Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Perjalanan Shania Ruth Diaz, Fellowship Tanoto Foundation yang Kini Aktifkan Klub Baca di Pangkalan Kerinci

Khafifah Arini Putri • Rabu, 6 Mei 2026 | 09:33 WIB
Penerima Program Fellowship Tanoto Foundation Shania Ruth Diaz
Penerima Program Fellowship Tanoto Foundation Shania Ruth Diaz

 

RADARSEMARANG.ID - Namanya Shania Ruth Diaz. Usianya baru 25 tahun, tapi pengalaman dan ketekunannya sudah melampaui usianya. 

Perempuan yang akrab disapa Shania ini bukan sekadar karyawan di APRIL Group Pangkalan Kerinci. Ia adalah salah satu penerima Program Fellowship Tanoto Foundation angkatan pertama yang kisahnya menginspirasi.

Sebelum mengikuti fellowship, Shania sebenarnya sudah lebih dulu menjadi penerima Beasiswa Teladan Tanoto Foundation sejak 2019. Dari program itu, ia mendapatkan bekal awal berupa penguatan soft skill dan pengalaman mengelola proyek. Namun, rasa ingin belajar lebih dalam tentang pengembangan program mendorongnya melangkah lebih jauh.

"Aku merasa butuh belajar bikin program yang lebih besar dan berkelanjutan. Makanya aku daftar fellowship,” ujarnya.

Shania datang ke program fellowship ini dengan mimpi besar. Lulusan IPB jurusan Konservasi Hutan dan Ekologi Wisata itu punya cita-cita mendirikan yayasan yang fokus pada pengembangan kapasitas perempuan di bidang kehutanan.

"Awalnya saya daftar fellowship karena merasa butuh belajar tentang pengembangan program yang sustainable. Saya belum punya ilmu tentang budgeting skala program, gimana bikin program yang bisa bertahan jangka panjang," jelas Shania.

Siapa sangka, pengalamannya selama setahun ketika fellowship ini justru membawanya ke dunia yang sebelumnya tak pernah ia jamah, yakni pendidikan dan kesehatan.

Shania pun bercerita, saat diterima dalam Program Fellowship Tanoto Foundation, ia ditempatkan di regional Jawa Tengah. Bersama dengan rekan-rekannya, Shania bertugas mendampingi fasilitator daerah (fasda). Mereka ialah para guru, kepala sekolah, dan pengawas yang menjadi mitra Tanoto Foundation di regional Jateng. Seperti fasda di Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan lain sebagainya.

Tantangan pun langsung menghadang. Shania yang berlatar belakang kehutanan dan konservasi ini, tiba-tiba harus berurusan dengan Dinas Pendidikan hingga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

 

"Saya harus mempelajari ekosistem pendidikan dari nol. Ada dinas apa saja yang terkait? Siapa saja pemangku kepentingan di sekolah? Bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka," bebernya.

Menurutnya, yang lebih menantang ialah saat dirinya harus menempatkan diri di tengah para pemangku kepentingan. Mereka tentu sudah berpengalaman, tugasnya adalah mengimbangi dan melakukan tugas sebaik mungkin.

"Kita tidak boleh bergerak seperti anak magang, tapi ya kita juga sadar diri belum se-expert mereka. Itu pengalaman unik," imbuhnya.

 

Penerima Program Fellowship Tanoto Foundation Shania Ruth Diaz sedang mengajarkan pembelajaran pada peserta didik.
Penerima Program Fellowship Tanoto Foundation Shania Ruth Diaz sedang mengajarkan pembelajaran pada peserta didik.

 
Di sinilah pengalaman barunya dimulai. Ia tidak hanya belajar merancang program, tetapi juga memahami ekosistem pendidikan secara menyeluruh, mulai dari peran dinas, sekolah, hingga komunitas guru. 

Selama setahun terjun ke lapangan, Shania banyak bertemu dengan Fasda. Pengalaman yang paling membekas terjadi dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) di Kabupaten Kendal.

Saat itu, tujuannya sederhana, mencari tahu preferensi para fasda ke depan, mau dibawa ke mana komunitas mereka. Tapi obrolan justru melebar ke mana-mana.

"Kami membahas isu pengawas, isu kepala sekolah, pembelajaran. Saya jadi melihat seberapa passion-nya bapak ibu fasda dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekitar mereka. Mereka sangat semangat belajar. Saya merasa terinspirasi banget," akunya.

Pengalaman itu pun menjadi yang paling membekas di hatinya. Yakni saat berinteraksi langsung dengan para guru dan melihat perjuangan tenaga pendidik di lapangan.

 

"Sebelumnya di media sosial, saya lihat guru itu kasihan, gajinya kecil, tantangannya banyak. Tapi ternyata banyak guru dan kepala sekolah yang memilih profesi itu dengan sepenuh hati. Mereka punya passion tinggi di pendidikan. Aku jadi lihat sendiri bagaimana semangat mereka untuk terus belajar dan berbagi. Itu mengubah cara pandangku tentang profesi guru,” ungkapnya.

Selain kegiatan di lapangan, fellowship juga dilengkapi dengan leadership camp yang rutin digelar. Di sana, para peserta dibekali materi mulai dari manajemen proyek, monitoring dan evaluasi, hingga penyusunan anggaran program. Bagi Shania, rangkaian pengalaman itu menjadi sekolah kedua yang membentuk cara berpikirnya lebih strategis.

"Leadership camp itu jadi bahan bakar buat mendesain project sehari-hari di regional. Selain materinya berguna, ketemu teman-teman fellowship lagi setelah berbulan-bulan pisah jadi mood booster banget," akunya.

Ia juga belajar satu hal yang benar-benar baru, yakni advokasi. Selama ini Shania hanya berpikir bahwa menciptakan dampak harus lewat project. Ternyata advokasi punya peran besar.

"Kita belajar bahwa untuk membuat dampak, bisa juga dengan advokasi. Komunikasi dengan orang-orang yang punya kewenangan, membuat rekomendasi, mereview kebijakan, memberikan input ke dinas. Dan saya baru tahu bahwa orang-orang dinas itu ternyata butuh pandangan dari praktisi," tegasnya.

Karena itu, bagi Shania, Fellowship Tanoto Foundation yang dijalaninya dari September 2024 hingga Agustus 2025 lalu terbukti menjadi bekal berharga. Kini Shania bekerja di APRIL Group Pangkalan Kerinci sebagai Education Development Officer.

"Kerjaan saya sekarang sangat nyambung dengan pengalaman fellowship. Saya nge-handle program peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah di sekolah-sekolah mitra APRIL," ujarnya.

Tapi yang paling menarik, Shania tak berhenti di situ. Terinspirasi dari semangat para guru yang ditemuinya selama fellowship, ia pun membawa ilmu yang didapatkannya saat fellowship. Shania menginisiasi komunitas “Baca Bareng Pangkalan Kerinci”, sebuah ruang sederhana untuk membaca dan berdiskusi buku bersama.

"Januari 2026 lalu, saya mulai inisiatif namanya Baca Bareng Pangkalan Kerinci. Ini komunitas sederhana buat orang-orang yang ingin membaca bareng, mulai fiksi, non-fiksi, apa pun itu. Kita silent reading, lalu ngobrol-ngobrol soal buku," bebernya.

 

Menariknya, sebelum membentuk klub baca, Shania menghubungi pengurus klub baca di Semarang, koneksi yang ia dapat selama fellowship di regional Jateng. Ia pun menyadari, satu hal yang paling membuat Shania bersyukur menjadi bagian dari Program Fellowship Tanoto Foundation adalah jaringan.

"Saya nanya ke club baca di Semarang, bisanya kegiatan mereka ngapain, challenge-nya apa, penjelasan mereka jadi bekal buat saya untuk mencoba menginisiasi klub baca di sini (Pangkalan Kerinci)," ujarnya.

Antusiasme mulai terlihat. Pertemuan pertama hanya dihadiri tiga orang kini mulai berkembang dan banyak peminat. Bahkan klub baca ini sudah berkolaborasi dengan Forum Anak di Pelawan. Mereka menggelar baca bareng plus permainan tradisional untuk mengedukasi anak-anak agar permainan tradisional tak punah."Kita selalu edukasi dan terus melakukan kolaborasi dengan forum anak," akunya.

Bagi Shania, fellowship bukan sekadar program pengembangan diri, tetapi juga ruang untuk menemukan arah dan memperluas dampak.“Kalau kita lihat ada celah, ya coba saja diisi. Tidak perlu menunggu sempurna,” katanya.

Tentang Program Fellowship Tanoto Foundation

Program Fellowship Tanoto Foundation dirancang untuk para pemimpin masa depan yang ingin memulai perjalanan awal karir mereka dengan pembelajaran mandiri terpadu. Program ini menawarkan pengalaman transformasi diri dan pengalaman langsung mendukung transformasi pendidikan dan sektor pembangunan di ekosistem.

Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan agenda transformasinya, Program Fellowship Tanoto Foundation bertujuan untuk mengembangkan talenta, pemimpin masa depan, dan pengusaha sosial yang akan menjadi aset berharga bagi pembangunan bangsa, utamanya dalam memperkuat ekosistem pendidikan dan pembangunan Indonesia menuju kualitas pendidikan yang terus meningkat.

Seluruh Tanoto Fellows akan menjadi bagian dari Tanoto Fellows Network, wadah bagi pembelajar seumur hidup sekaligus mitra kolaborasi Tanoto Foundation dalam memberikan dampak secara luas.

Pendaftaran Fellowship Cohort 2026 akan ditutup pada 22 Mei 2026. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui: https://www.tanotofoundation.org/tanotofoundationfellowshipprogramme2026/. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#soft skill #Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional #fasilitator daerah #tanoto foundation