Mufida Rizqiyani Husna: Populer Dokter Perempuan di Balik Lari Cepat Tim Medis PSIS Semarang

Ida Fadilah • Dipublikasikan Minggu, 24 Mei 2026 | 18:17 WIB
dr Mufida Rizqiyani Husna (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
dr Mufida Rizqiyani Husna (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG) 

RADARSEMARANG.ID -SEMARANG - Sorak penonton memecah Stadion Jatidiri. Di tengah lapangan, seorang pemain PSIS Semarang terkapar. Dalam hitungan detik, satu sosok berlari menembus garis. 

Bukan pemain, bukan pelatih. Itu Mufida Rizqiyani Husna. Musim 2022-2023, wajah perempuan asal Kendal ini hampir selalu muncul di layar kaca setiap kali ada cedera. 

Dengan langkah cepat dan tas medis di tangan, ia jadi “penyelamat pertama” di lapangan hijau. 

Tak heran jika lama-lama suporter Mahesa Jenar menjadikannya idola. Di dunia sepak bola yang lekat dengan dominasi laki-laki, kehadiran Mufida memberi warna berbeda. Tapi sorotan kamera itu hanya secuil dari ceritanya.

Ketertarikan Mufida pada olahraga berawal dari bangku kuliah. Saat jadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto UMP, ia memilih meneliti psikologi atlet menjelang pertandingan untuk skripsinya.

Lulus, ia sempat bekerja di rumah sakit. Hari-harinya berkutat di IGD dan bangsal. Rutinitas itu membuatnya rindu tantangan baru. 

Pada 2022, kesempatan datang. PSIS Semarang memanggilnya bergabung di tim medis. Sebagai dokter olahraga menjadikan ia bisa bertemu banyak orang dan menghadapi tantangan yang berbeda setiap hari.

Bagi orang awam, kerja Mufida terlihat simple, lari, periksa, beri penanganan. Padahal di balik itu ada tekanan besar.

Dalam beberapa detik ia harus mendiagnosis, menilai tingkat cedera, lalu memutuskan, lanjut main atau tarik keluar. Salah ambil keputusan, bisa merusak karier atlet.

Belum lagi ia harus menghadapi keraguan. Ada yang memandang sebelah mata karena ia perempuan. Ia kerap dicibir lantaran kerjanya dinilai ringan. Mufida tak banyak bicara. Ia membuktikan lewat kerja.
 
Pertandingan selesai 90 menit. Kerja Mufida belum. Ibarat kata ia harus siaga untuk beri pelayanan kepada atlet hampir 24 jam.

Suatu malam ia harus menangani pemain saat kebanyakan orang sudah tidur. Pagi harinya jam 06.00 ia sudah ada di lapangan menemani latihan. 

Selain di lapangan, ia juga mendampingi pemain ke rumah sakit untuk MRI, CT scan, dan konsultasi spesialis. Semua demi satu hal, memastikan pemain pulih sempurna.

Tiga tahun setelah pamit dari PSIS, Mufida kini berkarier di bidang estetika. Tapi hati dan memorinya masih tertinggal di Semarang. Yang paling ia rindukan bukan popularitas. Bukan juga liputan televisi. Melainkan sapaan dari suporter.

Hingga kini, di mana pun ia berada, masih ada yang memanggil namanya 'Dokter PSIS'.*

Editor : Baskoro Septiadi
Dokter PSIS Dr Mufida Rizqiyani Husna PSIS Semarang