Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Stop Main Clickbait! Pakar Psikologi Digital Ingatkan Influencer Punya Tanggung Jawab Sosial

Adennyar Wicaksono • Selasa, 9 Juni 2026 | 19:56 WIB
Ilustrasi konten yang tidak sesuai fakta dan merugikan pelaku UMKM
Ilustrasi konten yang tidak sesuai fakta dan merugikan pelaku UMKM

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Arus informasi melalui media sosial yang diaktori para influencer saat ini menjadi asupan harian masyarakat. 

Konten viral menjadi paling menarik untuk disimak hingga menjadi rujukan. Selain mudah dicerna, tak jarang mampu menggugah emosional audiens netizen.

Namun demikian, akan menjadi masalah saat konten viral di era semua orang bisa jadi 'influencer', muncul pertanyaan, bukan lagi 'bisa bikin konten viral atau enggak', tapi 'setelah viral, pesan itu ditangkap dengan benar atau malah bikin gaduh?”.

Hal inilah yang disoroti Gary Collins Brata Winardy, M.Psi., Psikolog, seorang pakar dan akademisi Psikologi Digital dari Binus University Semarang. Mengamati bagaimana perkembangan media digital memengaruhi cara manusia belajar dan berinteraksi.

Salah satunuly,a tentang etika kreator media sosial yang semakin terkisis di era gempuran klikbait, overload serta fenomena influencer dan buzzer.

Fenomena Klikbait dan Lepas Tangan

Sebagai dosen dan Subject Content Coordinator Psikologi Digital, Gary lebih menitikberatkan rasa tanggungjawab sosial kreator saat melempar konten di media sosial. 

"Klikkbait bukan salah, tapi lepas tangan itu masalah, mengedukasi itu tugasnya nggak cuma ngasih informasi. Edukator harus klarifikasi. Memastikan info yang diberikan itu tepat dan ditangkap dengan tepat juga," katanya, kepada media Selasa 9 Juni 2026.

Ia menyoroti permasalahaan banyak kreator justru berlomba mengejar views dengan memaakai judul menggemparkan, gambar reaksi heboh, tanda seru di mana-mana. 

"Manusia itu suka hal baru dan lebih tertarik sama yang punya muatan emosi. ‘Kebijakan ini berbahaya!’ lebih menarik daripada ‘Pemerintah memutuskan perubahan fiskal’," katanya.

Fatalnya, kata dia, setelah konten tayang dan dapat like, banyak yang langsung lepas tangan. Misi edukasi yang digemborkan terkaburkan.

"Padahal idealnya ada klarifikasi, memastikan ditangkap ke arah yang benar. Jangan cuma mikir view dan like," tegas Gary.

Info Overload Bikin Kita Lupa Peduli ke Sekitar

Gary juga menyinggung perbedaan media dulu dan sekarang. Jika dulu koran terbit sehari sekali. Sekarang media harus update tiap jam. Akibatnya Kualitas berita ikut berubah.

"Dengan buka sosial media, kita jadi lebih aware sama isu di luar sana sampai beranggapan isu di sekitar kita itu kecil. Padahal manusia punya level energi tertentu. Misal, kalau energi habis buat kasihan ke orang di Rusia atau Timur Tengah, bisa-bisa kita nggak punya energi buat care ke lingkungan sekitar," jelasnya.

Menurutnya, dampak nyata lebih terasa jika kreator bisa memberi manfaat langsung ke lingkungan terdekat. 

"Peduli isu global boleh saja namun jika hanya membuat overthinking tanpa bisa berbuat apa-apa, itu tidak sehat," katanya.

Garis Tipis Influencer dan Buzzer

Gary mengingatkan, semua kreator pasti punya motivasi dibalik konten yang diproduksi dan publikasi di platform media sosial. Entah untuk jualan media, bangun personal branding, atau memang mengedukasi.

Peran influencer mulai terdistraksi dengan anggapan sampai tuduhan sebutan sebagai 'buzzer', adalah ketika audiens merasa ada agenda tersembunyi.

"Kunci utamanya clear dari awal maunya ke mana. Kalau motivasinya ketutup, ya wajar kalau dituduh buzzer," katanya.

Short Form Video: Cepat Tapi Kurang Ruang untuk Berpikir

Maraknya konten 1 menit di TikTok dan Instagram Reels juga jadi perhatian dosen Prodi Psikologi Binus University Semarang ini.

Short konten media sosial riskan berbahaya jika tidak difilter bagi anak-anak, orang dewasa pun tidak terlepas jebakan itu.

Konten short bahkan banyak direspon cenderung reaktif, memicu komentar adu argumen. 

"Itu bukan cara bagus buat dapat informasi. 1-2 menit seberapa padat sih. Seberapa banyak mendorong orang berpikir kritis? Nggak ada ruang buat elaborasi," kata Gary.

Padahal kebutuhan dasar manusia bukan sekadar tahu tren makanan di kota sebelah atau artis beli apa, tapi mengelola harapan, pikiran, dan emosi supaya lebih bahagia.

Saran bagi Kreator: Kasih Link, Kasih Disclaimer

Karenanya, Gary mengingatkan kepada kreator untuk lebih bijak saat mempublikasi konten short disarankan memiliki link rujukan agar orang bisa mencari informasi literasi lebih lanjut. Saran lainnya, memberikan disclaimer bahwa konten singkat tidak bisa membahas semua sudut pandang. 

"Ingat influencer itu influence, tujuannya orang lebih paham dan lebih happy, tidak cuma buat enrich diri sendiri. Semua aktor sosial punya tanggung jawab kalau habis nonton konten kita orang jadi pesimis, berarti kita harus sensitif di sana," pungkasnya.***

Editor : Agus AP
#genpi #KONTEN KREATOR