Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Rayakan Ulang Tahun di Tengah Run for Rivers Bali-Jakarta, Sam Sungai Watch Lawan Sakit dan Jaga Terus Mental

Lutfi Hanafi • Selasa, 12 Mei 2026 | 16:23 WIB
Sam co Founder Sungai Watch (bertopi putih) saat berlari melintasi pantura Pekalongan menuju Pemalang beberapa hari kemarin. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
Sam co Founder Sungai Watch (bertopi putih) saat berlari melintasi pantura Pekalongan menuju Pemalang beberapa hari kemarin. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID - Di momen bertambahnya usia, Sam Bencheghib justru merayakannya di atas aspal, di tengah misi lari lintas pulau sejauh 1.200 kilometer dari Bali menuju Jakarta.

Berdasarkan informasi dari tim Sungai Watch, Sam bersama dua saudaranya Gary dan Kelly, sedang beristirahat di Cirebon hingga Rabu (13/5/2026), sebelum kembali berlari menuju Jakarta.

Baca Juga: Lewat Aksi Run for Rivers di Pekalongan, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Warga Bergerak Bersama Atasi Sampah di Jateng

Saat ia melintas di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Samsudin, biasa pria ini disapa, mengisahkan pengalaman ekspedisi Run for Rivers hingga memasuki hari ke-41 perjalanan.

Menjelang lari menuju wilayah Pemalang Jateng, Sam terlihat tetap tersenyum semangat.

Meski tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Setiap hari, ia harus menempuh sekitar 25 kilometer sambil membawa misi membersihkan sungai dan mengedukasi masyarakat soal bahaya sampah plastik. Namun di balik senyum itu, tubuhnya menyimpan banyak cerita.

Perjalanan panjang selama lebih dari satu bulan membuat kondisi kakinya mulai mengalami pembengkakan.

Jari kaki dan telapak kakinya dipenuhi blister atau lepuhan, bahkan beberapa bagian mulai menghitam akibat tekanan berulang dari aktivitas lari.

Baca Juga: Di Pekalongan, Run for Rivers Berlari Sambil Bersihkan Sampah dari Jalan Mataram hingga Museum Batik

“Pasti sakit, tapi lama-lama jadi biasa,” ujar Sam saat diwawancarai di Pekalongan.

Bukan hanya kaki yang diuji. Saat melintasi kawasan pulau Jawa hingga masuk wilayah Jawa Tengah, kondisi tubuhnya sempat drop.

Efek dari kehujanan saat perjalanan, lalu masuk ke mobil berpendingin udara membuat tubuhnya terserang masuk angin.

Ditambah kurang tidur dan padatnya aktivitas, tubuhnya sempat benar-benar kelelahan.

“Kurang tidur, kehujanan, masuk mobil AC, akhirnya masuk angin. Kaki juga sakit,” katanya.

Meski rasa sakit datang hampir setiap hari, Sam mengaku tidak pernah mengkonsumsi obat sama sekali.

Namun bagi Sam, kekuatan utama bukan hanya soal fisik, tapi mental. Saat rasa malas, bosan, dan ingin berhenti mulai datang, ia memilih kembali mengingat alasan awal memulai perjalanan ini.

“Yang bikin kuat itu mental. Visi dan misi. Kalau kami berhenti, dampaknya juga berhenti,” katanya.

Rutinitas hariannya memang jauh dari ringan, tantangan terbesar ternyata bukan hanya soal berlari.

Setelah menyelesaikan 25 kilometer setiap hari, Sam masih harus menjalankan agenda lain.

Bersama tim Sungai Watch, ia membersihkan sungai, bertemu pemerintah daerah, masuk ke sekolah-sekolah untuk edukasi lingkungan, hingga bekerja di depan laptop untuk mengirim email sponsor dan mengedit video dokumentasi perjalanan.

“Kadang tidur jam 11 malam, bangun jam 4 pagi. Lalu lari lagi,” ungkapnya.

Soal perlengkapan, Sam juga punya cerita sendiri. Sejak berangkat dari Bali, ia membawa tiga pasang sepatu.

Dua sepatu buat stok, jika hujan sepatu kering bisa dipakai di hari berikutnya. Hingga saat diwawancarai di Pekalongan, sepatu pertamanya masih digunakan, meski kondisinya sudah mulai aus dan tidak nyaman.

“Mungkin beberapa hari lagi saya ganti, karena sudah tidak enak,” katanya sambil menunjukkan kondisi sepatunya.

Dari tim Sungai Watch, diketahui sepatu kedua akhirnya mulai dipakai saat mereka beristirahat di Alun-Alun Brebes sebelum melanjutkan perjalanan ke Cirebon.

Baca Juga: Run for Rivers di Pekalongan, Gubernur Jateng: Target Kami Tahun 2028-2029 Zero Sampah

Di tengah perjalanan, ada hal lain yang membuat Sam terkejut. Selama berlari dari Bali hingga Jawa Tengah, ia mengaku berkali-kali melihat warga membakar sampah di depan rumah maupun di tengah permukiman. Pemandangan itu membuatnya prihatin.

Menurut Sam, asap dari pembakaran sampah, terutama plastik, mengandung banyak zat berbahaya yang bisa mengancam kesehatan manusia dan lingkungan.

“Lebih baik sampah dibuang ke tempat yang benar, jangan dibakar sembarangan,” tegasnya.

Bersama Gary Bencheghib dan Kelly Bencheghib, Sam menargetkan ekspedisi ini finis di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 24 Mei 2026.

Melalui Run for Rivers, tiga bersaudara ini membawa misi besar: menggalang dana sebesar USD 1 juta untuk memperluas pemasangan penghalang sampah di sungai-sungai Indonesia dan memperkuat gerakan penyelamatan lingkungan.

Di hari ulang tahunnya, Sam tak meminta hadiah apa pun. Ia hanya terus melangkah—dari Pekalongan, Brebes, hingga kini Cirebon—mengejar satu tujuan: sungai Indonesia yang lebih bersih.(han)

Editor : Baskoro Septiadi
#sungai watch #run for rivers