan kerja. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi