RADARSEMARANG.ID – Kasus meninggalnya empat orang sekeluarga saat glamping di kawasan wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, masih menjadi misteri yang menyita perhatian publik.
Di tengah proses penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian, sosok salah satu korban bernama Bagas Amar Hakiki (21) ikut menjadi sorotan. Bagas dikenal sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus fotografer lepas Keraton Yogyakarta yang memiliki talenta besar di bidang fotografi.
Peristiwa tragis ini terjadi saat satu keluarga asal Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, berkemah di kawasan wisata alam Posong. Mereka ditemukan meninggal dunia di dalam tenda pada Rabu (27/5/2026) pagi. Hingga kini, penyebab pasti kematian keempat korban masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik.
Nama Bagas Amar Hakiki menjadi perhatian banyak orang setelah diketahui aktif sebagai fotografer dokumentasi di lingkungan Keraton Yogyakarta. Selain menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2022, Bagas juga dikenal memiliki kemampuan fotografi yang sangat baik.
Baca Juga: Polisi Bilang Begini Soal Hasil Autopsi Korban Tewas Tragedi Glamping di Temanggung
Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno, membenarkan bahwa Bagas merupakan bagian dari tim dokumentasi mereka. Menurutnya, Bagas awalnya bergabung melalui program magang sebelum akhirnya dipercaya menjadi fotografer lepas di lingkungan Keraton.
“Betul. Mas Bagas salah satu fotografer kami di Kawedanan Tandha Yekti,” ujar Kartiutami
Ia menjelaskan, kemampuan fotografi Bagas sudah terlihat sejak menjalani masa magang pada 2024. Keahlian dan dedikasinya membuat pihak Keraton Yogyakarta tertarik merekrutnya menjadi bagian dari tim inti dokumentasi.
“Lalu kemudian dari magang tersebut kami melihat keahlian fotografinya yang mumpuni, sehingga kemudian setelah masa magangnya satu tahun selesai, Bagas bersama dua orang teman lainnya menjadi bagian dari tim dokumentasi Keraton Yogyakarta sebagai fotografer lepas,” katanya.
Meski bukan berstatus sebagai abdi dalem, Bagas memiliki peran penting dalam kegiatan dokumentasi di Kawedanan Tandha Yekti. Ia disebut sebagai salah satu fotografer andalan yang kerap dipercaya mendokumentasikan berbagai kegiatan resmi Keraton Yogyakarta.
“Fotografer lepas, tapi masuk dalam tim inti dokumentasi. Tim dokumentasi kami sebagian Abdi Dalem, sebagian freelance,” lanjutnya.
Kepergian Bagas meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan di lingkungan Keraton Yogyakarta. Sosoknya dikenal ramah, mudah membantu, dan memiliki hubungan baik dengan banyak orang. Kartiutami mengaku sangat kehilangan salah satu anggota terbaik di tim dokumentasi mereka.
“Bagas kami kenang sebagai pribadi yang senang membantu, bisa diandalkan, dan menyenangkan. Kami sangat kehilangan sekali, bukan hanya kehilangan salah satu fotografer terbaik kami, tapi juga kolega, rekan, adik, sahabat baik,” ungkapnya penuh haru.
Sementara itu, polisi masih terus mendalami penyebab meninggalnya empat anggota keluarga tersebut. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan keracunan makanan saat mereka melakukan kegiatan glamping di kawasan wisata Posong.
Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengatakan bahwa pihak kepolisian telah mengamankan sejumlah sampel makanan untuk diperiksa lebih lanjut di Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah. Salah satu makanan yang diperiksa adalah sisa barbeque yang dibawa korban saat berkemah.
Baca Juga: Gas Karbon Monoksida Diduga Jadi Penyebab Meninggalnya 4 Wisatawan Sekeluarga di Temanggung
“Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum bisa mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan. Begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng,” ujar Komang, Kamis (28/5/2026).
Keempat korban diketahui datang ke lokasi wisata Posong pada Selasa malam (26/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB untuk menikmati suasana alam pegunungan Temanggung. Mereka berencana menginap di area camping yang memang menjadi salah satu daya tarik wisata tersebut.
Korban terdiri dari MHM (52), M (43), AEH (17), dan Bagas Amar Hakiki (21). Mereka merupakan satu keluarga yang berasal dari Kabupaten Semarang.
Menurut hasil penyelidikan sementara, tidak ada tanda-tanda mencurigakan saat keluarga tersebut pertama kali tiba di lokasi camping. Mereka disebut menjalani aktivitas seperti pengunjung lain pada umumnya.
Namun pada Rabu pagi, petugas wisata mulai merasa curiga karena keluarga tersebut belum juga keluar dari tenda meski waktu checkout telah tiba. Petugas kemudian mendatangi lokasi untuk memberikan pengingat karena area camping akan dibersihkan.
Saat dipanggil, tidak ada respons dari dalam tenda. Kondisi tersebut membuat petugas memutuskan membuka tenda untuk memastikan keadaan para pengunjung. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati seluruh anggota keluarga sudah dalam kondisi meninggal dunia.
Tubuh para korban ditemukan dalam keadaan kaku di dalam tenda. Penemuan tersebut langsung menggemparkan kawasan wisata Posong dan membuat pengunjung lain panik.
Petugas kepolisian yang datang ke lokasi segera melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi jenazah korban untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Hingga kini, polisi masih menunggu hasil autopsi resmi guna memastikan penyebab kematian.
Kasus ini dengan cepat menjadi perhatian masyarakat luas, terutama di media sosial. Banyak warganet yang merasa sedih atas meninggalnya satu keluarga sekaligus, terlebih salah satu korban diketahui masih muda dan memiliki masa depan cerah.
Sosok Bagas Amar Hakiki juga menuai banyak simpati dari kalangan mahasiswa UGM maupun komunitas fotografi di Yogyakarta. Banyak rekan dan sahabat mengenangnya sebagai pribadi hangat yang penuh semangat dalam berkarya.
Peristiwa tragis ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas camping maupun glamping di alam terbuka. Faktor makanan, cuaca, perlengkapan, hingga keamanan lokasi menjadi hal penting yang harus diperhatikan sebelum berkemah.
Hingga saat ini, polisi memastikan proses penyelidikan masih terus berjalan. Hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti meninggalnya empat anggota keluarga tersebut.
Publik kini menunggu jawaban atas misteri kematian satu keluarga di glamping Posong Temanggung yang mengejutkan banyak pihak. Di balik tragedi itu, nama Bagas Amar Hakiki akan tetap dikenang sebagai mahasiswa berbakat dan fotografer muda yang meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya. (dka)
Editor : Baskoro Septiadi