RADARSEMARANG.ID, Semarang - Penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 11 Semarang untuk sementara dihentikan.
Langkah ini diambil sembari menunggu hasil lengkap uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Sebelumnya 75 siswa SMKN 11 Semarang diduga keracunan MBG pada Kamis (8/1) lalu.
Mereka mengalami mual dan muntah hingga ada empat siswa yang terpaksa harus rawat inap di rumah sakit.
Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Jawa Tengah, Haris Wahyudi, memastikan kondisi seluruh siswa yang terdampak kini telah pulih.
Menurutnya tak ada tambahan siswa ataupun orang tua yang melapor.
Total terdapat 75 siswa yang mengalami keluhan mual dan muntah setelah mengonsumsi MBG.
“Ohh tidak (ada tambahan), ini tadi sudah konfirmasi ke orang tua yang 75 itu, sekarang sudah sehat semua. Alhamdulillah sudah baikan, yang dirawat juga sudah pulang,” kata Haris saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (11/1).
Ia juga menjelaskan empat siswa yang sebelumnya di rawat di rumah sakit sudah pulang semua. Kondisinya pun mmebaik.
"Sudah pulang yang kemarin kena gejala itu dari kemarin (sabtu, 10 Januari 2025)," imbuhnya.
Sebagai langkah antisipasi, penyaluran MBG dihentikan sementara sejak Jumat (10/1) lalu.
Pihaknya mengaku belum mengetahui hingga kapan program MBG akan dihentikan distribusinya ke SMK N 11 Semarang.
Baca Juga: Live Streaming Indonesian Idol Season 14, Siapakah yang Tereliminasi?
Hingga kini pihaknya masih menunggu hasil laboratorium untuk menguji kandungan bahan berbahaya dalam MBG.
“Iya betul kemarin Jumat diberhentikan sementara nggih, besuk (Senin 12 januari 2025) kita juga belum mulai. Ini masih nunggu hasil cek lab-nya ya dari BPOM maupun dari DKK Dinas Kesehatan Kota gitu. Nunggu hasil itu dulu,” jelas Haris.
Haris menjelaskan uji laboratorium dari BPOM terkait kandungan boraks sudah disampaikan ke sekolah. Hasilnya nihil atau negatif.
Namun untuk pemeriksaan uji bakteri dari Dinas Kesehatan Kota Semarang masih ditunggu.
"Dinas Kesehatan Kota itu tentang tentang uji bakteri, yang BPOM itu tentang kandungan boraks seperti itu. Kemarin disampaikan hasilnya yang sampling untuk kandungan boraksnya negatif, tapi untuk uji bakterinya masih menunggu dari DKK,” tegasnya.
Ia menambahkan program MBG ini akan kembali dijalankan setelah ada evaluasi dan dinyatakan aman.
“Kemudian nanti kalau sudah dievaluasi, kalau dinyatakan nanti bisa dilaksanakan lagi (MBG-nya) ya kita laksanakan gitu. Tapi sementara belum besok pun juga belum belum dimulai gitu,” lanjut Haris.
Sambil menunggu kepastian hasil laboratorium, pihak sekolah bersama dinas terkait juga melakukan sosialisasi kepada siswa agar tidak trauma terhadap program MBG.
Edukasi dilakukan sejak Jumat dengan melibatkan Dinas Kesehatan, DKK, SPPG, dan BGN.
Sosialisasi tersebut berfokus pada edukasi makanan sehat dan layak konsumsi, sekaligus membekali siswa agar lebih waspada.
Selain itu, siswa juga diajarkan mengenali ciri-ciri makanan yang tidak layak konsumsi.
"Intinya, edukasi ke anak-anak untuk makanan yang sehat, makanan yang layak konsumsi," ujarnya.
Pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pudak Payung 04 yang menyuplai MBG ke SMKN 11 Semarang. Menurutnya pemeriksaan SPPG itu dilakukan langsung oleh BGN.
"Kita selalu koordinasi dengan pihak SPPG. Termasuk untuk cek lab-nya juga dari SPPG nggih dari BGN langsung, dari tim pusat," pungkasnya.
Terpisah Wakil Ketua Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Jawa Tengah, Hanung Triyono, memastikan penanganan dugaan keracunan MBG di SMKN 11 Semarang telah selesai. Seluruh siswa yang sempat mengalami keluhan sudah dipulangkan.
Terkait dugaan penyebab, Hanung menyampaikan informasi sementara mengarah pada lauk ayam rebus yang disajikan dalam menu MBG hari itu.
"Kalau menurut informasi ini adalah ayamya, ayam yang direbus itu. Tapi sudah selesai. Jadi sudah sudah diselesaikan dan juga mungkin SOP-nya harus di lebih teliti," ungkapnya.
Hanung menegaskan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai MBG di SMKN 11 Semarang sebenarnya telah mengantongi standar kelayakan dan sertifikasi, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Sudah sudah sudah semua sudah cuma ya memang itulah. Mudah-mudahan tidak ada terjadi lagi,” katanya.
Kendati demikian, pihaknya tetap mengingatkan kepemilikan standar dan sertifikasi tidak boleh membuat lengah. Menurutnya, faktor waktu pengolahan hingga penyajian makanan tetap harus diawasi ketat.
“Ada nggih (SLHS), ada hal yang mungkin waktunya (makan) terlalu lama dan lain-lain,” ujarnya.
Pihaknya mengaku terus melakukan evaluasi kepada seluruh SPPG agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Hanung menekankan komitmen untuk mencapai zero accident (nol kecelakaan) dalam program MBG, termasuk tidak adanya kelalaian.
"Kalau pemerintah kan zero ya yang harus kita lakukan, dengan begitu programnya zero accident," tegasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi