RADARSEMARANG.ID – Kepolisian Metropolitan Tokyo menangkap Hiroaki Obata (40), ketua kelompok pencari bakat ilegal terbesar di Jepang bernama Natural, atas dugaan pelanggaran Ordonansi Pemberantasan Kejahatan Terorganisasi Metropolitan Tokyo.
Penangkapan dilakukan pada 26 Januari 2025 di Amami Oshima, Prefektur Kagoshima, wilayah yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer dari Tokyo.
Obata, yang juga dikenal dengan nama alias “Kiyama”, telah masuk dalam daftar buronan sejak November 2024 setelah keberadaannya tidak diketahui.
Kepolisian sebelumnya telah mengantongi surat perintah penangkapan sejak Januari 2025.
Penangkapannya terjadi lima hari setelah kepolisian mengumumkan status buronan secara terbuka kepada publik pada 21 Januari.
Penangkapan bermula dari laporan anonim yang diterima polisi pada 23 Januari, yang menyebutkan adanya seseorang dengan ciri mirip buronan di wilayah Amami.
Menindaklanjuti informasi tersebut, hampir 10 penyelidik dikerahkan ke lokasi.
Pada 26 Januari, Obata ditemukan di kawasan Nazeminatocho, Kota Amami, dan langsung diamankan.
Saat ditangkap, rambutnya tampak lebih panjang dibandingkan foto buronan, dan ia sempat menunjukkan tanda-tanda hendak melarikan diri.
Menurut Divisi Pengendalian Kejahatan Terorganisir, Obata diduga bersekongkol dengan pihak lain untuk membayar uang perlindungan sebesar 600.000 yen secara tunai kepada anggota senior organisasi kriminal Yamaguchi-gumi pada Juli 2011.
Uang tersebut diberikan agar kelompok Natural dapat dengan leluasa merekrut perempuan di kawasan Udagawacho, Distrik Shibuya, Tokyo, untuk diperkenalkan ke tempat hiburan dewasa secara ilegal.
Kelompok Natural dikenal sebagai “kelompok kriminal anonim dan bergerak”, dengan sedikitnya 1.500 anggota aktif di kawasan hiburan malam di seluruh Jepang.
Pada tahun 2010, kelompok ini diperkirakan meraup keuntungan sekitar 4,45 miliar yen dari aktivitas perekrutan perempuan. Natural juga dikenal menerapkan sanksi internal bagi anggotanya yang melanggar aturan kelompok.
Baca Juga: 23 Anggota Marinir Tertimbun Longsor Saat Sedang Latihan di Cisarua
Tak hanya itu, Natural disebut mengembangkan aplikasi ponsel pintar dengan biaya puluhan juta yen, menyebut aparat kepolisian sebagai “virus”, serta menyebarkan foto wajah para penyelidik.
Investigasi terhadap kelompok ini dimulai sejak 2020 setelah terjadi konflik dengan kelompok yang berafiliasi dengan organisasi kriminal Sumiyoshi-kai di kawasan Kabukicho.
Dalam proses penyelidikan, Kepolisian Metropolitan Tokyo bahkan mencetak sekitar 10.000 poster buronan untuk meminta bantuan informasi dari masyarakat.
Kasus ini juga menyeret aparat kepolisian, di mana pada 2013 seorang inspektur polisi ditangkap dan diberhentikan karena terbukti membocorkan informasi penyelidikan kepada kelompok Natural.
Hingga kini, penyelidikan terhadap Hiroaki Obata masih terus berlanjut. Saat ditangkap, Obata hanya menyatakan singkat, “Saya tidak akan mengatakan apa pun tentang masalah ini sekarang.”
Editor : Baskoro Septiadi