Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Di Balik Topeng Kesempurnaan: Memahami Luka dan Manipulasi dalam Jeratan NPD

Magang Radar Semarang • Minggu, 1 Februari 2026 | 10:10 WIB
Raditya Dika dan Dr. Elvin Gunawan  sedang berbincang tentang Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Raditya Dika dan Dr. Elvin Gunawan sedang berbincang tentang Narcissistic Personality Disorder (NPD).

RADARSEMARANG.ID - Dalam sebuah percakapan podcast Raditya Dika membersamai pakar psikiatri Dr. Elvin Gunawan, mengingatkan kita bahwa di balik perilaku dominan seseorang yang mengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD) seringkali menyimpan luka masa kecil yang tak kunjung sembuh dan rasa tidak aman (insecurity) yang akut.

Namun, beliau juga menegaskan bahwa kebaikan hati seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan diri hancur dalam manipulasi. 

Cinta yang Menjadi Penjara

Sering kali, dalam sebuah hubungan yang bermasalah tidak dimulai dengan kekerasan, melainkan dengan "banjir kasih sayang" atau love bombing.

Dr. Elvin Gunawan menjelaskan bahwa ini merupakan cara halus namun mematikan untuk membuat korban menjadi ketergantungan.

"Tahap awal itu love bombing. Kita harus waspada. Orang bilang, 'Wah gila ya, lu kayak dapet CEO yang menyamar jadi OB,' diperlakukannya dengan sangat luar biasa," ujar Dr. Elvin. Namun, kehangatan itu perlahan berubah menjadi isolasi.

"Kalimatnya sederhana: 'Emang aku aja nggak cukup buat kamu? Nggak cukup aku menjadi sumber bahagiamu?'"

Akar yang Rapuh: Antara Anak Emas dan Pengabaian

Dr. Elvin Gunawan mengajak kita melihat bahwa perilaku narsistik tidak lahir begitu saja.

Ia adalah produk dari pola asuh masa lalu yang dulunya terlalu dipuja hingga merasa berhak atas segalanya, dan ada pula jiwa yang dulunya sangat diabaikan hingga merasa harus membuat tameng dengan mengontrol dirinya untuk melindungi diri sendiri. 

"Basic-nya sebenarnya insecurity. Dia tidak merasa percaya diri dengan apa yang dia miliki sekarang, makanya dia menunjukkan itu dengan bentuk power yang controlling orang lain," ungkapnya.

Antara Kebaikan dan Ketulusan yang "Bocor"

Salah satu poin paling menyentuh dalam diskusi ini adalah bagaimana orang-orang baik sering kali terjebak paling lama.

Baca Juga: 10 Oktober Jadi Hari Kesehatan Mental Sedunia, Saatnya Peduli Diri dan Sesama

Mereka yang memiliki empati tinggi cenderung memberikan toleransi tanpa batas, berharap pasangannya akan berubah, hingga akhirnya mereka sendiri yang kehilangan jati diri.

Dr. Elvin Gunawan memberikan peringatan keras namun penuh kasih kepada mereka yang sedang bertahan dalam hubungan yang menyiksa mental.

"Meskipun hatimu seluas samudra, enggak usah diuji coba kedalamannya. Karena nanti ketika sudah kayak gitu dia mikir, 'Oh mungkin akunya yang kurang baik.' Itu antara bodoh sama baik beda setipis kertas." ujarnya. 

Baca Juga: Waspadai Siomay Ikan Sapu-sapu, Kenali Ciri-ciri dan Bahayanya Bagi Kesehatan 

Pulih dan Menata Batas

Mengakhiri perbincangan, Dr. Elvin Gunawan menekankan bahwa mencari bantuan profesional bukan berarti seseorang lemah atau "gila", melainkan langkah berani untuk menyelamatkan diri sendiri.

Beliau menganalogikan kehidupan seperti sebuah rumah yang memerlukan pagar agar penghuninya merasa aman. 

"Orang yang selamat hidupnya adalah orang yang enggak terlalu banyak mikirin orang lain ketika dia sudah bisa bikin batasan. Kalau rumahnya nggak ada pagar, mulai dari maling sampai binatang bisa masuk semua. Pilahlah, karena nggak semua orang harus jadi teman." ujar Dr. Elvin Gunawan.

Kisah ini menjadi pengingat untuk kita semua bahwa mencintai orang lain tidak boleh dilakukan dengan cara mengorbankan kewarasan diri sendiri. Menjadi baik itu perlu, tetapi menjadi bijak dengan menetapkan batasan adalah bentuk tertinggi mencintai diri sendiri. (mg8)

Baca Juga: Jaga Mental Napi, Lapas Perempuan Semarang Hadirkan Buah Hati

 

Editor : Baskoro Septiadi
#kesehatan mental #stress #raditya dika #Insecure #Love Bombing