Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Tiga Tahun Berturut-turut, Tanggul Sungai Tuntang Jebol Lagi, 9000 KK Terimbas Banjir

Khafifah Arini Putri • Selasa, 17 Februari 2026 | 16:33 WIB
Penanganan darurat tanggul jebol di Grobogan dengan sandbag.
Penanganan darurat tanggul jebol di Grobogan dengan sandbag.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tiga tahun berturut-turut, tanggul Sungai Tuntang kembali jebol. Kejadian ini seolah menjadi pengulangan tahunan tanpa solusi tuntas.

Catatan tersebut menunjukkan persoalan tanggul di Kabupaten Grobogan bukan lagi insiden sesaat, melainkan masalah lama yang terus berulang.

Pada 2024 tanggul jebol terjadi di bulan Februari, tahun 2025 kembali rusak pada Mei, dan tahun 2026 tanggul kembali jebol pada Senin (16/2) sekitar pukul 02.00 dini hari.

Kabid Penanganan Darurat BPBD Jawa Tengah Muhamad Chomsul menyebut, jebolnya tanggul Sungai Tuntang tahun ini menjadi yang ketiga kalinya dalam tiga tahun berturut-turut.

“Betul, hampir tiap tahun memang kejadian (tanggul Sungai Tuntang jebol),” kata Chomsul saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (17/2).

Ironisnya, meski kejadian serupa sudah terjadi berkali-kali, kondisi tanggul di wilayah rawan banjir masih belum banyak berubah.

Chomsul mengaku Kabupaten Grobogan memang menjadi daerah dengan risiko tinggi saat musim hujan.

Sebab dilintasi banyak sungai besar. Selain itu tanggul juga didominasi oleh gundukan tanah yang menyebabkan rawan jebol.

“Grobogan itu yang paling berisiko kalau musim penghujan, memang tanggul-tanggul kritis di sana, karena banyak dilalui sungai-sungai besar ada Sungai Lusi, Tuntang, Wulan. Tanggulnya umumnya tanggul tanah,” jelasnya.

Menariknya, tahun ini jebolnya tanggul Sungai Tuntang bersamaan juga dengan tanggul lain. Total ada tujuh titik tanggul jebol di Grobogan pada 15-16 Februari 2026.

"Dua hari, 15-16 (Februari). Memang tidak sekaligus dari tujuh tanggul yang jebol," ujar Chomsul.

Pihaknya merinci tujuh titik tersebut, diantaranya satu titik tanggul jebol Sungai Cabean di Desa Tajemsari, Kecamatan Tegowanu.

Kemudian tiga titik tanggul jebol Sungai Jajar Baru di Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung. Lalu satu titik tanggul jebol Sungai Jratun di Desa Kebonagung, Kecamatan Tegowanu.

Selanjutnya dua titik tanggul jebol Sungai Tuntang di Desa Tinanding, Kecamatan Godong.

Selain itu, perlintasan rel kereta api di Desa Papanrejo, Kecamatan Gubug, juga sempat tergenang. Berdasarkan data BPBD Jateng banjir berdampak luas.

Menurutnya ada 9000 KK yang terimbas banjir dari 42 desa dan 10 Kecamatan. Kemudian dua rumah rusak berat, serta 1.850 hektar lahan pertanian terendam air.

Warga sempat mengungsi ke masjid dan lokasi aman. Namun setelah air berangsur surut, mereka kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur sisa banjir.

“Sekarang (warga) sudah kembali. Tidak ada pengungsian, tapi logistik tetap dipenuhi pemerintah door to door,” kata Chomsul.

Lebih lanjut Chomsul menyampaikan saat ini proses penanganan tanggul jebol di Sungai Tuntang terus berlanjut.

Kendati demikian perbaikan masih dilakukan secara darurat. Seperti pemasangan karung pasir.

"Saat ini sudah dilakukan penanganan-penanganan darurat dulu dengan sandbag, kemudian peninggian peninggian tanggul dari tim gabungan, Dinas PU, TNI, Polri, dan relawan. Jadi untuk saat ini beberapa tanggul yang jebol memang sudah sudah teratasi," tegasnya.

Chomsul menyebut penguatan tanggul sebenarnya masuk dalam rencana penanganan solusi jangka panjang.

Namun mitigasi struktural seperti normalisasi sungai dan penguatan tanggul berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana.

"Kami memahami keterbatasan penganggaran sehingga mungkin skala prioritas yang diterapkan. Yang bisa kami lakukan adalah penguatan pemahaman masyarakat agar selalu siap siaga menghadapi potensi banjir," pungkasnya.

Terpisah Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Jateng Dinarjati Nugroho Saputro menegaskan, banjir Grobogan kali ini dampaknya lebih luas. Sebab luapan tidak hanya berasal dari Sungai Tuntang. Tapi juga akibat jebolnya tanggul lain.

“Permasalahannya bukan hanya Sungai Tuntang saja, tapi juga Cabean, Jajar Baru, dan Jratun. Semuanya ada titik tanggul yang jebol,” ujarnya.

Pihaknya menyebut sepanjang 2026 ada sekitar 53 bencana di Jateng. Mayoritas ialah banjir.

"Jawa Tengah sendiri ini masih didominasi oleh kejadian banjir sampai dengan 17 Februari jam 07.00 tadi, banjir ada 22 kejadian bencana, tanah longsor ada 11 kejadian bencana, dan cuaca ekstrem ini ada 20 kejadian bencana, yang kami catatkan di pusdalop kami, 1 Januari - 17 Februari 2026," ungkapnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#BPBD Jawa Tengah #kabupaten grobogan #Sungai Tuntang #tanggul sungai Tuntang #TANGGUL JEBOL