Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Manajemen Orkestrasi Antarkan Dian Jadi PNS Berprestasi, Kelola Bakat Guru, Murid dan Tetap Jaga Harmoni Keluarga

Khafifah Arini Putri • Senin, 9 Maret 2026 | 10:29 WIB

Kepala SDN Kebumen 1 Kabupaten Kendal, Diannita Ayu Kurniasih
Kepala SDN Kebumen 1 Kabupaten Kendal, Diannita Ayu Kurniasih

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Namanya Diannita Ayu Kurniasih. Setiap pagi, ia meninggalkan rumah dengan dua beban di pundak, yakni tanggung jawab menjadi kepala sekolah dan sebagai ibu. Di sela kesibukannya sebagai Kepala SDN 1 Kebumen, Kabupaten Kendal, ia masih menyempatkan diri menyiapkan kebutuhan suami dan dua buah hatinya.

Tanggung jawabnya pun bertambah sejak September 2024. Ia dipercaya menjadi pelaksana tugas (Plt) Kepala SDN 2 Sukorejo. Selain menjadi kepala di dua sekolah, berbagai tanggung jawab organisasi hingga aktivitas pelatihan guru nasional menjadi bagian dari kesehariannya.

Kendati demikian, Dian tak lupa dengan kewajibannya mengurus keluarga. Bagi Dian, kesibukan di luar rumah tidak pernah menjadi alasan untuk melupakan peran utamanya sebagai ibu dan istri.

"Sebisa mungkin Sabtu-Minggu itu saya untuk keluarga. Kalau memang tidak ada pekerjaan yang benar-benar mendesak, saya usahakan waktu itu untuk bersama keluarga," kata Dian.

Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret, sosok Dian menjadi representasi nyata dari tema yang kerap diperbincangkan, yakni perempuan yang diberi ruang untuk tumbuh, namun tak pernah melupakan akar rumah tangganya.

Perempuan yang mulai mengajar sejak 2015 itu menyadari, membagi waktu antara karier dan keluarga bukan hal yang selalu mudah. Ada kalanya pekerjaan datang mendadak ketika seharusnya ia menikmati waktu bersama anak dan suami. Saat itulah ia belajar mencari keseimbangan.

"Kalau ada pekerjaan yang harus selesai ketika seharusnya saya bersama keluarga, biasanya saya mengganti waktunya di hari lain," imbuhnya.

Bagi Dian, perempuan memang memiliki banyak kesempatan untuk berkembang. Namun, ia juga percaya bahwa kesempatan itu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab di rumah.

Menurutnya, perempuan bisa bertumbuh optimal jika berada di lingkungan yang mendukung dan diberi kesempatan untuk berkembang.

“Sekarang peluang perempuan untuk berkarier sudah terbuka luas. Tapi, bagaimanapun juga, perempuan itu tetap menjadi istri dan ibu. Jadi, harus tetap tahu bagaimana ketika di rumah dan ketika di luar rumah,” ungkapnya.

Perjalanan Dian di dunia pendidikan dimulai pada 2015 sebagai guru honorer. Fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation ini pun akhirnya diangkat menjadi PNS pada 2019. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi kepala sekolah.
Selama menjadi guru hingga kepala sekolah, berbagai prestasi berhasil ia raih. Pada 2017, ia meraih Juara 1 Guru SD Berprestasi tingkat Kabupaten Kendal. Pada tahun yang sama, ia juga masuk peringkat enam nasional dalam Olimpiade Guru Nasional.

Puncaknya, pada 2024, Dian dinobatkan sebagai PNS Berprestasi tingkat Kabupaten Kendal. Penghargaan itu diraih setelah melalui seleksi ketat mulai dari administrasi, penulisan karya ilmiah, hingga wawancara final.

Kala itu, Dian menuangkan gagasannya tentang Manajemen Orkestrasi, sebuah konsep yang terinspirasi dari buku Rhenald Kasali. Ia percaya, kemajuan sekolah adalah sinergi dari keunikan setiap guru, murid, komite, hingga wali murid, seperti alat musik dalam orkestra yang jika dipadukan akan menghasilkan simfoni indah.

Pendekatan itu juga ia terapkan di sekolah yang memiliki ratusan peserta didik dan puluhan tenaga pendidik. Keragaman karakter anak justru ia jadikan kekuatan untuk membangun pembelajaran yang lebih hidup.

"Saya lihat guru saya, yang tadinya tidak optimal jadi bendahara, ternyata luar biasa saat diberi peran di bidang seni. Mereka seperti murid, perlu ditempatkan sesuai passion-nya," jelas Dian, menceritakan penerapan manajemen orkestrasi di sekolahnya.

Sebagai guru yang pernah mengajar di sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, Dian memiliki pengalaman berkesan yang hingga kini menginspirasinya. Seorang murid pindahan dengan kemampuan akademik di bawah rata-rata kerap menjadi korban perundungan di sekolah lamanya. Dian melihat potensi lain dalam diri anak itu, yakni kemampuan memimpin.

"Saya beri kesempatan dia jadi ketua kelas. Meskipun secara akademik kurang, dia bisa mengoordinasikan teman-temannya," cerita Dian.

Hasilnya, orang tua murid itu bercerita bahwa anaknya kini begitu bersemangat pergi ke sekolah.

"Subuh sudah minta berangkat ke sekolah. Itu momen yang paling berkesan. Anak-anak ini tetap harus diberi tempat agar mereka bisa berkembang," ungkapnya.

Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa lingkungan yang mendukung adalah kunci seseorang untuk bertumbuh, termasuk perempuan.

"Kalau lingkungan mendukung, wanita juga akan bisa berkembang sesuai dengan passion-nya," tegasnya.

Di balik segala pencapaiannya, Dian tak pernah lupa pada sosok yang menjadi sumber inspirasinya, yakni ibunda tercinta.

"Dari doa beliau, saya bisa seperti saat ini," akunya.

Untuk para perempuan Indonesia, terutama yang sedang berjuang meniti karier, ia berpesan agar tetap menjaga harmoni kehidupan.

"Sehebat apa pun seorang perempuan di luar rumah, tetaplah pulang. Karena rumah dan keluarga adalah tempat ternyaman. Ingatlah, anak adalah cerminan ibunya," pungkasnya.

Kisah Dian adalah tentang orkestra kehidupan. Ia memainkan peran sebagai pemimpin, pendidik, istri, dan ibu dengan ritme yang selaras. Dia menjadi bukti bahwa ketika lingkungan memberi ruang, perempuan bisa terbang tinggi. Namun, ia juga menjadi pengingat bahwa sayap itu tak boleh lepas dari sarangnya, yaitu keluarga. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#Alat Musik #pns berprestasi #orang tua #Hari Perempuan Internasional #Kabupaten Kendal #SDN 2 Sukorejo #Program Pintar #fasilitator daerah #tanoto foundation