Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Tokoh Lintas Agama di Kota Semarang Desak Penyelesaian Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus

Ida Fadilah • Selasa, 17 Maret 2026 | 10:41 WIB

 

 

Photo
Photo


RADARSEMARANG.ID, Semarang - Insiden penyiraman air keras yang dialami Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus menyorot perhatian publik.

Termasuk di Semarang, sejumlah tokoh lintas agama bersama perwakilan komunitas yayasan di kota ini menyerukan pernyataan sikap terhadap kasus penyiraman air keras pada aktifis tersebut. Mereka mengecam aksi itu dan mendesak pemerintah mengusut kasus tersebut hingga tuntas.

Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Setyawan mengatakan, pernyataan sikap hari ini diikuti tokoh dari agama Katolik, Kristen, Kong Hu Chu, Buddha, Hindu, Islam, Penghayat Kepercayaan, mahasiswa, serta berbagai yayasan.

"Kita resah karena peristiwa ini (penyiraman air keras) di luar norma-norma kemanusiaan," kata Setyawan dalam pernyataan sikap di Vihara Tanah Putih, Kecamatan Candisari, Kota Semarang (16/3/2026).

Dirinya menyayangkan aksi tersebut. Pasalnya, bertepatan dengan Ramadan dan persiapan Nyepi. Agar mendapat keadilan, Setyawan berharap insiden itu bisa ditindaklanjuti dengan serius oleh aparat penegak hukum.

Agar, tidak ada ketakutan dan teror jika para aktivis dan pegiat HAM di Indonesia nantinya bersuara.

Dia tak ingin kasus yang sebelumnya dialami Novel Baswedan terulang. Dimana, hanya pelakunya yang ditangkap. Sedangkan motifnya tidak diselidiki lebih lanjut, bahkan otak pelakunya juga tidak diketahui.

"Ini menodai dan melukai kita semua, sebagai umat beragama dan kepercayaan. Paling tidak pelaku harus segera ditangkap. Motifnya apa, otak pelakunya siapa," tegasnya.

Komentar serupa datang dari Ketua Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Dr Tedi Kholiludin. Ia menilai insiden ini telah direncanakan.

"Ada indikasi kuat bahwa ini adalah tindakan teror yang terencana. Ini kejadian penyiraman air keras kedua yang punya motif politik setelah yang dialami penyidik KPK, Novel Baswedan di tahun 2017," tegasnya.

Lebih lanjut ia berucap, meski perangan air keras diketahui tidak selalu mematikan, tetapi bisa punya efek intimidatif besar. Dimana menyebabkan korban yang masih hidup tapi terluka berat.

Dirinya mengatakan, teror penyiraman air keras bisa berakibat fatal. Di antaranya membuat kesehatan mental korban terganggu, menghilangkan kapasitanya untuk tampil di ruang publik, hingga terberat mengakibatkan korban meninggal.

"Dengan menyerang Andrie, aktor intelektual sedang mengirim pesan teror kepada banyak orang, 'ini yang akan terjadi jika kalian melakukan hal yang sama'. Penyebaran teror seperti ini adalah ancaman serius terhadap kelangsungan kehidupan demokrasi di Indonesia," tegasnya.

Romo JB. Rudy Hardono, Pr., Vikep Semarang. juga menyuarakan keadilan. "Kami mengecam keras kekejian pada saudara Andrie Yunus, dan tindak teror serta intimidasi apa pun terhadap orang-orang yang bersuara bagi kebenaran dan keadilan," tegasnya.

Ia menilai, tindakan itu tidak memiliki tempat dalam nilai-nilai agama mana pun, bertentangan dengan ajaran kasih sayang, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia.

Ketua Persekutuan Gereja-gereja Kristen Semarang, Pendeta Rahmat Rajagukguk tak ketinggalan. Ia meminta negara untuk menjamin Andrie Yunus bisa menjalani proses pemulihan yang menyeluruh, baik secara medis, psikologis, maupun sosial.

"Sehingga dia dapat menjalani kehidupannya kembali dengan martabat yang utuh, sebab tanggung jawab negara juga mencakup perlindungan dan pemulihan korban kekerasan, terlebih ketika tujuan kekerasan itu adalah untuk menebar teror di ruang publik," katanya.

Wakil Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Jateng, Pandhita Aggadhammo Warta pun mengajak dan berharap semua tokoh dan umat beragama atau kepercayaan agar tetap menyalakan keberanian.

"Bersuara bagi kebenaran dan keadilan, tidak tunduk terhadap segala bentuk teror dan kekerasan, serta saling jaga agar ruang publik tetap menjadi tempat yang aman untuk berdiri bagi moralitas, keluhuran budi, dan kemanusiaan," ungkapnya. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi