Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

GenPi Soroti Saat Views Lebih Penting dari Fakta: PR Besar Pariwisata Semarang di Era Influencer

Adennyar Wicaksono • Senin, 1 Juni 2026 | 13:41 WIB
salah satu spot ikonik foto di Kota Lama Semarang (sumber: radarmagelang)
salah satu spot ikonik foto di Kota Lama Semarang (sumber: radarmagelang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Media sosial memang jadi senjata utama promosi wisata. Tapi di balik konten estetik dan viral, muncul ancaman baru, influencer abal-abal yang lebih mengejar views ketimbang fakta.

Fenomena ini disorot keras oleh kimunitas penggiat pwriwisata Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kota Semarang, sebagai tantangan serius bagi sektor pariwisata daerah.

Menurut Kuspriyatna, Senior GenPI Kota Semarang, influencer punya tanggung jawab moral besar karena konten mereka langsung membentuk persepsi publik terhadap suatu destinasi. Sayangnya, banyak kreator yang asal unggah tanpa verifikasi.

Baca Juga: Lewat Pameran Filateli, Wali kota Agustina dan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon Tegaskan Pentingnya Merawat Memori Bangsa

"GenPI Kota Semarang menyayangkan maraknya influencer yang hanya mengejar views dan engagement tanpa melakukan verifikasi data terlebih dahulu. Informasi yang tidak akurat dapat berdampak langsung terhadap citra pariwisata daerah," kata Kuspriyatna, kepada media Minggu 31 Mei 2026.

Hoaks wisata ternyata bukan sekadar 'salah info'. GenPI mencatat beberapa dampak yang sudah dirasakan di lapangan diantaranya, ekspektasi vs realita, foto dan video yang diedit berlebihan bikin wisatawan kecewa saat datang ke lokasi.

Kemudiaan ada narasi negatif tak terverifikasi, biasanya terkait ulasan ngawur soal harga, pelayanan, atau fasilitas cepat menyebar dan merusak reputasi Semarang sebagai kota wisata ramah dan aman.

Informasi Keliru, berkisar soal kaim fasilitas yang tidak ada, tarif masuk dan parkir salah, hingga narasi akses jalan yang dilebih-lebihkan.

Lebih menggelitik, masih muncul esploitasi mstik, seringnya tentang bangunan bersejarah dibumbui cerita horor demi konten, padahal mengaburkan nilai sejarah dan edukasi aslinya.

"Hoaks semacam ini dapat menyebabkan penurunan minat kunjungan dalam jangka pendek karena wisatawan cenderung memilih destinasi lain yang dianggap lebih jelas dan terpercaya informasinya," jelas Kuspriyatna.

Parahnya, hoaks berulang bikin masyarakat skeptis. Bahkan rekomendasi resmi dari pemerintah pun ikut dipertanyakan karena netizen sudah terlanjur trauma tertipu konten palsu.

Untuk melawan banjir misinformasi, GenPI Kota Semarang menjalankan strategi edukatif, seperti kampanye 'Saring Sebelum Sharing', mengajak publik cek info dulu ke akun resmi pemerintah, pengelola destinasi, atau kanal GenPI sebelum memutuskan berkunjung.

Lalu memperbanyak konten validatif, dengan memroduksi konten berbasis data lapangan soal harga tiket, jam operasional, fasilitas, dan rute menuju destinasi.

Baca Juga: Spesifikasi Yamaha TMAX 560 Skutik Gambot Motor Bertenaga 500cc

Workshop Literasi Digital juga digencarkan, menggelar pelatihan untuk komunitas kreator lokal tentang etika promosi wisata, verifikasi data, dan tanggung jawab membangun narasi destinasi.

GenPI juga mendorong model kerja sama 'triple helix', yakni melibatkan pemerintah sebagai regulator dan penyedia data, komunitas pariwisata seperti GenPI dan Pokdarwis sebagai jembatan akar rumput, dan influencer kredibel sebagai teladan etika konten.

Editor : Baskoro Septiadi
#sosial media #Pariwisata Kota Semarang #influecer