RADARSEMARANG.ID - Upaya meningkatkan minat baca dan kemampuan numerasi siswa sekolah dasar terus dilakukan para pendidik di Kota Semarang. Salah satunya melalui inovasi pembelajaran yang dikembangkan Kepala SDN Jatisari, Lia Maylani.
Melalui Webinar Kombel Tugu Muda seri ke-122, Lia berbagi praktik baik di hadapan ratusan guru dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini diikuti sekitar 400 guru dari berbagai daerah. Pada kesempatan itu Lia membawakan materi bertema Buku Pop-Up Berbasis Kearifan Lokal Kota Semarang dengan Proyek Kecilku untuk Penguatan Literasi dan Numerasi.
Diketahui, Kombel Tugu Muda sendiri merupakan ruang belajar kolaboratif hasil kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang yang selama ini aktif menjadi wadah berbagi inovasi pembelajaran bagi guru.
Lia menyampaikan inovasi pembuatan buku pop-up ini lahir dari keresahan guru yang selama ini banyak ditemui di sekolah dasar. Mulai dari minat baca siswa yang masih rendah, numerasi yang sering dianggap sulit dan abstrak, hingga pembelajaran kurang kontekstual. Dampaknya anak-anak cepat bosan. Sebab belajar hanya mengandalkan hafalan sehingga sulit dipahami.
“Anak-anak jadinya cepat bosan. Belajar kadang hanya menghafal saja. Mereka juga sulit mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi itu diperparah dengan media pembelajaran yang belum cukup menarik. Selain itu juga masih minim guru yang menghadirkan budaya lokal di dalam kelas.
Lia mengatakan, banyak anak justru lebih mengenal budaya luar dibandingkan kekayaan daerahnya sendiri. Padahal, Kota Semarang memiliki banyak potensi budaya yang bisa dijadikan sumber belajar.
“Dulu anak-anak mungkin tahu Menara Eiffel, tapi belum tentu tahu Lawang Sewu. Mereka juga belum tentu tahu makanan khas seperti ganjel rel. Padahal kearifan lokal Kota Semarang sangat kaya, ini yang mengusik kami untuk berinovasi," bebernya.
Dari situ, Lia bersama tim Green Squad mulai menggagas sebuah media pembelajaran yang lebih kontekstual, menarik, dan dekat dengan kehidupan siswa. Tim tersebut terdiri dari Lia Maylani, Susilo Adinugroho, Rustantiningsih, dan Joko Susanto.
Mereka juga merupakan fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation sejak 2021. Inovasi buku pop-up itu menjadi proyek kedua mereka dalam program inovasi Fasilitator Daerah Perubahan tahun 2025.
Melalui webinar itu, Lia juga memaparkan data Rapor Pendidikan Nasional Kota Semarang tahun 2024 dan 2025. Pada jenjang SD, capaian literasi dan numerasi mengalami penurunan. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan bahwa penguatan literasi dan numerasi masih membutuhkan perhatian serius, khususnya di sekolah dasar.
Karena itu, ia dan timnya mencoba menghadirkan pembelajaran yang tidak sekadar membuat siswa membaca atau berhitung. Tetapi juga mengajak mereka mengeksplorasi pengalaman nyata melalui budaya lokal.
Mereka pun membuat buku pop-up berbasis kearifan lokal Kota Semarang yang dilengkapi visual tiga dimensi, audio cerita melalui QR code, hingga proyek kecil yang harus dilakukan siswa setelah membaca.
“Anak-anak sekarang lebih tertarik visual dan pengalaman nyata. Jadi kami mencoba membuat bacaan yang tidak hanya dibaca, tapi juga dialami,” jelasnya.
Lia menerangkan, buku tersebut dirancang agar siswa tidak hanya membaca teks cerita, tetapi juga aktif melakukan berbagai aktivitas pembelajaran. Mulai dari mendengarkan audio cerita, menyimak isi bacaan, menceritakan kembali, hingga menulis laporan sederhana.
“Jadi di dalam buku itu ada aktivitas literasi dan numerasi sekaligus,” katanya.
Pada aspek numerasi, siswa diajak menghitung, membandingkan bentuk, membaca pola, hingga memahami konsep sederhana matematika melalui objek budaya Kota Semarang.
Misalnya saat mengenal Lawang Sewu, siswa diminta mengamati bentuk bangunan, menghitung jumlah pintu atau jendela, mengukur benda, hingga mengenali pola bentuk geometris dari bangunan tersebut.
Sementara dalam aktivitas proyek kecilku, siswa diajak melakukan praktik langsung yang berkaitan dengan isi bacaan. Misalnya setelah membaca cerita mengenai tradisi ruwanda, siswa praktik membungkus nasi tempelangan atau sego kethek. Ada pula proyek membuat jamu jun, menari menggunakan selendang khas Semarang, hingga eksplorasi budaya bersama keluarga.
“Jadi anak tidak hanya membayangkan. Selain membaca, mereka juga mengalami,” ujarnya.
Menurut Lia, proyek kecil itu sengaja dibuat sederhana agar mudah diterapkan guru di sekolah masing-masing. Bahkan, petunjuk kegiatan juga disisipkan dalam buku melalui amplop kecil maupun QR code khusus.
Ia menjelaskan, visual tiga dimensi dalam buku pop-up menjadi daya tarik utama bagi siswa. Saat buku dibuka, anak-anak bisa melihat bentuk bangunan, makanan, maupun objek budaya dalam bentuk pop-up yang lebih hidup.
“Ketika pertama melihat bukunya, anak-anak langsung penasaran. Mereka membuka-buka bukunya karena merasa tertarik,” katanya.
Dari situ, rasa ingin tahu siswa mulai tumbuh secara alami. Anak menjadi lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan berani menyampaikan pendapat.
“Ketika anak merasa senang saat belajar, otomatis rasa ingin tahunya tumbuh. Dari situ rasa percaya diri mereka juga ikut berkembang,” jelasnya.
Tak hanya berdampak bagi siswa, Lia mengatakan inovasi tersebut juga membantu guru menciptakan suasana kelas yang lebih interaktif. Pembelajaran menjadi lebih hidup karena guru memiliki media yang lengkap, mulai dari gambar, audio, hingga proyek praktik.
Menurutnya, buku tersebut juga memudahkan integrasi lintas mata pelajaran. Tidak hanya Bahasa Indonesia, tetapi juga Matematika, IPA, IPS, hingga Seni Budaya.
“Guru merasa pembelajaran jadi lebih menarik dan lebih mudah dikembangkan,” tuturnya.
Ia menjelaskan proses pembuatan buku pop-up ini cukup panjang. Mereka terlebih dahulu mengikuti pelatihan penulisan narasi, pelatihan membuat pop-up book, hingga penyusunan proyek kecil yang relevan dengan isi bacaan.
Hingga kini, sudah ada lima buku yang dihasilkan melalui pelatihan tersebut. Di antaranya Jejak Tradisi di Kota Atlas, Ciko Sang Detektif Rasa, Sehari Jelajah Sejarah Kota Semarang, Menjelajah Pesona Wisata Kota Semarang, serta Cerita Seru Arka dan Naila. Ia menambahkan inovasi tersebut kini mulai diterapkan di sejumlah sekolah. Respons siswa pun sangat positif.
“Biasanya siswa cepat bosan membaca. Tapi ketika menggunakan buku pop-up, mereka malah berebut ingin mencoba,” ujarnya.
Menurut dia, pembelajaran berbasis kearifan lokal juga membuat siswa lebih bangga terhadap budaya daerahnya sendiri. Pihaknya berharap ide tersebut dapat terus dikembangkan oleh guru lain sesuai kebutuhan sekolah masing-masing. Tidak harus bertema budaya lokal, tetapi bisa diterapkan di berbagai mata pelajaran dengan konsep narasi sederhana dan proyek kecil yang membuat siswa belajar melalui pengalaman nyata.
“Kami berharap guru bisa membuat pembelajaran yang relevan, menarik, dan dekat dengan kehidupan anak-anak. Literasi dan numerasi itu bukan hanya diajarkan, tapi harus dialami,” tandasnya.
Koordinator Kombel Tugu Muda, Galih Suci Pratama mengatakan webinar yang menghadirkan Lia merupakan bagian dari kolaborasi dengan Tanoto Foundation. Melalui tema tersebut, para Fasda berbagi praktik baik terkait penguatan literasi, numerasi, dan pembelajaran inovatif.
Menurut Galih, tema webinar ditentukan berdasarkan kebutuhan guru yang dihimpun melalui survei. Ia menilai Kombel Tugu Muda turut menjadi salah satu ruang berbagi yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kota Semarang.
"Harapannya praktik-praktik yang dibagikan bisa menjadi referensi bagi guru maupun kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah," ujarnya.
Sementara Kepala Bidang GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Miftahudin mengatakan kolaborasi dengan Tanoto Foundation telah berlangsung sejak 2021. Melalui forum tersebut, berbagai inovasi pembelajaran dari guru berprestasi dan fasilitator daerah dibagikan kepada peserta.
"Harapannya praktik baik yang diperoleh guru tidak berhenti di webinar, tetapi diterapkan dan dikembangkan di sekolah masing-masing," katanya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi