RADARSEMARANG.ID – Tragedi meninggalnya satu keluarga di kawasan wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, masih menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar.
Di tengah proses penyelidikan yang masih berlangsung, terungkap alasan keluarga tersebut memasak barbeque sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di dalam tenda camping mereka pada Rabu (27/5/2026).
Keluarga tersebut terdiri dari ayah bernama Ali Munawar (52), sang istri Magfiroh Alvira (43), serta dua putranya, Bagas Amar Hakiki (21) dan Alfino Evan Hakiki (16). Keempatnya ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tubuh mulai kaku di area perkemahan wisata Posong.
Belakangan, aktivitas memasak barbeque yang dilakukan keluarga itu menjadi perhatian penyidik. Dugaan awal muncul setelah polisi menemukan sejumlah sampel makanan di lokasi kejadian yang kini tengah diperiksa di laboratorium forensik.
Baca Juga: Semen Gresik Distribusikan 12 Ekor Sapi dan 4 Ekor Kambing untuk Masyarakat Rembang dan Blora
Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti kematian empat korban tersebut. Namun, ada indikasi awal yang mengarah pada dugaan keracunan.
Di tengah penyelidikan itu, keluarga korban akhirnya mengungkap alasan mengapa Ali Munawar dan keluarganya memasak barbeque di dalam area camping tersebut.
Robachul Muslim (40), adik dari Magfiroh Alvira, mengatakan bahwa barbeque memang sudah menjadi kebiasaan keluarga mereka saat berkumpul bersama. Aktivitas memasak bersama dianggap sebagai simbol kebersamaan keluarga yang selama ini selalu dijaga.
Menurut Muslim, Ali Munawar memiliki kemampuan memasak barbeque karena pernah bekerja di Korea Selatan. Pengalaman tersebut membuat almarhum cukup mahir dalam mengolah berbagai jenis makanan panggang.
Baca Juga: Polisi Bilang Begini Soal Hasil Autopsi Korban Tewas Tragedi Glamping di Temanggung
“Bahkan peralatan dan perlengkapan masaknya komplit, mulai dari kompor dan yang lainnya itu punya,” katanya.
Kebiasaan barbeque itu pula yang akhirnya dilakukan keluarga saat memutuskan bermalam di kawasan wisata Posong. Mereka datang dengan membawa perlengkapan camping lengkap, termasuk alat memasak.
Meski demikian, hingga kini pihak keluarga masih menunggu hasil resmi autopsi dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kematian Ali Munawar dan keluarganya.
“Kami masih menantikan hasil lab tersebut untuk mengetahui penyebab pasti kematian keluarga mas Ali,” ungkap Muslim , Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Gas Karbon Monoksida Diduga Jadi Penyebab Meninggalnya 4 Wisatawan Sekeluarga di Temanggung
Ia juga menyampaikan informasi awal yang diterima keluarga terkait dugaan penyebab kematian para korban.
“Informasinya memang meninggal karena keracunan, tapi ini antara keracunan CO gas atau keracunan makanan karena sianida, itu yang bisa kami sampaikan seperti informasi yang didapatkan,” imbuhnya.
Dugaan keracunan karbon monoksida atau gas CO menjadi salah satu kemungkinan yang kini sedang didalami penyidik. Gas karbon monoksida dikenal berbahaya karena tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga sering kali sulit disadari korban ketika terhirup dalam jumlah besar, terutama di ruang tertutup seperti tenda camping.
Selain kemungkinan keracunan gas, polisi juga memeriksa kemungkinan adanya zat berbahaya pada makanan yang dikonsumsi korban. Sejumlah sampel makanan dan peralatan memasak telah diamankan untuk diuji di Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah.
Muslim menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda tindak kriminal dalam kejadian tersebut. Barang-barang berharga milik keluarga korban juga ditemukan masih utuh di lokasi.
Baca Juga: TASPEN Salurkan Pembayaran Gaji Ke 13 Pensiunan ASN Mulai 2 Juni 2026
“Ponsel, kamera, perhiasan, dan mobil semua masih ada,” ungkapnya.
Selain itu, hasil pemeriksaan awal pada tubuh korban juga tidak menunjukkan adanya tanda kekerasan.
“Tidak ditemukan luka akibat senjata tajam maupun benda tumpul di tubuh korban,” ujar salah satu kerabat keluarga.
Kematian satu keluarga ini langsung mengundang perhatian luas masyarakat. Banyak warga merasa kehilangan karena Ali Munawar dan keluarganya dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, dan dermawan.
Kerabat sekaligus adik sepupu korban, Muhamad Faerudin, mengenang sosok Ali Munawar sebagai orang yang sangat peduli terhadap lingkungan sekitar.
Bahkan sehari sebelum keberangkatan ke Posong, Ali disebut sempat menyerahkan seekor kambing kurban untuk musala di Dusun Bendosari, Desa Kebumen.
“Sebelum pergi sempat menyerahkan satu kambing kurban untuk musala di lingkungan Bendosari,” jelas Faerudin.
Menurut Faerudin, Ali Munawar dan keluarganya memang jarang menetap di Bendosari karena tinggal di wilayah Ambarawa. Namun mereka rutin datang setiap pekan untuk mengurus kebun anggur dan alpukat milik keluarga. Di mata warga sekitar, keluarga tersebut dikenal sangat baik dan mudah bergaul dengan masyarakat.
“Tidak hanya Ali dan Fira, anak-anaknya, Bagas dan Alvino juga cukup baik dengan warga di lingkungan Dusun Bendosari ini,” jelasnya.
Ali Munawar diketahui tinggal bersama keluarganya di RT 01 RW 03 Temenggungan, Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Sehari-hari, almarhum membantu istrinya mengelola toko di Ambarawa.
Selain berdagang, Ali juga aktif mengelola kebun anggur dan alpukat di Dusun Bendosari. Sosoknya dikenal pekerja keras dan dekat dengan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Cari Ikan Pakai Rakitan Drum Plastik, Warga Terboyo Semarang Ditemukan Tewas Mengambang
Duka mendalam juga dirasakan oleh teman-teman Bagas Amar Hakiki. Pemuda berusia 21 tahun itu diketahui merupakan mahasiswa Sastra Perancis Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kerabat keluarga, Asadi (51), mengungkapkan bahwa Bagas sebenarnya sedang mempersiapkan wisuda yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang.
“Skripsinya hampir selesai dan Bagas juga menargetkan bisa ikut wisuda UGM pada Agustus. Tapi Allah berkehendak dalam musibah bersama keluarganya tersebut,” ungkapnya.
Sementara sang adik, Alfino Evan Hakiki, dikenal aktif di dunia olahraga. Remaja berusia 16 tahun itu merupakan atlet muda taekwondo yang cukup berprestasi di Kabupaten Semarang.
“Dia salah satu atlet muda Pengkab Taekwondo Indonesia Kabupaten Semarang,” tambah Asadi.
Peristiwa nahas ini terjadi ketika keluarga Ali Munawar tiba di kawasan wisata Posong pada Selasa malam (26/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Mereka datang untuk berkemah dan menikmati suasana pegunungan Temanggung.
Baca Juga: 4 Orang Sekeluarga Tewas saat Menginap di Kawasan Wisata Temanggung, Diduga karena Hal Ini
Kawasan wisata Posong sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan di Jawa Tengah karena menawarkan panorama alam pegunungan yang indah serta udara dingin khas dataran tinggi.
Setelah tiba di lokasi, keluarga tersebut mendirikan tenda camping dan bermalam di area perkemahan. Namun keesokan harinya, Rabu (27/5/2026), petugas wisata mulai merasa curiga karena tidak ada aktivitas dari dalam tenda.
Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, menjelaskan bahwa sekitar pukul 11.45 WIB petugas sempat mengingatkan korban untuk melakukan checkout karena area perkemahan akan dibersihkan.
“Pada keesokan harinya, Rabu (27/5) sekitar pukul 11.45 WIB, petugas wisata sempat mengingatkan para korban untuk segera melakukan proses checkout karena lokasi area perkemahan akan dibersihkan. Namun, saat itu tidak ada respons dari dalam tenda,” kata Komang.
Karena tidak mendapat jawaban, petugas kembali mendatangi tenda sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itulah kondisi mengerikan ditemukan. Petugas membuka pintu tenda dan mendapati keempat korban sudah meninggal dunia dengan tubuh mulai kaku.
Penemuan tersebut langsung membuat geger kawasan wisata Posong. Polisi bersama Tim Identifikasi Polres Temanggung dan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Tengah segera datang ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Petugas kemudian mengevakuasi jasad korban serta melakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian.
Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk sampel makanan, alat memasak, dan perlengkapan camping milik korban.
“Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum berani mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan, begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng,” kata Komang.
Peristiwa ini pun memicu perhatian publik luas di media sosial. Banyak warganet ikut menyampaikan belasungkawa sekaligus menunggu hasil penyelidikan resmi terkait penyebab meninggalnya satu keluarga tersebut.
Sebagian masyarakat juga mulai mengingatkan pentingnya keselamatan saat camping, terutama ketika menggunakan alat memasak atau pembakaran di dalam tenda tertutup.
Baca Juga: Update Pencairan TPG Mei 2026 Hari Ini, Guru Diminta Pastikan Data Valid Agar Tidak Terlambat Cair
Kasus ini menjadi pengingat bahwa aktivitas camping di daerah dingin memerlukan perhatian khusus terhadap sirkulasi udara dan penggunaan alat pemanas maupun alat masak.
Hingga kini, pihak keluarga masih berharap hasil laboratorium dan autopsi segera keluar agar penyebab pasti tragedi tersebut dapat diketahui secara jelas.
Di balik duka mendalam yang menyelimuti keluarga besar Ali Munawar, warga sekitar terus mengenang mereka sebagai sosok keluarga harmonis yang dikenal baik, ramah, dan penuh kepedulian terhadap sesama.
Kepergian mereka secara bersamaan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, kerabat, sahabat, hingga masyarakat yang mengenal mereka selama ini.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi