Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Gandeng PMII Kota Salatiga, Mahasiswa Pascasarjana UNNES Gelar Psychoeducation Tentang Kekerasan Seksual

Miftahul A’la • Sabtu, 18 April 2026 | 07:23 WIB
Psychoeducation Tentang Kekerasan Seksual
Psychoeducation Tentang Kekerasan Seksual

 

RADARSEMARANG.ID, Salatiga — Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) program studi Bimbingan dan Konseling (BK) menggelar kegiatan psychoeducation bertema kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Kegiatan ini dilaksanakan di Nilu Coffee, Salatiga, pada Jumat (17/4), dengan melibatkan mahasiswa serta aktivis organisasi ekstra kampus.

Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Henrik, mahasiswa S2 BK UNNES, bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam PMII Kota Salatiga, khususnya Rayon Matori Abdul Djalil. 

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap isu kekerasan seksual yang dinilai semakin marak terjadi, terutama di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Henrik menekankan bahwa kekerasan seksual merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. 

“Kekerasan seksual di lingkungan kampus bukan lagi isu yang bisa dianggap sepele, tetapi sudah menjadi persoalan nyata yang harus direspons secara serius oleh seluruh elemen mahasiswa,” ujarnya.

Baca Juga: Mahasiswi Unissula Semarang Korban Dugaan Kekerasan Seksual Cabut Laporan Usai Mediasi, Pakar: UU TPKS Larang Penyelesaian di Luar Pengadilan

Ia juga menyoroti pentingnya upaya pencegahan melalui edukasi. 

“Pencegahan itu tidak bisa menunggu kasus terjadi. Edukasi seperti psychoeducation ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa,” tambahnya.

Selain itu, Henrik menegaskan bahwa pendampingan terhadap korban harus menjadi perhatian utama. 

 

“Korban kekerasan seksual membutuhkan ruang yang aman dan dukungan yang nyata. Aktivis organisasi memiliki peran penting untuk hadir sebagai pendamping yang empatik dan tidak menghakimi,” katanya.

Lebih lanjut, ia berharap kegiatan ini mampu mendorong peran aktif mahasiswa sebagai agen perubahan. 

“Mahasiswa, khususnya aktivis, harus berani menjadi agent of change dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual,” tegasnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dari peserta terkait pengalaman, perspektif, serta upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Melalui kegiatan psychoeducation ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memiliki pemahaman yang lebih baik terkait isu kekerasan seksual, tetapi juga mampu berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih aman, inklusif, dan berkeadilan.

Editor : Miftahul A’la
#UNNES #PMII #KEKERASAN SEKSUAL