Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Galih Suci Pratama, Pelopor Komunitas Belajar Tugu Muda yang Menjangkau Ribuan Guru di Indonesia

Khafifah Arini Putri • Selasa, 13 Januari 2026 | 18:58 WIB
Kepala SDN Sadeng 03 Semarang Galih Suci Pratama, S.Pd., M.Pd., sedang memberikan pelajaran pada peserta didik.
Kepala SDN Sadeng 03 Semarang Galih Suci Pratama, S.Pd., M.Pd., sedang memberikan pelajaran pada peserta didik.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pagi itu, suasana SD Negeri Sadeng 03, Kecamatan Gunungpati, tampak hangat dan hidup. Di salah satu ruang kelas, tampak seseorang menyapa satu per satu murid yang tengah belajar. Senyum ramahnya menyertai sapaan sederhana, menanyakan kabar, memastikan anak-anak nyaman mengikuti kegiatan belajar.

Dialah, Kepala SDN Sadeng 03 Semarang, Galih Suci Pratama, S.Pd., M.Pd., baginya interaksi seperti itu adalah bagian terpenting dari kepemimpinan yang hadir, dan dekat dengan anak-anak.

Galih sapaan akrabnya tak kenal lelah mendedikasikan dirinya dalam pendidikan. Ia ingin bermanfaat bagi banyak orang. Kiprahnya pun tak berhenti di pagar sekolah. Ia dikenal luas sebagai penggerak Komunitas Belajar (Kombel) Tugu Muda Semarang, sebuah ruang belajar kolaboratif yang telah menjangkau ribuan guru tidak hanya dari Kota Semarang, namun juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Lahir di Banjarnegara tahun 1991 silam, Galih menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kampung halamannya. Ia lulus S1 PGSD Universitas Negeri Semarang (Unnes), melanjutkan S2 Pendidikan Dasar, dan kini tengah menyelesaikan studi doktoral (S3) Pendidikan Dasar di Unnes. Kariernya sebagai guru dimulai di SDN Wonosari 03 Ngaliyan pada 2014, lalu berlanjut ke SDN Sekaran 02 Gunungpati, hingga dipercaya menjadi kepala sekolah sejak 2022.

Pengakuan atas dedikasinya datang dari berbagai arah. Terbaru, Galih meraih Apresiasi GTK Transformatif 2025 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendidasmen) melalui BBGTK Jawa Tengah, kategori Pelopor Komunitas Belajar Kepala Sekolah. Namun, di balik penghargaan itu, ada perjalanan panjang yang berangkat dari kegelisahan.

Guru berusia 34 tahun ini pun mengaku tahun 2020 menjadi titik baliknya. Saat itu, pandemi Covid-19 memaksa pembelajaran beralih ke daring. Kepekaannya pun diuji, Galih melihat banyak guru kesulitan beradaptasi. Sebab itu, bersama rekan-rekannya, ia menginisiasi pelatihan daring bertajuk Rumah Pembelajaran.

"Dari rumah pembelajaran itu guru-guru dilatih menggunakan berbagai platform digital, mulai Google Classroom, Zoom, hingga pembuatan materi interaktif," kata Galih saat ditemui di SDN Sadeng 03.

Dari sana, lahir komunitas Pengembang Konten YouTube Kota Semarang (PKY). Tak kurang dari 800 guru dilatih membuat video pembelajaran. Gerakan itu mengantarkan Galih dan timnya meraih penghargaan Pejuang Pendidikan Tanpa Pamrih pada 2020.

Dari pengalaman itu kemudian bermuara pada lahirnya Komunitas Belajar Tugu Muda. Komunitas ini mulai berjalan intensif sejak 2024. Galih berujar Kombel Tugu Muda ini merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang. Tujuannya sederhana namun berdampak besar, yakni menyediakan ruang berbagi praktik baik bagi guru, tanpa sekat jenjang dan wilayah.

“Kami ingin guru-guru yang punya praktik baik punya ruang untuk berbagi, karena tidak semua orang nyaman berbagi di lomba atau forum formal,” imbuhnya.

Formatnya berupa webinar rutin melalui Zoom. Tahun 2024 digelar seminggu sekali, lalu meningkat menjadi dua kali seminggu pada 2025, setiap Senin dan Kamis. Nantinya guru yang menjadi narasumber akan menularkan praktik baiknya kepada peserta. Sehingga, mereka bisa mendapat materi baru dan menerapkan pembelajaran di wilayah masing-masing.

Hingga kini, Kombel Tugu Muda telah menyelenggarakan lebih dari 108 seri webinar, dengan total peserta lebih dari 43 ribu orang dan menjangkau 11 provinsi serta sekitar 60 kabupaten/kota.

"Pesertanya lintas jenjang, ada PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga SMK. Materinya juga beragam mulai pembelajaran diferensiasi, literasi dan numerasi, pemanfaatan TIK, P5, hingga kebijakan pendidikan terbaru," bebernya.

Yang membuat Kombel Tugu Muda istimewa, seluruh kegiatan ini tidak berbayar. Narasumber hadir atas dasar semangat berbagi. Sejumlah tokoh nasional pun pernah bergabung, seperti Dirjen GTK, Direktur GTK Dikdas, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, hingga mitra lintas sektor.

Lebih lanjut pada 2025, Kombel Tugu Muda mengembangkan empat klaster narasumber. Salah satunya berasal dari fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation, yang selama ini aktif menguatkan kapasitas guru dalam pembelajaran bermakna.

"Narasumber ada yang dari Tanoto Foundation, mereka adalah fasilitator daerah yang juga pendidik di Kota Semarang. Mereka juga terlibat aktif di Kombel Tugu Muda," akunya.

Selain itu, ada klaster guru berprestasi nasional dan daerah, penerima beasiswa mikrokredensial, serta komunitas pemantik TIK Kemdikbud. Kolaborasi ini membuat materi semakin kaya dan relevan dengan kebutuhan guru di lapangan.

“Ini mungkin tidak menarik secara ekonomi. Tidak ada honorarium yang diberikan. Tapi kami bergerak dengan nilai gotong royong, amal jariyah, dan kepedulian sosial,” kata Galih.

Menurut Galih, Kombel Tugu Muda ikut berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan. Rapor Pendidikan Kota Semarang naik dari kategori tuntas pratama pada 2022 menjadi tuntas madya pada 2024–2025, dengan skor di atas rata-rata nasional.

Hasil refleksi internal juga menunjukkan 92 persen peserta menyatakan kegiatan Kombel Tugu Muda bermanfaat, sisanya menilai cukup bermanfaat.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala sekolah, mahasiswa S3, fasilitator, hingga juri nasional GTK, Galih tetap memilih berjalan. Di balik segudang aktivitasnya, ada filosofi sederhana yang dipegang Galih, "Mending jadi kepala semut daripada buntut gajah.” Prinsip inilah yang mendorongnya, alumni PGSD UNNES ini, untuk selalu berkarya dan memimpin di mana pun ia berada.

"Setiap karya punya jodohnya masing-masing. Tugas kita hanya berbuat baik, menjadi bagian dari solusi, dan menyerahkan hasilnya pada Yang Maha Kuasa,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#tugu muda semarang #komunitas belajar #KOTA SEMARANG #pendidikan dasar #Program Pintar #tanoto foundation